Jumat, 1 April 2022

Antara Minyak Esensial & Vitamin Larut Air

Antara Minyak Esensial & Vitamin Larut Air

Foto: MIMBAR The Series - 24


Memiliki karakteristik senyawa aktif yang mudah menguap, larut lemak, dan aromatik dengan komposisi dan konsentrasi yang bervariasi membuat efek biologis minyak esensial pada tubuh ternak bervariasi. Penggunaan vitamin pun sangat penting dalam menunjang performa unggas
 
Bisnis imbuhan pakan (feed additive) di Asia Pasifik diproyeksi tumbuh 5,4 % pada periode 2021 – 2026. Dari beragam jenis feed additive yang ada terdapat essential oil (minyak esensial) dan vitamin yang memiliki peran dalam meningkatkan performa unggas.
 
Menurut Pakar Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan IPB University, Prof Nahrowi, di dunia, unggas merupakan pemakai terbesar feed additive. Secara global pasar feed additive untuk unggas sekitar 45 % dengan pemakaian dalam bentuk cairan. “Jika melihat proyeksi penggunaan feed additive di Indonesia di 2050 bisa melebihi India apalagi jika jumlah unggas yang dipelihara terus meningkat,” ujarnya dalam MIMBAR TROBOS Livestock The Series 24 – Perunggasan dengan topik “Utilitas Water Soluble dan Essential Oil Bagi Unggas” yang digelar secara daring pada (29/3). Pada MIMBAR yang digagas oleh Majalah TROBOS Livestock, disiapkan oleh TComm (TROBOS Communication), dan disiarkan secara langsung di kanal Youtube Agristream TV dan Facebook TROBOS Livestock ini juga menghadirkan narasumber Pakar Nutrisi dan Teknologi Pakan Balai Penelitian Ternak Kementerian Pertanian, Elizabeth Wina serta Pakar Nutrisi dan Teknologi Pakan dari Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Nanung Danar Dono. 
 
Nahrowi melanjutkan, tingginya kasus resistensi bakteri mendorong WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) mengeluarkan kebijakan untuk mengurangi pemakaian antibiotik salah satunya di peternakan. Terdapat 7 jenis alternatif pengganti AGP (Antibiotic Growth Promotor) yaitu prebiotik (inulin, fructo oligosaccharides, galacto oligisaccarides); asam amino (lysine); probiotik (bacilllus subtilis, enteococcus faecium, lactobacillus acidophilus, bacilluscheniformis, bifidobacterium bifidum); asam organik (citric acid, ascorbic acid, sodium bentonite, butyrate); enzim (carbohydrases, phytase); phytogenic feed additive (essential oil) (pepper, garlic, ginger, rosemary, mint, thyme); serta vitamin (vitamin B, vitamin C). 
 
Sedangkan Wina menyampaikan sejak dulu essential oil yang dikenal sebagai minyak atsiri berfungsi sebagai obat-obatan untuk manusia seperti minyak kayu putih untuk obat gatal dan sekarang banyak dipromosikan untuk anti Covid-19. Juga minyak cengkeh untuk obat sakit gigi. “Minyak atsiri ini pun banyak digunakan untuk bumbu atau aroma di makanan bahkan parfum,” ujarnya.
 
Ia mengatakan, minyak atsiri mulai terkenal di ternak karena adanya pelarangan penggunaan AGP dan dijadikan sebagai alternatif pengganti dari alam. Ada begitu banyak essential oil atau minyak atsiri yang sekarang sudah menjadi komersial dan penggunaannya sebagai pengganti AGP dilaporkan  lebih banyak sekitar 35 % dibandingkan dengan asam organik, enzim, atau probiotik. “Penggunaan essential oil ini baru mulai kalau dibandingkan dengan alternatif AGP lainnya,” jelasnya.
 
Secara definisi, minyak atsiri atau essential oil adalah fraksi tanaman seperti minyak yang memberikan aroma harum/wangi. Sementara, senyawa lain yang masuk kelompok minyak atsiri tidak beraroma harum. “Essential oil ini tidak sama dengan essential amino acid/fatty acid. Essential oil, essential diambil dari kata essence berarti aroma/wangi sedangkan essential amino acid/fatty acid yaitu yang tidak dapat disintesis oleh tubuh ternak/manusia, jadi harus ada di dalam pakan,” ucapnya. 
 
Wina menambahkan, terdapat begitu beragam essential oil. Walaupun diekstrak dari satu tanaman akan begitu banyak struktur kimia dari minyak atsiri. Struktur-struktur kimia ini mempunyai sifat-sifat yang berbeda. 
 
Sementara itu, Nanung berpendapat, feed additive yang saat ini populer sebagai ‘pemacu pertumbuhan’ pada unggas yaitu antibiotik(antimikroba, fitobiotik, asam organik, enzim eksogen, probiotik; prebiotik(oligosakarida), dan sinbiotik. Secara khusus fitobiotik adalah ekstrak tanaman, essential oils, herbal, atau rempah yang mengandung berbagai senyawa bioaktif (fitokimia) yang mampu menghambat pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroba patogen, menstimulasi sekresi dan fungsi gastric juices, serta meningkatkan kekebalan tubuh. “Herbal, rempah, dan minyak atsiri mengandung berbagai senyawa aktif, seperti: fenolat & polifenol (simple fenol & asam fenolat, kuinon, flavon, tannin, & koumarin), terpenoat & minyak atsiri, alkaloid, serta lektin & polipeptida.
 
Senyawa-senyawa bioaktif tersebut terdapat pada bagian daun, bunga, batang/dahan, kulit batang, buah, kulit buah, akar, biji, umbi, dan rimpang,” paparnya.
Ia mengimbuhkan, essential oil adalah senyawa aktif volatile (mudah menguap), lipophilic (larut lemak), fragrant (aromatik) yang terdapat pada tanaman. Adapun karakteristik essential oil merupakan campuran kompleks dari berbagai senyawa aktif tanaman, memiliki komposisi dan konsentrasi yang bervariasi. Karena komposisi dan konsentrasi bervariasi, efek biologis pada tubuh ternak juga bervariasi. Contohnya, konsentrasi (kandungan) thymol dan carvacrol yang terdapat pada minyak atsiri thyme bervariasi antara 3 – 60 % dari total minyak atsiri yang terkandung.
 
Fungsi Dasar
Nanung menjelaskan, berbagai efikasi (khasiat) essential oil pada ternak unggas yaitu sebagai antibiotik alami guna menghambat pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroba patogen di dalam pakan dan atau saluran pencernaan. Sebagai anti implamasi guna mencegah dan atau mengobati inflamasi/radang. Sebagai antioksidan guna mencegah oksidasi yang dapat memicu berkembangnya radikal bebas. Sebagai anti kanker dan anti tumor guna mencegah perkembangan sel kanker dan metastatis. Sebagai imunomodulator guna meningkatkan sistem kekebalan/daya tahan tubuh. Sebagai hipokolesterolemik guna menurunkan kadar kolesterol. Juga berguna untuk menstimulasi sekresi digestive juices (empedu, enzim, dll) serta sebagai pemacu pertumbuhan ternak.
 
Lebih lanjut, efikasi essential oil sebagai pemacu pertumbuhan berhubungan erat dengan efikasi sebagai anti-enteropathogens, yang bermanfaat untuk menurunkan sekresi toksin oleh patogen, sehingga kerusakan sel absorptive pada dinding usus berkurang. Mengurangi kompetisi mikro-nutrien yang telah tersedia di dalam usus dan adherensi mikroba pada dinding usus. Mereduksi sekresi mucus, mikro-vili bisa tumbuh lebih maksimal, absorpsi mikro-nutrien maksimal, konversi nutrien pakan menjadi daging lebih maksimal. “Namun, pemberian fitobiotik dalam waktu lama tanpa jeda tidak direkomendasikan, karena berpotensi memperberat kerja organ dalam terutama hati,” ujar Nanung mewanti-wanti. 
 
Phytogenic feed additive yang memiliki fungsi dasar untuk rangsangan ke pencernaan, stimulan, antiseptik, antioksidan, dan peningkat nasfu makan memiliki efek yang bervariasi pada unggas seperti meningkatkan berat badan, meningkatkan efisiensi pakan, penurunan total kolesterol dan trigliserida pada serum darah, konsentrasi lipoprotein yang rendah bahkan adapula yang tidak ada efek terhadap performa. “Efeknya pada unggas bervariasi karena mungkin saja pada saat penelitian levelnya tidak pas atau bahan aktifnya sudah menurun. Artinya banyak faktor yang mempengaruhi,” tandas Nahrowi.
 
Dari persepsi ilmiah, struktur kimia essential oil sebagian besar mengandung monoterpenoid (C10) dan seskuiterpenoid (C15); mengandung alkohol, ester, aldehida, asam, keton, epoksida, amina, dan sulfida. Isoprenoid atau terpenoid merupakan senyawa utama minyak atsiri yang dibentuk oleh isoprena (C5H8), monoterpen (C10), seskuiterpen (C15), dan diterpen (C20). “Yang penting adalah ketika para praktisi membeli essensial oil harus tahu sifat kimia, formula, cara penanganan, densitas, titik didih, dan titik melting supaya bisa dipelajari lebih jauh,” sarannya.
 
Nahrawi memberikan contoh produk komersial essential oil dengan beragam sumbernya. Ada yang berasal dari campuran tanaman herbal, rempah-rempah, essential oil dan ekstrak tanaman; campuran tiga essential oil  thyme (thymol), cengkeh, dan lada hitam; campuran essential oil dan asam organik; minyak oregano, thyme (thymol), carrier; Campuran essential oil eucalyptus, citronella, dan thyme (thymol); ektrak tanaman, essential oil, yeast carbohydrates, dan mineral organik; serta essential oil, saponins dan perasa pedas dan pahit. “Sumber-sumber ini harus kita ketahui. Kalau tidak segar lagi sumbernya maka hasilnya tidak bagus. Sementara kalau sumbernya berasal dari Indonesia dan dikelola dengan bagus pasti akan lebih bagus lagi hasilnya,” tandasnya. 
 
Adapun tanaman penghasil essential oil yaitu cengkeh, oregano, thyme, citronella, eucalyptus, dan lada hitam. “Terkait essential oil negara lain lebih dulu meneliti dan tahu informasi sehingga kita perlu terobosan supaya bisa mengejar ketinggalan. Dalam konteks essential oil ini mau bahan baku impor maupun lokal yang terpenting ketersediaannya. Kalau ada pilihan lokal atau impor pasti pebisnis itu pilih lokal kalau ketersediaan, harga, serta kualitasnya bagus,” paparnya.
 
Nahrawi menyatakan setiap essential oil memiliki bahan aktif dan peran tersendiri. Thymol, anetole, eugenol dan carvacrol berperan dalam meningkatkan konsumsi pakan. Cinnamon, oregano, thyme, dan eucalyptus eos berperah menyeimbangkan mikrobiota usus. Thyme ekstrak berperan meningkatkan sekresi enzim pencernaan (contoh amilase dan chymotrypsin), meningkatkan laju penyerapan di usus halus, serta meningkatkan pemanfaatan pakan.
 
Sedangkan curcumin, carvacrol, piperin, thymol, dan eugenol berperan dalam menurunkan kolonisasi dan proliferasi Clostridium perfringens di saluran pencernaan broiler (ayam pedaging). Cinnamaldehyde dan thymol berperan menghasilkan anti bakteri selektif dan mengurangi ragi dan pertumbuhan jamur.
 
Suplementasi thymol berperan meningkatkan panjang usus, lebar, dan kedalaman vili serta meningkatkan penyerapan nutrisi. Suplementasi campuran essential oil basil, lemon, caraway, oregano, laurel, sage, thyme, dan teh berperan meningkatkan berat karkas, berat dada ayam dan daging dada ayam. 
 
Sementara itu, bahan aktif carvacrol dan thymol berperan menyebabkan disintegrasi membran bakteri dan karenanya menyebabkan pelepasan bahan terkait membran dari sel ke media eksternal. Untuk bahan aktif terpenoids dan phenylpropanoids berperan menembus membran bakteri karena lipofilisitasnya dan mencapai bagian dalam sel. 
 
 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 271/April 2022

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain