Jumat, 1 April 2022

Peluang Peningkatan Pasokan Daging Sapi Domestik

Peluang Peningkatan Pasokan Daging Sapi Domestik

Foto: Dok. TROBOS =


Sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan pendapatan rumah tangga terutama golongan menengah ke atas, maka dapat diprediksi bahwa permintaan komoditas ternak termasuk daging sapi juga akan terus meningkat. Peningkatan permintaan tersebut seharusnya bisa dipasok sebahagian besar bahkan keseluruhan dari produksi yang berasal dari dalam negeri, karena selain mengurangi ketergantungan kepada negara lain dan menghemat devisa,  pertumbuhan industri peternakan juga akan mempunyai dampak ekonomi d ibidang lain seperti lapangan pekerjaan dan industri penunjangnya. Karena daging sapi merupakan komoditas yang peningkatan permintaannya melebihi besarnya peningkatan pendapatan rumah tangga konsumen yang berpendapatan menengah ke atas (high income elastic), maka penguatan ketahanan dan kemandirian pangan nasional di masa depan harus terjamin. 
 
Sebagian besar dari populasi ternak sapi potong nasional terkonsentrasi di kawasan padat penduduk (Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara) dengan daya dukung pakan yang sangat terbatas. Dengan demikian, penyediaan daging sapi nasional masih terus mengalami kekurangan karena kemampuan produksi daging sapi lokal hanya sekitar 400 ribu ton dibandingkan dengan konsumsinya sebesar 700 ribu ton per tahun. Dua tahun terakhir ini ketika Australia dilanda bencana banjir 2019 dan kebakaran hutan pada 2020 maka untuk memulihkan populasi sapinya Australia telah mengurangi ekspor sapi bakalannya termasuk ke Indonesia. Hal ini juga menyebabkan terbatasnya pasokan yang mengakibatkan naiknya harga sapi, dan pengusaha feedloter akan menggantungkan pasokan sapi bakalan lokal.
 
Impor daging sapi (termasuk kerbau) beku dan sapi bakalan bertujuan untuk menutup kekurangan pasokan daging sapi yang masih belum sepenuhnya mampu disediakan di dalam negeri yang berasal dari peternak sapi lokal. Namun demikian, dampak impor daging justru melemahkan peternak lokal karena menutup peluang lapangan kerja karena terjadinya pengurangan jumlah kepemilikan sapi yang kurang memberikan keuntungan bagi para pelaku pengembangbiakan. 
 
Disamping dampak tersebut ternyata impor daging beku dan sapi bakalan juga masih belum mampu menekan harga daging sapi di tingkat konsumen, malah ada kecenderungan yang justru menaikkan harga daging kerbau impor tersebut mendekati harga daging sapi lokal.  Impor daging sapi (dan kerbau) yang pada awalnya ditujukan untuk memasok kebutuhan daging bagi konsumen di hotel-hotel berbintang dan restoran tertentu serta daging industri bagi kebutuhan industri daging olahan yang ternyata terus meningkat telah turut memasok pasar diluar dari ketiga peruntukan tersebut. Fenomena ini memang didorong oleh semakin berkurangnya kemampuan pasokan industri sapi potong domestik serta adanya peningkatan permintaan konsumen di dalam negeri.
 
Sumber Pasokan Sapi Bakalan
Kekurangan produksi daging sapi dalam negeri yang belum cukup untuk memenuhi kebutuhan daging nasional masih terus terjadi walaupun populasi sapi di Indonesia mengalami peningkatan. Berdasarkan data Gapuspindo (2022), populasi sapi di Indonesia pada 2021 telah mencapai 18,05 juta ekor lebih tinggi dibanding 2020 sebesar 17,44 juta ekor. Namun demikian, jumlah sapi yang harus dipotong mencapai 2 juta ekor/tahun, setara dengan 366.942 ton daging. Dilain pihak kebutuhan daging sapi nasional pada 2022 diperkirakan akan mencapai 706.388 ton, dibandingkan dengan kemampuan produksi dalam negeri yang hanya mencapai 415.930 ton, sehingga terdapat defisit pasokan daging sapi sebesar 279.978 ton. Dengan kondisi seperti ini diperkirakan keperluan impor berupa sapi bakalan akan mencapai 625.000 ekor dan dalam bentuk daging sapi (termasuk kerbau) sebesar 170.652 ton. 
 
Menurut Ditjen PKH (2022) kebutuhan daging sapi/kerbau nasional 2022 diperkirakan setara dengan 3,92 juta ekor sapi, sedangkan produksi daging sapi lokal hanya setara 2,46 juta ekor sapi. Dengan demikian, kekurangan daging sapi akan mencapai setara dengan 1,46 juta ekor sapi yang harus dipenuhi dari impor.
Dengan memperhatikan manfaat nilai tambah di dalam negeri dari skema impor yang berlangsung selama ini maka ada baiknya bila sebahagian besar volume impor tersebut dapat dialokasikan untuk impor sapi bakalan, sehingga peternak di dalam negeri akan memperoleh nilai tambah dari proses penggemukannya (pakan, tenaga kerja) dibandingkan dengan impor dalam bentuk daging beku.
 
Peluang ke Depan
Salah satu penyebab rendahnya produksi daging sapi domestik adalah semakin berkurangnya ketersediaan pakan ternak dalam bentuk padang penggembalaan di daerah produsen sapi potong di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Sedangkan budidaya sapi potong yang lebih murah hanya dapat dilakukan melalui sistem penggembalaan yang memerlukan lahan yang luas, seperti yang tersedia di wilayah Kalimantan dan Sumatera, yang memiliki sumber daya pakan biomassa yang sangat berlimpah, terutama berasal dari kawasan perkebunan.
 
Dari berbagai pilihan sumber daya pakan ternak sapi potong, kawasan perkebunan kelapa sawit telah menjadi perhatian selama dua dekade ini karena kemampuannya dalam menyediakan pakan dalam bentuk rerumputan di bawah pohon kelapa sawit terutama sepanjang cahaya matahari masih mencapai permukaan tanah. Selain itu, hasil ikutan industri kelapa sawit berupa berupa bungkil inti sawit, pelepah, daun, tandan kosong, serat perasan buah kelapa sawit, dan lumpur sawit juga berperan penting sebagai sumber pakan konsentrat. 
 
Usaha peternakan sapi potong yang terintegrasi dengan sawit sebenarnya dapat dilakukan melalui tiga jenis usaha yaitu pembibitan, perkembangbiakan, dan penggemukan. Usaha ini dapat dilaksanakan dengan pola usaha ekstensif, semi intensif, maupun intensif dengan mempertimbangkan faktor ketersediaan sarana dan prasarana produksi, keuntungan usaha dan sinergi dengan usaha budidaya kelapa sawit. 
 
Saran dan Rekomendasi
Pada saat ini Indonesia telah memiliki sekitar 16 juta hektar perkebunan kelapa sawit, dan merupakan yang terbesar di dunia, yang memiliki potensi untuk diintegrasikan dengan usaha ternak sapi potong, dimana kedua bidang usaha ini berinteraksi saling menguntungkan. Namun demikian, sistem integrasi seperti ini masih belum berkembang pesat dan diadopsi secara luas oleh para pengusaha. 
 
Dengan memperhatikan manfaatnya yang sangat besar dan memiliki prospek yang cerah bagi Indonesia di masa mendatang dalam memproduksi pangan dan energi, maka penerapan sistem ini perlu terus didorong melalui upaya dan kerjasama dengan berbagai perusahaan perkebunan kelapa sawit swasta, PTPN, maupun rakyat, serta instansi di bidang pendidikan dan pelatihan vokasi, penelitian dan penyuluhan, serta sektor swasta penyedia fasilitas lainnya. Berbagai program pemerintah yang bersifat komplemen yang mendorong adopsi dan penerapan sistem integrasi sawit-sapi sebenarnya telah dilakukan antara lain melalui berbagai kegiatan penelitian di Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan kawasan lainnya agar terjadi peningkatan areal perkebunan kelapa sawit yang dapat diintegrasikan dengan budidaya ternak sapi potong.
 
Dari berbagai kajian peluang pemanfaatan biomassa yang disediakan perkebunan sawit sebagai pakan ternak sapi potong telah memunculkan banyak gagasan tentang prospek pasokan daging sapi yang berasal dari kawasan perkebunan sawit. Sistem integrasi sawit-sapi merupakan salah satu pendekatan saling menguntungkan antara usaha perkebunan kelapa sawit dengan ternak sapi. 
 
Keberadaan ternak sapi berpotensi memberikan dampak positif sebagai penghasil kotoran sapi yang dapat digunakan sebagai pupuk organik dan ternak sapi juga ikut membantu penyiangan gulma, sementara tanaman sawit menyediakan berbagai macam biomassa sebagai pakan ternak. Untuk itu, pemerintah pusat maupun daerah dapat terus melanjutkan kampanye penerapan sistem integrasi sawit-sapi ini dengan tujuan untuk memperbaiki alokasi sumber daya dan memperbaiki pendapatan petani/peternak/pekebun. TROBOS
 
 
Prof Tjeppy D. Sudjana
Purnabakti Profesor Riset Bidang Ekonomi Pertanian dan Sumber Daya
Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Kementerian Pertanian
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain