Jumat, 1 April 2022

Harga Ayam Melemah, Telur Membaik

Harga Ayam Melemah, Telur Membaik

Foto: Dok. TROBOS Shara


Terjadinya over supply dan demand yang rendah pada produk daging ayam merupakan masalah yang tidak dapat dipungkiri sampai dengan saat ini. Hal ini mengakibatkan terus menurunnya harga live bird (LB) atau ayam hidup di tingkat peternak. Di sisi lain, harga pakan kian terus meningkat. Hingga harga pokok produksi (HPP) sudah jauh di atas harga jual LB itu sendiri.
 
Kerugian yang dialami peternak saat ini turut pula dirasakan oleh Taopik Robina, Peternak broiler (ayam pedaging) di Medan, Sumatera Utara. Ia mengatakan minggu terakhir di Maret harga LB kembali melemah, meskipun memang secara rata-rata sedikit ada peningkatan harga jika dibandingkan dengan Februari.
 
Ia mengutarakan bahwa di minggu sebelumnya dengan ukuran ayam 1,8 – 2 kg per ekor, sempat mencapai angka HPP di atas Rp 20.000 per kg. Namun minggu ini kembali melemah, harga LB pada (23/3) sudah Rp 18.000 per kg. “Harga LB di Medan awal Maret sekitar Rp 17.500 per kg, kemudian pada minggu kedua menyentuh di harga Rp 20.500 per kg. Dan minggu terakhir Maret sudah kembali melemah lagi,” terangnya.
 
Menurutnya, turunnya harga LB di tingkat peternak disebabkan penyerapan yang rendah, disertai dengan over supply yang ada. Sementara harga LB yang melemah, HPP justru sebaliknya. Ia merasakan HPP yang meningkat diakibatkan harga pakan yang terus menerus naik. 
 
“Pada Februari HPP berkisar Rp 19.500 per kg, saat ini sudah lebih dari Rp 20.000 per kg. Kenaikan HPP ini dikarenakan harga pakan yang berangsur-angsur naik. Sudah naik sekitar RP 300 per kg dari bulan kemarin. Harga bahan pakan juga naik, terutama soybean meal (SBM),” sesalnya. Ia melaporkan harga pakan pada saat ini berkisar Rp 8.300 – 8.500 per kg, sedangkan day old chick (DOC) atau ayam umur sehari relatif stabil di harga Rp 7.500 per ekor. 
 
Di samping itu, ia menyampaikan meskipun ada sebagian kecil terdapat kasus Infectious Bursal Disease (IBD) dan Chronic Respiratory Disease (CRD), namun kesehatan broiler rata-rata masih relatif aman. “Sebetulnya peran pemerintah sudah cukup baik dengan terus memantau implementasi dari pemangkasan DOC, akan tetapi demand juga berpengaruh untuk hal ini. Semoga efek dari pandemi segera berlalu dan perputaran ekonomi cepat pulih kembali,” harapnya.
 
Selaras dengan Taopik, Agus Suwarna, peternak asal Bogor, Jawa Barat pun merasakan hal serupa. Ia mengutarakan bahwa memang jika dibandingkan dengan Februari ada kenaikan harga meskipun harga saat ini masih tertekan.
 
“Kenaikan harga LB tersebut terjadi pada Minggu kedua Maret. Sementara Harga LB pada (24/3) berkisar Rp 19.000 – 20.000 per kg. Harga hari ini lebih tertekan dibandingkan harga kemarin (23/3) yang berada pada angka Rp 19.500 – 20.500 per kg,” tandasnya.
 
Ia mengatakan harga LB di Februari rata-rata Rp 18.000 – 19.000 per kg, dengan harga terendah sampai dengan Rp 16.000 per kg. Adanya perbedaan harga yang cenderung naik pada Maret dikarenakan banyaknya acara-acara keagamaan yang membutuhkan ayam.
 
Kendati demikian, HPP pada Maret juga lebih tinggi dibandingkan dengan HPP Februari. Hal ini dikarenakan adanya kenaikan harga pakan dan DOC yang semula Rp 7.600 per ekor kini menjadi Rp 7.925 per ekor. Ia melaporkan HPP saat ini Rp 19.500 per kg.
 
“Terkait dengan kondisi kesehatan broiler, saat ini ayam rentan sekali sakit dan sulit memperoleh Indeks Performans (IP) di atas 400. Pasalnya kualitas pakan yang tidak stabil dan feedmill yang tengah kesulitan dalam mendapatkan bahan baku. Solusi yang kami lakukan adalah mengurangi chick in, memperpanjang masa istirahat kandang, serta menerapkan sistem sanitasi dan biosekuriti yang lebih ketat,” tuturnya.
 
Ia memprediksi harga bulan depan akan turun kembali karena puasa dan konsumsi akan menurun. “Kami peternak mengalami masa sulit, dimana harga pakan, harga DOC, gas elpiji, sekam, listrik, dan yang lainnya mahal. Namun harga jual LB sangat susah naik hingga di atas HPP. Padahal harga karkas di pasar sudah tinggi mencapai angka Rp 38.000 – 42.000 per kg. Kami hanya bisa berharap adanya keajaiban yang memihak peternak,” keluhnya.
 
 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 271/April 2022

 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain