Selasa, 1 Maret 2022

Mengelola Air untuk Peternakan Ayam

Mengelola Air untuk Peternakan Ayam

Foto: Dok. MIMBAR The Series - 23


Kualitas air sangat berpengaruh terhadap performa ayam, kebersihan/sanitasi, dan kinerja peralatan kandang
 
Manajemen budidaya ayam membutuhkan air untuk berbagai hal. Bagi ayam, air juga merupakan nutrisi yang harus selalu ada. Sayangnya, seringkali faktor air ini terabaikan dalam manajemen farm karena peternak merasa jumlah airnya cukup dan kondisi airnya 'bersih'. Padahal manajemen air dan air minum untuk ayam ternyata tidak sederhana. 
 
Bahkan air minum untuk ayam seringkali tidak mendapat perhatian khusus. Padahal air bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan dahaga ayam namun merupakan nutrisi yang utama, ayam tidak akan bertahan hidup tanpa air. Selain itu, sebenarnya air juga menjadi sumber nutrisi mineral mikro yang sangat murah tetapi dapat berefek besar jika tidak ditangani dengan baik. Kualitas air sangat beragam tergantung wilayah, musim, dan kondisi penampungannya. 
 
“Kontaminasi bakteri, mineral dan cemaran lain yang tinggi pada air berpengaruh terhadap kesehatan, efektivitas pengobatan dan bahkan pada performa ayam. Perlu penanganan yang konsisten pada air minum ini,” ungkap Daru Wiratomo, Production Lead AS Putra Perkasa Makmur pada seminar daring MIMBAR TROBOS Livestock The Series ke-23 yang digagas oleh Majalah TROBOS Livestock, disiapkan oleh TComm (TROBOS Communication) melalui aplikasi Zoom dan disiarkan secara langsung di kanal Youtube Agristream TV dan Facebook TROBOS Livestock pada (24/2). Selain itu MIMBAR yang mengangkat topik tentang “Kualitas Air Terhadap Performa Ayam” serta disponsori oleh PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk dan PT ASputra Perkasa Makmur (ASPM) ini menghadirkan pula Rahmad Susilowarno – peternak broiler (ayam pedaging) Berkah Putra Chicken, serta Salundik – Pakar Manajemen Unggas Fakultas Peternakan IPB University.
 
Rahmad Susilowarno menyatakan konsumsi air minum minimal sebesar 1,6 kali konsumsi pakan (secara metabolisme), meskipun realitanya antara 2 – 2,5 kali. Pada ayam sakit feed intake dapat dipastikan turun, tapi water intake bisa tetap atau justru malah naik, untuk mencegah dehidrasi. Kunci karakteristik air minum adalah taste/rasa, suitability/kelayakan dan usability/dapat dipergunakan (TSU). Taste terkait dengan water intake yang cukup, suitability sering dimaknai juga sebagai bebas kontaminan sehingga tidak mengganggu bahkan dapat menunjang kesehatan ayam dan sehat bagi produk unggas (telur dan karkas). “Terlebih sekarang banyak peternak yang memiliki rumah potong ayam (RPA), memasok pasar modern, hotel dan restoran sehingga dilakukanlah survei higiene sampai ke pengecekan air,” dia mengungkapkan. Sedangkan usability diantaranya tidak berpengaruh pada jalur tempat minum dan teknologi yang dipergunakan di kandang. 
 
“Selalu cek kualitas air minum untuk mengetahui kondisi di tempat anda. Tidak ada satu treatment pada air yang bekerja pada semua kondisi pH, conductibility, dan kesadahan. Sehingga sangat perlu diketahui kualitas air minum aktual untuk menentukan treatment mana yang terbaik,” kata dia. Teknologi pengelolaan air pun sudah sedemikian maju, seiring dengan perkembangan teknologi kandang modern atau closed house. 
 
Kualitas Air dan Perubahannya
Susilo sedikit berkisah, untuk menyediakan air di farm, dia berinvestasi cukup tinggi. “Demi menyediakan air yang berkualitas dan tidak mengganggu sumber air warga sekitar kami menggunakan sumur dalam hingga 100 meter dari permukaan tanah. Sebelum masuk kendang, air kami tampung pada penampung utama yang berukuran besar, untuk tampungan sekaligus pengendapan. Pada saat tertentu kebutuhan air meningkat, sehingga pernah terpaksa harus membeli air bersih karena sumber air di farm saat itu tidak mencukupi,” tuturnya. 
 
Salundik menguraikan, kualitas air di farm sangat berpengaruh, diantaranya terhadap performa unggas, kebersihan/sanitasi dan kinerja peralatan kandang. Adapun kualitas untuk air untuk peternakan dapat ditinjau dari segi kualitas fisik, kimia, dan biologis. “Secara fisik, air yang baik adalah tidak berbau, berwarna, dan tidak berasa. Kualitas fisik air dipengaruhi juga oleh komposisi kimia air, sedangkan komposisi kimia air bervariasi menurut wilayah geografis karena terkait sifat susunan geologis tanah setempat,” ujarnya. 
 
Daru Wiratomo menjelaskan kualitas fisik air dapat memberikan gambaran sekilas/gambaran umum kandungan air, meskipun kepastiannya perlu uji lebih lanjut. Air dengan kandungan zat besi tinggi memiliki warna kekuningan khas besi. Air yang tinggi kandungan tembaganya, biasanya terdapat sedimen berwarna biru yang menempel. Jika tinggi kandungan hidrogen sulfida (H2S) maka air akan berbau busuk. Namun jika hidrogen sulfida bercampur dengan zat besi maka air akan menjadi berwarna hitam. Sedangkan air yang berbuih, biasanya mengandung material organik yang tinggi. Air yang keruh menandakan terdapatnya material tanah tersuspensi, alga atau materi organik pada air.
 
Untuk itu diapun menggrisbawahi perlunya pengujian kualitas air untuk menentukan jenis treatment atau pengolahan air yang diperlukan agar air tanah setempat dapat dipergunakan untuk peternakan unggas. Bahkan ketika air dari sumber setempat berkualitas baik pun, dia tetap menyarankan pengujian secara berkala untuk mengetahui apakah ada perubahan kualitas air. Terlebih jika sudah dicurigai perubahan kualitas airnya, maka perlu pengujian laboratorium untuk mengetahui penyebab kontaminasi. 
 
Pengujian kualitas berupa analisis kimia air dia sarankan dilakukan 1 kali per tahun, analisis bakteriologis minimal 2 kali per tahun yaitu pada musim kemarau dan penghujan. Sampel air minimal diambil dari 3 titik yaitu sumber air (air baku), penampungan air, dan pada drinker (akhir jalur air minum).
 
Mineral dalam Air
Salundik menuturkan kandungan senyawa terlarut dalam air menyebabkan kondisi bahkan kualitas air juga berubah. Kondisi itu itu dapat digambarkan diantaranya dengan istilah kesadahan/hardness, keasaman (pH),  total solids (total padatan), dan kandungan mineral. “Tidak semua mineral yang terkandung dalam air dapat mempengaruhi tubuh ayam secara langsung. Melainkan berpotensi menghambat kinerja peralatan kandang yang menggunakan perpipaan air karena dapat mengendap dan menyumbat,” kata dia.
 
Kesadahan air terjadi karena adanya ion-ion Ca2+, Mg2+, atau dapat juga disebabkan adanya ion-ion lain dari polyvalent metal (logam bervalensi banyak) seperti Al, Fe, Mn, Sr, dan Zn dalam bentuk garam sulfat, klorida dan bikarbonat dalam jumlah kecil. Sehingga, seringkali kesadahan diidentikkan dengan kandungan mineral air yang tinggi.
 
Salundik memaparkan kesadahan air merupakan problem yang mudah ditemukan di berbagai wilayah Indonesia. Kesadahan yang tinggi dapat mengakibatkan pengendapan garam dalam peralatan penyiraman dan dapat menyebabkan saluran air tersumbat sehingga pasokan air terganggu. Selain itu, dapat pula mempengaruhi efektivitas pendinginan evaporatif karena menimbulkan kerak-kerak pada sistem cooling. Bahkan, ditengarai kesadahan ini dapat mempengaruhi kerja dari sabun (untuk sanitasi), obat-obatan, vaksin maupun desinfektan yang dilarutkan dalam air minum.
 
Membagi pengalamannya, Daru mengungkapkan kandungan mineral yang tinggi pada air akan membuat cooling pad cepat berkerak sehingga harus cepat diganti. “Dari sisi ekonomi ini merugikan,” tegasnya. 
 
Beberapa literatur menyebutkan, air sadah atau air keras adalah air yang memiliki kadar mineral yang tinggi, sedangkan air lunak adalah air dengan kadar mineral yang rendah. Selain ion kalsium dan magnesium, penyebab kesadahan juga bisa merupakan ion logam lain maupun garam-garam bikarbonat dan sulfat. Metode paling sederhana untuk menentukan kesadahan air adalah dengan sabun. Pada air sadah, sabun tidak akan menghasilkan busa atau menghasilkan sangat sedikit busa. Kesadahan air total dinyatakan dalam satuan ppm berat per volume (w/v) dari CaCO3. Kesadahan air yang bersifat sementara dapat diatasi dengan pemanasan. Sedangkan kesadahan yang bersifat tetap dapat dieliminasi dengan filtrasi menggunakan zeolit, resin maupun dengan cara kimia. (menggunakan larutan karbonat, yaitu Na2CO3 (aq) atau K2CO3 (aq). Penambahan larutan karbonat dimaksudkan untuk mengendapkan ion Ca2+ dan/atau Mg2+.
 
 
Selengkapnya Baca Di Majalah TROBOS Livestock Edisi 270/Maret 2022

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain