Jumat, 1 April 2022

Nafiatul Umam: Eksplorasi dan Potensi HPT Lokal

Nafiatul Umam: Eksplorasi dan Potensi HPT Lokal

Foto: Dok. Pribadi


Hijauan pakan ternak (HPT) yang ada di Indonesia memiliki potensi biomassa yang besar. Biomassa tersebut bisa berasal dari jagung, padi, tebu, sawit maupun by product pertanian yang lain seperti kacang hijau, kacang tanah dan jerami dari kangkung. Adapun HPT tidak hanya dalam bentuk segar, tetapi bisa dalam bentuk jerami dan dalam bentuk awetan seperti hay, silase, dan lain-lain. 
 
Ini merupakan sebuah potensi, tetapi dari sekian macam potensi tanaman yang ada di Indonesia itu acap kali dihadapkan pada kondisi kualitas dari biomassa yang rendah. Sebab masih saja bermasalah dengan serat kasar (SK), lignin yang tinggi, serta adanya kecernaan dari bahan kering (BK) yang rendah. Oleh karena itu, perlakuan atau pengolahannya akan sangat mempengaruhi, dan nantinya akan berdampak pada profil nutrisi dari bahan pakan biomassa yang ada di sekitar.
 
Perlu dipikirkan bagaimana sebetulnya ketersediaan HPT supaya kontinu, baik dari transisi jumlah maupun kualitasnya. Ini menjadi PR (pekerjaan rumah) untuk para stakeholder yang bergerak di bidang ini, supaya dapat menyediakan HPT sebagai salah satu sumber nutrisi untuk ternak. Di samping itu, untuk terwujudnya swasembada pakan ternak, yang mau tidak mau harus disiapkan ketersediaan pakannya.
 
HPT menjadi sebuah kebutuhan yang bisa disiapkan di lahan-lahan sekitar. Kini banyak peternak yang sudah memiliki lahan dan kandang kelompok, namun terkadang ketersediaan HPT-nya masih sangat bergantung pada lingkungan, sawah, dan kondisi musim. Padahal di ketahui HPT sangat penting peranannya untuk kesehatan dan fungsi rumen.
 
Upaya Pengembangan 
Saat ini banyak sekali HPT yang memiliki fungsi sebagai functional feed/forage atau herbal. Dari sisi hijauan ada banyak sekali jenisnya, bukan hanya rumput tetapi juga leguminosa atau kacang-kacangan. Oleh sebab itu, HPT perlu dieksplorasi lagi di lingkungan sekitar.
 
Adapun kandungan-kandungan yang ada pada hijauan juga perlu dieksplorasi, sebab memiliki peranan yang banyak sekali. Salah satunya, banyak riset yang sudah dihasilkan terkait kandungan anti cacing, kemudian terdapat vitoestrogen atau kandungan-kandungan dari sisi hormonal yang juga bermanfaat untuk kesehatan reproduksi ternak dan lain sebagainya.
 
Hal-hal yang seperti itu menjadi menarik untuk dieksplorasi terhadap hijauan sebagai pakan fungsional. Kemudian eksplorasi potensi-potensi pakan yang ada di sekitar lokasi atau pakan lokal masing-masing, sebagai sumber pakan yang bisa diandalkan. Karena setiap wilayah memiliki spesifikasi dan kondisi tertentu, sehingga akan didapatkan variasi jenis pakan yang berbeda-beda pula.
 
Sebagai contoh yang dilakukan saat ini ialah dengan mengeksplorasi wilayah kering di Gunung Kidul, Jawa Tengah. Ini juga menjadi tantangan tersendiri, yakni bagaimana menciptakan ketersediaan pakan yang kontinu di musim kemarau. Pasalnya, di musim kemarau peternak harus membeli pakan, ini yang menjadi inisiatif guna membuka peluang budidaya hijauan di kondisi marjinal.
 
Potensi tanaman pakan di Gunung Kidul tahan terhadap kekeringan. Ditilik dari jenis tanah di Gunung Kidul ialah batu bertanah, sehingga banyak sekali tanah kapur di sana. Dari hasil eksplorasi menunjukkan bahwa ada hijauan yang bisa bertahan dengan kondisi tanah kering sekaligus berkapur.
 
Melalui eksplorasi tersebut, data yang sangat menarik pun didapatkan yakni dari segi produktivitasnya, yang memang untuk saat ini produksinya masih sedikit. Kendati demikian, dengan sentuhan manajemen budidaya, seperti peternak diedukasi terkait cara pemotongan, panen, pengolahan dan seterusnya, akhirnya produktivitasnya bisa meningkat. Salah satu tanaman yang dibudidayakan adalah bohemia atau dikenal sebagai tanaman dari Taiwan, yang memiliki spesifikasi ketahanan terhadap kondisi kering untuk jenis leguminosa sebagai sumber protein pakan.
 
Jika berbicara terkait produksi atau budidaya HPT, setiap daerah/lokasi sangat tergantung dari kondisi lahan dan klimatologi, sehingga ini bisa menjadi hal yang perlu diperhatikan. Kemudian memasuki fase budidaya, mulai dari olah tanah sampai proses panennya untuk bisa menghasilkan produksi yang optimal. Intinya, tanaman pakan yang beragam di masing-masing lokasi pasti memiliki potensi.
 
Manfaat Ragam HPT
Konsep utama penyediaan pakan adalah makin beragam HPT di sekitar akan makin baik pula, sebab berbagai jenis HPT membuat nutrisinya (asam amino) juga makin bervariasi. Artinya makin lengkap HPT, tentu kebutuhan untuk ternak akan makin terpenuhi. 
 
Pada kasus peternak yang gandrung dengan rumput Setaria sphacelata (setaria) yang memiliki ciri khas rumput hanya daun tanpa batang, dilaporkan bahwa palatabilitasnya pada ternak sangat tinggi, kecernaan dan nutrisinya pun bagus. Selain itu, pemotongan rumput dan pemeliharaannya juga mudah, sehingga peternak hanya memberikan rumput setaria saja pada ternaknya.
 
Konsep pemberian satu jenis tanaman itu perlu diperhatikan, sebab di dalam rumput setaria mengandung antinutrisi berupa oksalat. Apabila ternak hanya diberi pakan berupa rumput setaria, yang mana mengandung oksalat tinggi, akibatnya banyak ditemukan kasus sapi ambruk. Ini terjadi karena oksalat mengikat kalsium di pakan, sehingga tidak bisa terabsorpsi di dalam tubuh ternak.
 
Pemberian satu jenis pakan saja akan berisiko, yang paling ideal adalah dengan mengkolaborasikan berbagai macam jenis pakan yang tersedia. Namun demikian, tetap harus memenuhi kaidah kebutuhan pakan yang seharusnya terpenuhi. Misalnya dengan memberikan pakan sumber serat dari rumput-rumputan, kemudian sumber proteinnya dari leguminosa sebagai komposisi yang baik. 
 
Kebutuhan-kebutuhan untuk maintenance dan produksi harapannya bisa sesuai. Untuk itu, dalam proses budidaya akan terpilih HPT seperti apa untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak. 
 
Tantangan Penyediaan 
Ketersediaan HPT di Indonesia dinilai masih fluktuatif, artinya kecukupan pakan masih bergantung pada musim yang erat hubungannya dengan jumlah air. Ada pula teknik konservasi yang dibutuhkan pada saat pasca panen mau diolah seperti apa, baik hay ataupun silase, supaya tidak ketergantungan pada musim lagi. Kemudian dari sisi HPT, umumnya dibutuhkan dalam jumlah yang banyak dan terkhusus untuk tropical forage (hijauan tropis) kandungan nutrisinya masih rendah.
 
Terlepas dari itu, ternyata tropical forage masih bisa ditingkatkan dengan melakukan perbaikan-perbaikan supaya kualitasnya bisa menjadi lebih baik. Kendala berikutnya ialah ketersediaan lahan yang terbatas, namun di sisi lain peternak ingin mendapatkan jumlah biomassa yang berlimpah. 
 
Umumnya peternak mengeksploitasi ketersediaan HPT, baik rumput maupun leguminosa, di berbagai macam tempat, bisa di padang rumput dan lokasi sekitar tempat tinggalnya dengan teknik budiaya. Teknik budidaya ini yang diharapkan dapat terealisasi, bahwa jika mempunyai ternak maka harus mempunyai sumber hijauannya juga.
 
Memilih Tanaman Budidaya
Jika membahas tentang jenis HPT yang akan digunakan, hal pertama yang harus dilakukan adalah mencari biomasa hijauan atau yang memiliki jumlah tinggi sebagai sumber pakan. Selanjutnya dari sisi kualitas nutrisi, dengan mencari HPT yang mengandung nutrisi unggul atau metabolit-metabolit sekunder yang bermanfaat untuk ternak. Bisa juga dengan mencari tanaman-tanaman budidaya yang dapat terpenuhi dari sisi agronominya, yakni tanaman yang memiliki kemampuan regrowth atau tumbuh kembali.
 
Kemudian syarat memilih HPT berikutnya ialah terkait persistensinya, seperti tahan jumputan dan injakan. Selanjutnya antikualitas yang dapat ditolerir pada tanaman. Perlu juga dicari tanaman-tanaman yang memiliki daya adaptasi yang baik di lingkungan sekitar, sehingga harapannya pada saat musim kemarau bisa bertahan sebab idealnya memiliki daya tahan kekeringan yang baik.
 
Di sisi lain, peternak ingin HPT yang tidak melukai atau membuat gatal ketika mereka mengarit tanamannya, efisiensi lahan dengan per satuan luas yang dapat memproduksi HPT tinggi, serta disenangi oleh ternak (palatable). Ini semua perlu ditilik dari karakteristik agronomi dari tanaman-tanaman yang ada.
 
Karakteristik Gama Umami
Gama umami merupakan tanaman satu spesies dengan rumput gajah (Pennisetum purpureum). Gama umami merupakan rumput yang telah dimuliakan dengan cara diradiasi dengan sinar gama, kemudian diseleksi dan dicari aksesi-aksesi yang memiliki beberapa keunggulan. Kemudian varietas ini didaftarkan, sebab dari sisi produktivitas dinilai lebih tinggi, baik dari hasil penelitian di laboratorium maupun di lapangan. 
 
Kelebihan rumput gama umami ialah tidak banyak bulunya, sehingga tidak gatal dan daunnya relatif halus. Hasil penelitian juga menunjukkan kadar amilum dan gula reduksinya (kandungan gula) tinggi. Tanaman pakan yang memiliki gula reduksi tinggi artinya ketersediaan energinya tinggi, sehingga berdampak pada kecepatan peningkatan bobot badan ternak. Umumnya, pada proses pengawetan rumput gama umami menjadi silase akan lebih mudah dalam penanganan pasca panen atau konservasinya.
 
Pada saat melakukan teknik budidaya, penting untuk peternak supaya berhati-hati. Misalnya dengan tidak memberikan pupuk terlalu banyak, agar tidak menimbulkan non protein nitrogen (NPN) yang berbahaya bagi ternak.
 
Lahan menjadi kondisi dasar yang dibutuhkan untuk melakukan penanaman, tentu perlu dicari dan dikelola dengan baik. Penyiapan lahan perlu dilakukan, seperti dengan menjalankan pengolahan tanah yang bertujuan untuk memperbaiki aerasi dan menjadi tempat yang cocok untuk tanaman. 
 
Sementara itu untuk lahan-lahan yang kritis atau unsur haranya masih rendah, banyak persiapan yang bisa dilakukan seperti menggunakan biomassa di lingkungan sekitar untuk memperbaiki mutu lahan. Dengan menggunakan biomassa sebanyak mungkin, peternak tidak terus bergantung pada penggunaan pupuk kimia terlebih untuk produksi rumput.
 
Pengairan rumput juga menjadi hal yang krusial terutama pada saat pertama kali penanaman. Pada penanaman awal diketahui membutuhkan germinasi dan perakaran supaya bisa berkembang dengan baik. Bisa juga menggunakan sprayer (penyemprot), sehingga lebih hemat air. TROBOS
 
 
Ketua Umum HITPI (Himpunan Ilmuwan Tumbuhan Pakan Indonesia)
Ahli Nutrisi dan Pakan Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada
 
 
Dituliskan kembali oleh rubella c milladiah
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain