Selasa, 1 Maret 2022

Peternak Layer Menjerit

Peternak Layer Menjerit

Foto: Dok. TROBOS


Sektor peternakan memiliki peran yang sangat penting dalam pembangunan nasional. Setidaknya dalam hal strategis sebagai penyedia pangan bagi kebutuhan masyarakat Indonesia, khususnya sumber protein hewani.
 
Yudianto Yosgiarso, Ketua Presidium PPN (Pinsar Petelur Nasional) mengatakan, para peternak rakyat dapat dikatakan cukup sukses dan berhasil mendukung pemerintah dalam hal ketahanan pangan. “Tanpa adanya komando langsung dari pemangku kebijakan, kami sudah dapat mendistribusikan telur kemana-mana hingga ke pelosok. Harus diakui sumbangsih kami kepada pemerintah itu cukup besar,” ucapnya.
 
Di samping ketahanan pangan yang terjamin, para pelaku usaha lainnya dapat mengembangkan usahanya dengan baik. “Kami peternak rakyat bersama para perusahaan bibit, pakan, dan pelaku usaha lainnya bersama-sama merintis. Sehingga harus diakui juga bahwa peran kami dalam bekerja sama dari sisi yang saling menguntungkan,” tuturnya.
 
Namun pada kenyataannya, peternak rakyat khususnya pada komoditas layer (ayam petelur) kini merasakan kondisi yang sangat memprihatinkan. Pasalnya, harga telur yang sangat rendah, tidak sebanding dengan kenaikan harga pakan yang terus dirasakan.
 
Suwardi, Ketua PPN Kendal, Jawa Tengah, menyampaikan kondisi bisnis layer saat ini sangat suram. Hal ini dikarenakan daya beli masyarakat yang menurun, terjadinya over supply (kelebihan pasokan) pada telur, bahan baku naik tidak terkendali, kesigapan pemerintah mengatasi permasalahan juga dinilai kurang tepat mengenai analisa kebutuhan serta ketersediaan.
 
Hal yang sama dirasakan pula oleh Awan Sastrawijaya, Anggota Komunitas Peternakan Petelur Nasional. “Ini musim dingin untuk para peternak layer se Indonesia. Lama sekali harga jual telur di bawah HPP (Harga Pokok Produksi). Jadi sepanjang pengalaman saya di dunia peternakan dari 2011 – 2022, ini adalah kondisi terburuk selama 1 dekade ini,” sesalnya.
 
meningkat. “Terakhir kita tahu harga kedelai naik, sehingga tahu dan tempe langka. Hal ini turut membuat harga pakan juga naik. Kemudian terjadinya over supply pada telur,” sebutnya.
 
“Kalau dilihat dari kacamata peternak rakyat, kondisi saat ini sangat memprihatinkan, dimana harga pakan naik terus, tapi harga telur jatuh sudah bulan ke-8. Artinya sudah 8 bulan kami menanggung kerugian,” kata Yesi Yuni, selaku Koordinator Lapangan Aksi Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) Blitar sekaligus Peternak Layer di Blitar, Jawa Timur.
 
Sejalan dengan Suwardi dan Awan, ia menegaskan bahwa kondisi saat ini over supply, bukan low demand (permintaan yang rendah). “Karena secara psikologi over supply dengan low demand itu berbeda. Kalau memang benar sekarang low demand, pasti ada fenomena dimana telur itu tidak laku, akhirnya membusuk dan dibuang. Tapi faktanya tidak, sampai detik ini bulan ke-8 kami merugi, tidak ada berita itu,” terangnya.
 
“Kalau over supply itu benar. Tapi masih terserap, buktinya setiap hari pengiriman masih berjalan, telur kami masih laku, walaupun memang harganya murah karena over supply. Artinya demand itu masih mencukupi, pasar masih menyerap. Tapi karena over, sehingga harga sulit untuk diangkat,” lanjutnya.
 
Dinamika Harga di 2021
Yesi mengatakan mulai Januari hingga awal Agustus 2021, harga masih bisa berputar walaupun laba yang diperoleh sangat tipis. “Terhitung mulai Agustus awal sampai hari ini, sudah minus. Kalau kamiharus menanggung Rp 5.000 – 9.000 per kg, dikali sekian produksi kami selama 8 bulan, bayangkan sudah berapa miliar rupiah kerugian kami,” jabarnya.
 
Selengkapnya Baca Di Majalah TROBOS Livestock Edisi 270/Maret 2022

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain