Jumat, 1 April 2022

Waspada Wabah Cacar Sapi

Waspada Wabah Cacar Sapi

Foto: Istimewa


Untuk mencegah penyebaran LSD maka Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dari daerah yang bersangkutan harus diperketat
 
Satu lagi penyakit sapi mulai mewabah di Indonesia yakni kulit berbenjol (Lumpy Skin Disease-LSD) atau disebut juga cacar sapi. Untuk mencegah penularannya agar tidak meluas, perlu sejumlah langkah antisipasi.
 
Balai Veteriner Lampung mengelar talk show dengan topik “Lumpy Skin Disease Ancaman Baru Dunia Peternakan Indonesia” awal Maret lalu. Acara yang dibuka Kepala Balai Veteriner Lampung diikuti ratusan peserta yang berasal dari berbagai pemangku kepentingan di Tanah Air. Penyaji materi diantaranya, drh Eko Agus Srihanto dari Laboratorium Bioteknologi Balai Veteriner Lampung dengan makalah “Mengenal Lumpy Skin Disease dan Upaya Pencegahannya” dan drh Akhir Santoso Subkordinator Substansi Karantina Hewan BPK Kelas 1 Bandarlampung dengan materi “Pengawasan Lalu Lintas Hewan Dalam Rangka Mitigasi Risiko Penyakit LSD.”
 
Kepala Balai Veteriner Lampung drh Hasan Abdul Sanyata menyatakan, LSD baru diketahui berjangkit di Indonesia akhir 2021 dengan gejala muncul berupa kulit berbenjol pada sapi yang terjangkit. Penyakit pada awalnya ditemukan Balai Veteriner Bukitinggi, Sumatera Barat di salah satu Kabupaten di Riau dan hingga awal Maret 2022 sudah menyebar hingga tujuh kabupaten. Untuk mencegah meluasnya penyakit ini perlu kerjasama dari pemerintah pusat, daerah, balai karantina, balai veteriner dan pemangku kepentingan lainnya. “Kita harus bersinergi agar LSD bisa dihambat penularannya,” imbaunya.
 
Khususnya, lanjut Hasan, bagi daerah-daerah yang berbatasan dengan Riau. Termasuk Lampung yang setiap hari mengirim sapi potong ke Riau. Diakuinya, memang sapinya dibawa dari Lampung ke Riau, namun truk pengangkut yang masuk daerah endemi LSD berpotensi membawa penyakit ke daerah asal. “Perdagangan sapi tetap berjalan, tetapi peluang meluasnya LSD harus diperkecil. Ini tentu tantangan bagi kita semua mencegah meluasnya LSD ke daerah lainnya. Harus ada aksi yang dilakukan  guna mencegah penularan LSD ke daerah tetangga, termasuk Lampung. Tahap pertama yang harus dilakukan mari kita identifikasi LSD di daerah masing-masing dan lakukan lokalisasi agar tidak meluas,” paparnya.
 
Eko Agus Srihanto mengatakan pada pertengahan Februari 2022, ditemukan 15 ekor sapi di Kabupaten Indragiri Hulu, Riau menderita LSD dan kemudian menyebar ke kabupaten lainnya. Selanjutnya pada 2 Maret 2022, keluar SK Mentan No. 242/ Kpts/ PK. 320/M/3/2022 tentang penetapan daerah wabah penyakit kulit berbenjol di Provinsi Riau.
 
Diketahui bahwa morbiditas LSD berkisar antara 5 - 45% dan mortalitas  kurang dari 10%. Lalu morbiditas dan keparahan gejala klinis LSD pada kerbau lebih rendah dibanding sapi. Pada sapi yang memiliki produksi tinggi biasanya memiliki infeksi yang berat. Kemudian kejadian kasus pertama biasanya berhubungan dengan pergerakan ternak. Immunitas sapi dipengaruhi oleh humoral dan cell-mediated (selluler). LSD tidak bersifat zoonosis dan tidak bersifat carrier, walaupun ada ternak positif tanpa ada gejala klinis. 
 
“Adapun kerugian ekonomi yang bakal diderita akibat LSD berupa kematian dan penambahan biaya pengobatan; gangguan reproduksi dan abortus; penurunan produksi susu dan mastitis. Lalu sapi akan mengalami kekurusan dan kerusakan karkas sehingga perlu dana pencegahan dan kontrol penyakit. Termasuk pembatasan pedagangan; kehilangan daya jual dan kerugian lainnya, seperti tenaga kerja,” urai Eko.
 
Mengenai daya tahan virus, Eko menguraikan, LSDV rentan terhadap suhu 55°C/2 jam  dan 65°C/30 menit. Jika nodul kulit disimpan  pada suhu –80 °C bisa tahan hingga 10 tahun. Lalu cairan TC dapat disimpan pada 4 °C selama 6 bulan. Virus rentan terhadap cahaya matahari dan detergen yang mengandung pelarut lemak. Pada tempat gelap (gudang) vitus dapat bertahan beberapa bulan.
 
 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 271/April 2022

 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain