Selasa, 1 Pebruari 2022

Kelembagaan di Bisnis Domba & Kambing

Kelembagaan di Bisnis Domba & Kambing

Foto: 


Menjadi sarana untuk peningkatan kapasitas, pemberdayaan, dan pengembangan usaha guna mencapai kesejahteraan peternak
 
 
Kemunculan tagline “Korporasi Peternakan Rakyat” yang disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat Jambore Peternak Nasional di Buperta Cibubur Jakarta Timur pada 2017 menjadi acuan bagi para pelaku di komoditas domba dan kambing dalam menjalankan bisnisnya. Berbagai bentuk penguatan dan pengembangan kelembagaan dilakukan guna mewujudkan korporasi berbasis peternakan rakyat.
 
 
Seperti yang dilakukan PT Agro Investama. Sejak 2018 menjalankan program kemitraan yang awalnya terbuka bagi para peternak yang mau belajar budidaya domba dan kambing. Dalam perjalanannya, kemitraan ini juga menyasar para santri dan pesantren.
 
 
Menurut Business Development PT Agro Investama, Nuryanto, di bisnis domba dan kambing, santri dan pesantren masuk dalam pangsa pasar khususnya segmentasi ibadah yaitu akikah yang cepat pemasarannya. Jika hanya mengandalkan konsumsi harian masih terkendala preferensi karena tidak semua orang Indonesia makan daging domba dan kambing apalagi jika dikaitkan dengan masalah atau isu kolesterol dan sebagainya. 
 
 
Dengan jumlah penduduk muslim Indonesia terbesar di dunia otomatis menjadi pasar yang paling efektif untuk domba dan kambing. “Akikah dan kurban bagi umat muslim adalah ibadah sehingga komoditas domba dan kambing ini lah yang bisa memenuhi upaya ketahanan ibadah tersebut,” ujarnya kepada TROBOS Livestock. 
 
 
Pesantren digandeng, lanjut Nuryanto, karena memiliki sarana dan SDM (Sumber Daya Manusia) yang luar biasa yaitu santri. Selain karena ada ketokohan di pesantren, lingkungan masyarakat di sekitarnya bisa diberdayakan. “Secara hilirisasi, tokoh agama bisa membantu mensiarkan atau memasarkan hasil produksi yang dikelola para santri sehingga kegiatan ekonomi, kewirausahaan, pembelajaran beternak di pesantren bisa berjalan,” jelasnya.
 
 
Ia menambahkan, melalui kemitraan ini bisa mendorong peternak untuk naik kelas. Juga menarik minat perbankan untuk memberikan pembiayaan di bisnis komoditas ini. Pada awal program kemitraan ini perbankan mengucurkan KUR (Kredit Usaha Rakyat) mikro dengan plafon sebesar Rp 25 juta. “Dengan konsep klasterisasi dan sistem keamanan produk yang dikembangkan, perbankan pun tertarik untuk menyalurkan pembiayaannya,” ujarnya. 
 
 
Nuryanto menyatakan, ada sekitar 30 % dari kelompok yang menjadi mitra merupakan pesantren, santri, atau masyarakat yang ikut nyantri di pesantren. Mitra tersebar seperti di Cirebon, Indramayu, Sukabumi, Garut, Tasikmalaya, dan Bandung Barat. “Saat ini ada kelompok yang masih berjalan sebagai mitra dan adapula yang dudah mandiri,” ungkapnya. 
 
 
Dalam program kemitraan yang dijalankan Agro Investama selama 2018 – 2020, penyaluran program inklusi keuangan atau perputaran modal dari kegiatan klaster domba selama rentang waktu 3 tahun terakhir tersebut mencapai Rp 18,5 miliar atau rata-rata Rp 6,1 miliar per tahun. Adapun jumlah domba yang telah didistribusikan selama kurun waktu tersebut yaitu 15.187 ekor terdiri dari program penggemukan 13.579 ekor dan program pembiakan 1.608 ekor. “Pada rentang waktu tersebut, penerima manfaat program ini sebanyak 123 orang dengan sebaran wilayah yang telah melaksanakan kegiatan klaster berada di 10 wilayah di Jawa Barat dan pengembangan duplikasi di 4 provinsi,” urai Nuryanto.
 
 
Penugasan HPDKI
Kemitraan yang dijalankan Agro Investama sebenarnya merupakan penugasan dari HPDKI (Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia) untuk membuat model bisnis dan pelatihan dari program klasterisasi domba dan kambing ini karena akan berinteraksi dengan perbankan. Mengingat HPDKI bukan organisasi yang bisa melakukan kegiatan usaha. “Upaya ini untuk menterjemahkan korporasi peternakan rakyat yang digagas Presiden Jokowi,” ucap Nuryanto.
 
 
Melalui program kemitraan yang dilakukan Agro Investama dengan menggandeng pesantren ini diharapkan peternak bisa lebih memahami sistem budidaya domba dan kambing sehingga mampu meningkatkan skala usahanya. “Peternak diharapkan punya kemampuan beternak yang baik dan bisa menjalankan usahanya secara terintegrasi dengan lahan pertanian yang dimiliki agar usahanya berkesinambungan,” katanya.
 
 
 Selain itu, lanjut Nuryanto, upaya menggandeng pesantren sebagai salah satu cara pemberdayaan sekaligus penguatan kelembagaan melalui komoditas domba dan kambing. Sehingga melalui pesantren tidak hanya bisa belajar agama tapi juga bisa menggerakan ekonomi dan meningkatkan taraf hidup masyarakat.
 
 
Gandeng Kelompok Peternak
Pemberdayaan peternak juga dilakukan oleh lembaga filantropi. Melalui komoditas domba dan kambing LPPM (Lembaga Pemberdayaan Peternak Mustahik) Baznas Provinsi Jawa Barat memberikan perhatian khusus terhadap pengentasan kemiskinan dan pengembangan pedesaan.
 
 
Kepala LPPM (Lembaga Pemberdayaan Peternak Mustahik) Baznas Provinsi Jawa Barat, Widiono mengungkapkan, pihaknya membentuk lembaga khusus untuk memberdayakan peternak mustahik dalam rangka peningkatan ekonomi melalui pendayagunaan zakat. Optimalisasi pendayagunaan zakat ini untuk kesejahteraan peternak; meningkatkan dan memperkuat mental, spiritual, kompetensi dan kelembagaan peternak binaan; serta membentuk sentra peternakan dan membangun jaringan peternakan dari hulu sampai hilir. “Kami ingin secara aktif dalam pembangunan sektor peternakan dengan peningkatan produktivitas dan kompetensi peternak yang berdaya saing tinggi untuk mewujudkan ekonomi yang sejahtera,” terangnya.
 
 
Melalui program Balai Ternak Baznas, pola-pola lama dan manajemen yang masih konvensional diubah agar peternak di desa lebih berdaya saing dan maju, serta skala usaha yang meningkat mengarah pada corporate farming. “Dengan usaha peternak mencapai skala ekonomi maka diharapkan pendapatannya mencapai standar minimal,” ujarnya.
 
 
Sebelum menjalankan program ini, peternak mengikuti kegiatan inkubasi pra usaha dengan materi tentang peternakan dan spiritual. Setelah itu, diadakan pendampingan lapangan yang cukup intensif sekitar 2 tahun terkait pembangunan sosial di pedesaan, laporan evaluasi produksi, kegiatan sekolah virtual, manajemen usaha teknologi tepat guna, manajemen pemasaran, manajemen kelembagaan atau advokasi dan sebagainya. “Kami bantu dan intervensi supaya peternak memahami agar bisa menjalankan manajemen usaha peternakan yang profesional,” ucapnya.
 
 
Adapun intervensi yang dilakukan di Balai Ternak Baznas mencakup permodalan, produksi, dan pasar. Untuk modal peternak dibantu bibit dan sapronak (sarana produksi ternak) lainnya. Untuk produksi, peternak diarahkan membentuk pusat pembiakan selain menjalankan usaha penggemukan, pengolahan pakan dan limbah. Juga diadvokasi ke pemerintah setempat untuk diberikan lahan yang bisa digunakan untuk menanam hijauan. “Untuk pasar, kami bantu advokasi untuk pasar sendiri khususnya pada momentum akikah dan idul kurban karena kami menampung hasil produksi dari peternak binaan,” jelasnya. 
 
 
Pada saat tahap kemandirian, kelompok peternak diarahkan menjadi lembaga atau badan usaha seperti koperasi atau BUMD (Badan Usaha Milik Desa). “Pada intinya, peternak mustahik ini diarahkan untuk mewujudkan 3 kemandirian yaitu kemandirian ekonomi, kemandirian kelembagaan, serta kemandirian mental dan spiritual,” tegas Widiono.
 
 
Ketahanan Ibadah
Berangkat dari keresahan para pelaku usaha Akikah skala UKM (Usaha Kecil Menengah) yang tidak bisa naik kelas karena menjalankan usaha secara tradisional serta banyak sekali pelaku usaha akikah yang masih belum mengerti tentang syariahnya maka lahir Aspaqin (Asosiasi Pengusaha Aqiqah Indonesia) di 2015. “Dengan terbentuknya Aspaqin masalah yang ada dapat diselesaikan,” kilah Presiden Aspaqin, Fahmi Thalib. 
 
 
Keberadaan Aspaqin dirasakan sebagai sarana untuk membentuk jejaring sekaligus berbagi ilmu dan pengalaman khususnya antar anggota. “Tidak jarang kami melakukan kegiatan saling mengunjungi untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, atau saling memberikan masukan agar usaha yang dijalankan semakin besar,” ujarnya. 
 
 
Ia melanjutkan, melalui Aspaqin diharapkan standar bisnis anggota semakin mengacu pada SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia). Seperti dalam hal penyembelihan oleh juru sembelih halal termasuk dalam menyiapkan dapur yang bagus dengan manajemen standar dan lainnya diusahakan dilengkapi.
 
 
Adapun tantangan ke depan sebenarnya terkait masalah sulitnya suplai domba dan kambing bagi para pelaku usaha di perkotaan. Juga kebutuhan tempat untuk kandang dan rumah potong hewan di perkotaan yang agak sulit. Selain itu, tantangan ketika muncul pemain baru yang memiliki modal besar. “Kami berharap teman-teman di Aspaqin mau belajar sehingga bisnisnya bisa tumbuh walaupun dengan standar UKM tetapi naik kelas,” harapnya.
 
 
Fahmi optimis, bisnis anggota Aspaqin semakin berkembang mengingat akikah adalah bagian dari ibadah dan para pelaku usaha membantu memudahkan umat muslim yang mau beribadah sesuai syariat. “Bisnis ini bisa dibilang tidak mudah dimakan zaman. Selama umat muslim masih ada di muka bumi, masih ada kelahiran maka bisnis ini akan terus-menerus ada,” tegasnya.
 
 
Ia meminta pemerintah untuk campur tangan dalam menyelesaikan persoalan yang ada di bisnis domba dan kambing ini. Pemerintah jangan hanya membahas tentang ketahanan pangan tetapi juga membahas tentang ketahanan ibadah yakni bagaimana domba dan kambing ini terus-menerus ada di muka bumi Indonesia sehingga bukan cuma UKM yang ada di Aspaqin tetapi juga para peternak sebagai pelaku di sektor hulu bisa sama-sama berkembang.
 
 
Bisnis berjamaah juga dipandang penting sehingga muncul inisiasi membentuk koperasi di 2020 yang beranggotakan sekitar 400 anggota Aspaqin. “Melalui koperasi ini semangat gotong royong dari para anggota bisa diakomodir,” ujarnya. 
 
 
Apalagi di akikah ini bukan cuma bicara domba dan kambing tetapi juga tentang kebutuhan bumbu dapur, plastik, dan lainnya sehingga berharap ke depan koperasi bisa memfasilitasi dengan harga yang terjangkau. “Namun ketika koperasi ini berdiri dihajar Pandemi Covid-19 sehingga kegiatannya sementara waktu vakum karena anggota lebih memprioritaskan untuk menyelamatkan bisnisnya masing-masing,” kilah Fahmi. 
 
 
 
Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Livestock Edisi 269/Februari 2022
 
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain