Senin, 7 Pebruari 2022

Perlu Mitigasi Negara Alternatif Pemasok Bakalan Sapi

Perlu Mitigasi Negara Alternatif Pemasok Bakalan Sapi

Foto: dok.istimewa


Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM).  Industri sapi potong nasional masih tergantung pasokan sapi bakalan dari Australia.Sejumlah pihak menyuarakan agar pemerintah mencari alternatif negara pemasok sapi bakalan alternatif karena industri perbibitan sapi potong negeri Kangguru itu sedang bermasalah.

 

Diutarakan Didiek Purwanto Ketua Dewan Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo) bahwa  Australia masih menjadi satu-satunya negara pemasok sapi bakalan untuk industri penggemukan sapi potong nasional. Sehingga  jika supply dari negara tersebut bermasalah, akan berdampak besar pada industri sapi potong dalam negeri.

 

Seperti yang telah terjadi di dua tahun terakhir, saat Australia memberlakukan  pembatasan ekspor sapi hidup ke negara tujuan ekspornya dengan alasan populasi sapi di Australia sedang mengalami penurunan akibat dampak kekeringan dan banjir 3 tahun lalu.

 

“Kondisi tersebut telah berdampak nyata dengan kenaikan harga sapi bakalan yang sangat tidak masuk akal lagi untuk dilakukan usaha feedlot (penggemukan sapi) di Indonesia,” jelasnya kepada TROBOS Livestock melalui telepon beberapa waktu lalu.

 

Lanjutnya, penurunan yang signifikan ekspor sapi hidup Australia terjadi di 2021 dimana di realisasi ekspor ke seluruh tujuan negara ekspor Australia hanya mencapa 771.931 ekor atau turun sebesar 26 %  dibandingkan realisasi ekspor pada 2020 sebasar 1.048.751 ekor.

 

Sedangkan realisai import Indonesia pada 2021 untuk sapi hidup dari Australia juga menngalami penuruan sebesar 12 % dibanding 2020. Pada 2020 realisasi impor sapi Indonesia sebanyak 463.877 dan di 2021 tercatat sejumlah 406.761 ekor.

 

Kebijakan Australia mengurangi ekspor tersebut berdampak dengan melejitnya harga sapi di Australia bahkan pada Februari tahun ini, bahwa harga diprediksi bisa menembus pada angka USD 4.5 per kg hidup sampai di pelabuhan di Indonesia. Dengan harga tersebut maka sampai ke kandang feedlotter bisa mencapai Rp. 66.000 – Rp 67.000 per kg hidup.

 

“Tentunya harga tersebut sudah tidak lagi ekonomis untuk program penggemukan dan dapat dipastikan feedloter tidak lagi mempu melakukan operasional bila dibandingkan dengan harga sapi hidup di lokal (Indonesia) saat ini,” ungkap Didiek.

 

Dia menyebutkan dampak yang perlu diantisipasi adalah ketersediaan dan gejolak harga daging sapi pada Hari Besar Keagamaan Nasional(HBKN) yang jatuh pada Mei 2022. Feedlotteryang tergabung di Gapuspindo memiliki stok 103.736ekor pada 25 Januari.  Diperkirakan pemasukan sapi bulan Februari sebesar 15.000 ekor.  Populasi sapi pada akhir Februari diperkirakan 118.726 ekor. Sehingga estimasi kemampuan jual Gapuspindo hanya 30.000 – 40.000 ekorpada periode Februari – Mei 2022.

Gapuspindo telah menyampaikan keberadaan sebenarnya  yang terjadi di feedlotter dengan agar sejak dini bisa dilakukan antisipasi. Diantaranya harus segera dilakukan mitigasi pemasukan sapi dari negara lain selain Australia, karena memang kondisi Australia sudah tidak memungkinkan bisa memenuhi kebutuhan sapi bakalan untuk Indonesia.

 

“Bahkan keadaan ini diperkirakan akan pulih 5 tahun kedepan. Negara yang saat ini punya potensi untuk bisa menjadi alternatif supply sapi bakalan adalah Meksiko dan Brazil,” tuturnya.

 

Masih menurut Didiek, mitigasi untuk sumber sapi bakalan dari negara lain menjadi hal yang harus dilakukan secepat mumgkin. Mitigasi tersebut diantaranya, mitigasi dari sisi regulasi, dari sisi pengamanan penyakit, mitigasi dari segi perdagangannya, mitigasi dari sisi jenis dan kemampuan supply-nya dan sebagainya. “Dan dalam proses mitigasi ini perlu melibatkan semua stakeholder yang luas dan komprehenship,” cetusnya.ed/ramdan

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain