Minggu, 1 Mei 2022

Strategi Mitigasi Penyakit Unggas

Strategi Mitigasi Penyakit Unggas

Foto: 


Memetakan, memperkirakan, dan menganalisa dampak risiko penyakit guna menetapkan langkah strategis dan ekonomis yang tepat untuk menanggulangi atau mencegah terjadinya kasus penyakit pada unggas
 
Agen penyakit merupakan mikroorganisme yang terdapat pada lingkungan seperti virus, bakteri, jamur, dan parasit. Mikroorganisme dapat berinteraksi dalam keadaan seimbang jika tubuh ternak memiliki daya tahan tubuh yang kuat terhadap infeksi mikroorganisme tersebut. Apabila terjadi perubahan-perubahan yang menyebabkan ketidakseimbangan interaksi tersebut, seperti di satu sisi menguntungkan mikroorganisme dan di sisi lain merugikan kondisi tubuh ternak, maka terbentuklah penyakit pada ternak dengan derajat yang beragam.
 
Berbagai macam cara masuknya agen penyakit masuk ke dalam lingkungan peternakan, seperti melalui DOC (ayam umur sehari) saat datang, masuknya ayam carrier (pembawa penyakit), masuknya ayam dari luar flok, dan tertular melalui telur-telur dari flok-flok pembibit yang terinfeksi. Selain itu, agen penyakit juga dapat masuk melalui kaki, tangan, pakaian, sepatu baik pengunjung maupun karyawan yang bergerak dari flok ke flok. Kemudian, predator, peralatan kandang, serangga dan kotoran di kandang juga dapat membawa masuk agen penyakit. Bahkan air minum, pakan, udara, serta kontaminasi vaksin turut menjadi perhatian ketika agen penyakit masuk ke dalam peternakan.
 
Yuni, Technical Department Manager PT Romindo Primavetcom mengatakan terdapat 6 kelompok penyakit ayam berdasarkan pola kejadian penyakit ayam. Kelompok tersebut yaitu penyakit yang bersifat rutin, penyakit yang merupakan ancaman tetap, penyakit yang muncul pada musim tertentu, penyakit yang tergolong wabah, penyakit yang terbukti secara laboratorik tetapi sulit dibuktikan di peternakan, penyakit yang penyebabnya sulit dibuktikan tetapi masalahnya ditemukan di peternakan.
 
Kelompok penyakit yang bersifat rutin di peternakan merupakan penyakit yang hampir selalu muncul pada setiap periode pemeliharaan ayam. Penyakit termasuk kelompok ini adalah kolibasilosis, Chronic Respiratory Disease (CRD), gumboro, Infectious Coryza (snot), dan koksidiosis.
 
Kelompok penyakit yang merupakan ancaman tetap di peternakan merupakan penyakit yang dapat muncul jika berbagai aspek manajemen menjadi rendah, khususnya program kesehatan. Penyakit termasuk kelompok ini adalah New Castle Disease (ND), Infectious Bronchitis (IB), Mareks Disease (MD), Egg Drop Syndrome-76 (EDS-76), Avian Influenza (AI), dan Infectious Laryngotracheitis (ILT), infestasi cacing (helminthiasis). “Kemudian ada 2 ancaman penyakit untuk peternakan tertentu yaitu fowl pox dan Swollen Head Syndrome (SHS). Khusus untuk ayam bibit ada dua tambahan ancaman penyakit, yaitu viral arthritis dan Avian Ensefalomyelitis (AE),” terang Yuni.
 
Kelompok penyakit yang muncul pada musim tertentu, yaitu pada musim kemarau atau pada musim penghujan adalah kolera, penyakit pernapasan atau pernapasan kompleks, penyakit pencernaan atau pencernaan kompleks. “Juga aspergilosis, leukositozoonosis, infeksi klostridial, spiking mortality syndrome, mikotoksikosis (terutama aflatoksikosis, T-2 toksikosis, okratoksikosis), gangguan pertumbuhan, gangguan produksi telur,” sebutnya.
 
Adapun kelompok penyakit yang terbukti secara laboratorik tetapi sulit terbukti di lapangan misalnya infeksi ALV-J (Mieloid Leukosis), dimana laporan kasus dari bibit broiler (ayam pedaging) terutama pada umur 17 – 24 minggu, tetapi dapat juga pada umur 4 – 9 minggu. Penularan dapat terjadi secara horisontal dan vertikal, sehingga jika ayam bibit terinfeksi dapat mendukung gangguan pertumbuhan pada ayam pedaging turunannya.
 
Sedangkan kelompok penyakit yang sulit dibuktikan secara laboratorik tetapi masalahnya sering dijumpai dilapangan adalah sindrom imunosupresif, berupa gangguan respon terhadap vaksinasi atau pengobatan, peningkatan kepekaan terhadap penyakit dan gangguan pertumbuhan. Gangguan pertumbuhan (kerdil atau lambat tumbuh), banyak terjadi pada ayam pedaging. Kemudian gangguan produksi telur yang disebabkan banyaknya agen penyakit dan dipengaruhi berbagai faktor pendukung penyakit. “Perlu keuletan yang tinggi untuk memecahkan masalah seperti itu,” tegasnya.
 
Yuni mengatakan mitigasi penyakit di peternakan unggas merupakan kegiatan pemetaan penyakit, memperkirakan dan menganalisa dampak risiko penyakit unggas terhadap produktivitas peternakan serta menetapkan langkah strategis dan ekonomis yang tepat untuk pencegahan terjadinya kasus penyakit. “Mitigasi penyakit diperlukan untuk mengantisipasi terjadinya outbreak atau wabah penyakit pada peternakan ayam dan sebagai landasan penyusunan konsep pengebalan ayam dan konsep optimalisasi kesehatan ayam,” tukas Yuni.
 
Mitigasi penyakit di peternakan merupakan serangkaian tindakan yang dilakukan untuk mengurangi dampak penyakit di peternakan unggas. Tujuan utama dilakukannya mitigasi adalah untuk menekan kerugian yang ditimbulkan oleh suatu penyakit dalam peternakan unggas. “Umumnya setiap penyakit akan menimbulkan kerugian yang bervariasi, tergantung dari agen penyakit, tingkat keparahan, ada tidaknya infeksi sekunder, maupun strategi penanganan,” terang Ignatia Tiksa Nurindra, Veterinary Service Coordinator PT Ceva Animal Health Indonesia.
 
Menurut Christina Lilis L., Technical Education and Consultation Manager PT Medion, suatu peternakan perlu memiliki program atau strategi dalam melakukan mitigasi sehingga dapat meminimalkan kemungkinan terjadinya serangan penyakit ataupun ketika sedang terjadi serangan penyakit dapat meminimalkan dampak yang mungkin terjadi. Pada peternakan unggas, poin penting dalam mitigasi risiko penyakit adalah mengontrol masuknya, berkembangnya, dan menyebarnya agen patogen penyebab penyakit.
 
Sementara itu, Erry Setyawan, Technical Manager PT Zoetis Animalhealth Indonesia menuturkan, mitigasi penyakit dilakukan untuk dapat mengenali faktor-faktor risiko yang bisa menjadi penyakit bagi unggas di peternakan. Juga untuk menghindari atau meminimalisir dampak negatif atau kerugian yang muncul akibat dari timbulnya suatu penyakit.
 
Aspek Dalam Mitigasi
Lilis menerangkan, program mitigasi umumnya sudah diterapkan di peternakan unggas untuk mengontrol berbagai macam penyakit yang sering menyerang. Hal yang paling dasar dan umum sebagai bentuk program mitigasi adalah diterapkannya biosekuriti. Mulai dari biosekuriti konseptual, struktural, dan operasional sudah banyak diterapkan di peternakan-peternakan unggas.
 
“Salah satu biosekuriti operasional yang merupakan penerapan mitigasi di peternakan adalah pelaksanaan program kesehatan ayam yang meliputi program vaksinasi, pemberian vitamin, dan suportif lainnya. Di mana tujuan program kesehatan ini untuk meningkatkan kekebalan tubuh ayam terhadap serangan infeksi,” jelasnya.
 
Erry mengatakan semakin tinggi posisi sektor seperti sektor 1 dan 2, umumnya semakin lazim dan baik mitigasinya. Sektor yang dimaksud pada peternakan unggas adalah klasifikasi oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) yang dibuat saat penanganan wabah Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) beberapa tahun lampau.
 
Faktor-faktor yang termasuk dalam tindakan mitigasi penyakit menurut Ismail Kurnia Rambe, Veterinary Service Coordinator PT Ceva Animal Health Indonesia terbagi menjadi 2 yaitu faktor internal dan eksternal. “Faktor internal seperti populasi ternak dalam lokasi peternakan, jenis unggas, program biosekuriti, pengobatan dan vaksinasi yang diberikan, manajemen pemeliharaan yang baik, dan sebagainya. Sedangkan faktor eksternal seperti lokasi peternakan, informasi tantangan penyakit di wilayah tersebut, faktor musim dan cuaca terkait suhu dan kelembapan lingkungan, dan lain-lain,” jabarnya.
 
Yuni menambahkan, tindakan mitigasi penyakit pada musim kemarau berbeda pada musim hujan. Pasalnya, pada musim hujan, suhu udara di dalam kandang menjadi dingin, dan udara dalam kandang menjadi lembap. Sebaliknya pada musim kemarau, suhu udara di dalam kandang menjadi panas, kadar karbondioksida meningkat. Kondisi seperti ini sulit dihindari dan mengakibatkan kematian dengan tingkat mortilitas yang cukup tinggi. 
 
Suhu merupakan salah satu faktor utama yang harus dikendalikan. Setiap tahapan pemeliharaan ayam membutuhkan suhu berbeda agar sesuai dengan metabolisme tubuhnya. Pada saat DOC suhu perlu lebih tinggi dibandingkan dengan normal, sekitar 32 – 34 °C. Setelah itu, mulai turun bertahap sesuai pertambahan umur menjadi 30 °C pada umur satu minggu, 28 – 29 °C pada umur dua minggu, dan 26 – 27 °C pada umur selanjutnya hingga mencapai suhu ideal 18 – 24 °C.
 
“Pentingnya menjaga suhu sesuai dengan kebutuhan ayam bertujuan agar ayam dapat berproduksi secara optimal sesuai dengan potensi genetiknya. Suhu yang terlampau tinggi di atas kebutuhan ayam menyebabkan beberapa masalah. Apalagi bila kejadian suhu tinggi ini dibarengi dengan kelembapan udara yang tinggi juga. Biasanya akan timbul beberapa gangguan diantaranya adalah turunnya feed intake karena ayam cenderung banyak minum, feses encer atau diare, tenggorokan kering dan terjadi peradangan sehingga muncul suara ngorok dan ayam mengalami stres yang biasa disebut dengan stres kepanasan (heat stress),” ulas Yuni. 
 
Di sisi lain, Lilis menyampaikan untuk memudahkan dalam mengingat faktor-faktor mitigasi penyakit, maka dapat disingkat menjadi 3M+1H, yaitu Manusia (SDM/sumber daya manusia), Materi (sarana dan prasarana), Mileu (lingkungan) dan History (data riwayat penyakit). SDM memegang peranan penting dalam mitigasi penyakit di peternakan unggas. Hardskill dan softskill yang dimiliki pekerja sangat diperlukan bagi semua yang terlibat.
 
Selanjutnya sarana dan prasarana menjadi pendukung dari berjalannya program atau strategi yang ada dalam mitigasi penyakit. Keterbatasan sarana dan prasarana di peternakan akan menghambat pelaksanaan strategi mitigasi. Sarana dan prasarana yang memadai dibutuhkan untuk mendukung terlaksananya biosekuriti, vaksinasi, dan strategi mitigasi lainnya berjalan dengan optimal.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 272/Mei 2022

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain