Rabu, 13 April 2022

Kontribusi SSDN Belum Tercapai, Perlu Sinergitas Antar Stakeholder

Kontribusi SSDN Belum Tercapai, Perlu Sinergitas Antar Stakeholder

Foto: ist.dok.Kementan


Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Konsumsi susu terus meningkat setiap tahun, namun belum diimbangi dengan peningkatan produksi dan kualitas susu segar dalam negeri (SSDN).

 

Pemerintah mengharapkan peternak ddan seluruh stakeholder industri persusuan mengupayakan agar target dari cetak biru persusuan 2013-2025 yang dicanangkan oleh pemerintah bisa terwujud.

 

Tri Melasari, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Ditjen PKH menuturkan kebutuhan susu di tanah air mencapai 4,3 juta ton per tahun, sementara kontribusi SSDN terhadap kebutuhan susu nasional baru sekitar 20 %.

 

“Walhasil, guna mencukupi ini, Indonesia harus mengimpor skim milk powder dan produk susu lainnya sebanyak 3,3 juta ton,” dia jelaskan pada seminar online beberapa waktu yang lalu.

 

Menurutnya, ketergantungan yang tinggi terhadap bahan baku impor akan dapat memengaruhi penyerapan dan pengembangan SSDN. Imbasnya yakni dapat memengaruhi ketahanan pangan nasional. Di sisi lain, tantangan persusuan di Indonesia sangat kompleks antara lain, susu segar yang diproduksi oleh peternak, yang mana 90 % masih dalam skala kepemilikan 2-3 ekor dengan produktivitas 8-12 liter per ekor per hari.

 

“Sudah pasti, angka tersebut terbilang rendah bahkan peternak menjadikan usaha sapi perah sebagai sampingan. Pengelolaan sapi perah yang belum berorientasi bisnis ini menyebabkan kualitas dan produksi susu segar yang dihasilkan masih belum optimal,” jelasnya.

 

Lebih lanjut, ia kemukakan, ketersediaan pakan hijaun dan kosentrat yang terbatas dan relatif mahal juga mengakibatkan produksi susu yang dihasilkan sapi perah belum maksimal. Hal inilah yang mengakibatkan regenerasi peternak yang lambat, usaha sapi perah dikelola oleh peternak berusia tua.

 

Realita ini menuntut upaya lebih cerdas dan transformatif agar peternakan sapi perah dikelola berorientasi bisnis, agar generasi milenial untuk ikut terjun pada budidaya sapi perah. “Salah satunya kami memiliki pilot project mengaktifkan milenial yaitu di KUD Setiakawan kabupaten Pasuruan, Jawa Timur,” ungkapnya.

 

Diimbuhkannya, adanya pengembangan SSDN tentu akan meningkatkan kesejahteraan peternak serta menjamin ketersediaan protein hewani yang bergizi tinggi dengan harga yang terjangkau. Oleh karena itu diperlukan kerjasama yang sinergis dengan Kementerian atau Lembaga, akademisi dan stakeholder terkait dalam pengembangan persusuan nasional. “Sesuai dengan target cetak biru persususan pada 2013-2025 yakni pemenuhan kebutuhan SSDN sebesar 60 %,” ujarnya.ed/ zul

 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain