Selasa, 1 Pebruari 2022

Tekanan Pandemi Dorong Inovasi

Tekanan Pandemi Dorong Inovasi

Foto: Istimewa


Berbagai terobosan dari hulu ke hilir dilakukan guna mengantisipasi dampak yang terjadi di bisnis domba dan kambing 
 
 
Pandemi Covid-19 telah mengubah tatanan kehidupan manusia dengan 4 perubahan yang sangat besar yang disebut The 4 Mega Shifts. Pertama, stay @home lifestyle yaitu gaya hidup baru tinggal di rumah dengan akivitas working – living – playing karena adanya aturan menjaga jarak. 
 
 
Kedua, bottom of the pyramid yaitu mengacu ke piramida Maslow, konsumen kini bergeser kebutuhannya dari “puncak piramida” yaitu aktualisasi diri dan esteem ke “dasar piramida” yaitu makan, kesehatan, dan keamanan jiwa raga. “Dampaknya bisa dilihat pada pembelian rumah tangga atas produk-produk peternakan. Orang makan makanan yang bergizi dengan minimal memperhatikan asupan proteinnya,” ungkap Ketua Umum HPDKI (Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia), Yudi Guntara Noor.
 
 
Ia menilai, pandemi telah membuat ibu rumah tangga lebih memilih untuk memasak di rumah. “Ibu-ibu takut pergi ke pasar becek dan lebih memilih ke toko daging yang bersih, halal, hygiene serta sangat peduli dengan protokol kesehatan. Juga layanan antar makanan berbasis daring ini pun meningkat selama pandemi,” katanya. 
 
 
Ketiga, go virtual. Dengan adanya Covid-19 konsumen menghindari kontak fisik manusia sehingga beralih menggunakan media virtual/digital. “Hampir 2 tahun ini kita cukup terbantu dengan media digital untuk bisa mengisi acara-acara berbagai kampus di Indonesia tanpa perlu pergi ke lokasi,” ucapnya. 
Keempat, empathic society. Banyaknya korban nyawa akibat Covid-19 melahirkan masyarakat baru yang penuh empati, welas asih, dan sarat solidaritas sosial.   
 
Perlu Strategi
Pandemi Covid-19 telah mengubah dinamika di industri peternakan tanah air tidak terkecuali di domba dan kambing. Padahal sebelum pandemi geliat bisnis ini terus berjalan seiring dengan tantangan yang ada.
 
 
Dosen Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Parjono mengatakan, sebelum pandemi, ketika pasar dan harga relatif stabil ini banyak muncul peternak baru khususnya di Yogyakarta. Banyak peternak muda yang bersemangat untuk menjalankan usaha peternakan domba dan kambing. “Munculnya banyak peternak baru ini membuat kesulitan pasokan bakalan. Harganya pun semakin mahal. Kondisi ini mendorong munculnya usaha pembiakan untuk memenuhi kebutuhan yang ada,” ujarnya.
 
 
Ketika awal pandemi, lanjut Parjono, tiba-tiba semua berubah, pasar terhenti karena horeka (hotel, restoran, katering), kegiatan, atau pesta dilarang diadakan. Imbasnya, angka penjualan menurun karena turunnya aktivitas horeka dan daya beli masyarakat serta stok domba dan kambing melimpah. Kecuali penjualan untuk kurban yang cenderung meningkat. Hal itu membuat peternak melakukan penyelarasan skala usaha sesuai dengan kebutuhan pasar. 
 
 
Namun, kelangkaan bakalan ini masih terjadi. Bahkan ada suplai bakalan untuk di Jogja ini harus ambil dari Sumatera Utara. “Kita bisa merasakan betapa sekarang ini bakalan mengalami kelangkaan,” sesalnya.
 
 
Parjono menyampaikan, perlu strategi dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini yaitu berupa penerapan protokol kesehatan baik itu di kandang, transportasi maupun di outlet. Kemudian perlu melakukan efisiensi produksi melalui restrukturisasi, rasionalisasi, maupun resizing sehingga sesuai dengan kebutuhan pasar yang ada. 
 
 
Selain itu, inovasi produk melalui pengolahan (menjadi produksi simpan beku). Selama ini peternak biasanya menjual dalam bentuk hidup sehingga jika menjual dalam bentuk olahan atau minimal dalam bentuk simpanan beku, produk bisa lebih awet. “Hal ini perlu diimbangi dengan inovasi pemasaran khususnya di media daring via media sosial dan marketplace supaya produk yang sudah dalam bentuk siap masak atau siap makan bisa menjangkau masyarakat secara lebih luas,” sarannya. 
 
 
Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Livestock Edisi 269/Februari 2022
 
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain