Minggu, 1 Mei 2022

Raup Cuan di Bisnis Broiler

Raup Cuan di Bisnis Broiler

Foto: Istimewa


Untuk bisa Cuan terdapat lima kiat yakni bermitra, mengetahui ilmu tentang peternakan, adaptasi teknologi, menyiapkan modal dan manajemen yang baik
 
Cuan adalah kata yang sudah tidak asing di telinga masyarakat. Cuan sendiri selalu dikaitkan dengan suatu investasi ataupun usaha. Namun apa sebenarnya Cuan itu? Cuan merupakan kata yang diserap dari bahasa Hokkien asal Taiwan yang berarti untung. Untung dalam hal ini adalah dalam berbudidaya broiler (ayam pedaging), yang mana beberapa tahun terakhir ini mengalami guncangan harga live bird/LB (ayam hidup) pada farm gate (tingkat peternak).
 
Pada seminar online yang mengangkat topik ‘Cuan dengan Budidaya Ayam’, peternak broiler di Tasikmalaya, Jawa Barat, Teguh Budi Wibowo membagikan kiat dalam berbisnis ayam pedaging. Peternak broiler yang sudah malang melintang sejak dua dekade lalu ini mengatakan bahwa sesulit apapun masalah yang dihadapi, bukan berarti tidak mungkin sukses. Oleh sebab itu, peternak patut tahu kiat-kiat berbudidaya broiler supaya dapat mencapai kesuksesan.
 
“Berbicara tentang peternakan ayam, sering beredar berita bahwa ayam ini penuh dengan antibiotik dan hormon. Untuk saat ini tidak sama sekali, karena pemerintah sudah melarang penggunaan AGP (Antibiotic Growth Promoters). Selain itu, saya pun mengalami selama pandemi Covid-19 (Coronavirus Disease) ternyata bisnis ayam ini tidak terganggu sama sekali, mulai dari jadwal chick-in dan replacement yang normal,” sebut Teguh seraya lega.
 
Seperti diketahui, ia melanjutkan, 3 – 4 tahun belakangan harga broiler di tingkat peternak tidak pernah bagus bahkan banyak yang gulung tikar. Maka dari itu, untuk bisa Cuan Teguh membagikannya ke dalam lima kiat yakni bermitra, mengetahui ilmu tentang peternakan, adaptasi teknologi, menyiapkan modal dan manajemen serta bisa ditambah dengan doa. 
 
Peternak Mandiri vs Kemitraan
Menurut Teguh, tipe peternak ayam pedaging itu terbagi menjadi dua kategori, yakni mandiri dan kemitraan. Peternak mandiri, artinya semua serba ditangani sendiri, baik membeli sapronak (sarana produksi peternakan), DOC (ayam umur sehari), pakan maupun obat-obatan. Ayamnya pun dipelihara sendiri, dan hasil panen dijual sendiri dengan segala risikonya seperti harga pasar yang fluktuatif, macet di bandar dan lain-lain.
 
Tipe kedua ialah peternak kemitraan, Teguh sendiri merupakan peternak yang memulai usaha dari 2002 dengan ikut kemitraan. “Peternak kemitraan adalah bekerja sama dengan perusahaan inti yang menyediakan sapronak, DOC, pakan dan obat-obatan. Kita memelihara kemudian hasil panennya mereka ambil. Kita bekerja berdasarkan kontrak, begitu pula dengan harga sapornak, DOC, pakan, obat-obatan dan demikian juga dengan harga ayam,” ujar dia.
 
Selanjutnya, Teguh mengatakan bahwa ilmu pengetahuan sekarang mudah untuk didapatkan, hanya saja hubungan dokter hewan dengan insinyur peternakan itu jika dianalogikan seperti teknik sipil dan arsitek. Artinya, dokter hewan atau insinyur peternakan memiliki cara pandang yang berbeda dalam satu peternakan atau tanggung jawab yang berbeda. Ia mengaku menjalankan peternakan ini tidak bisa seorang diri, sebagai dokter hewan saja, harus melibatkan insinyur peternakan yang sekarang berganti menjadi sarjana peternakan.
 
“Pada era 1990-an untuk ayam bisa mencapai bobot badan 2 kilogram (kg), kita membutuhkan waktu pemeliharaan sekitar 42 hari. Namun sekarang cukup dengan 33 hari, ayam saya sudah mencapai bobot 2,0 kg. Ini adalah contoh dari revolusi pakan, saya katakan begitu karena perubahannya sangat cepat. Dulu feed convertion ratio (FCR) 1,7 – 1,8, artinya untuk mendapatkan 1 kg daging butuh 1,7 – 1,8 kg pakan,” ungkap Teguh.
 
Di samping itu, genetik ayam pedaging modern telah dimodifikasi sedemikian rupa, sehingga ayam mampu mengubah pakan secara sangat efisien menjadi daging. Sekarang dengan 1,4 – 1,5 kg pakan, sudah bisa diubah menjadi 1 kg daging. Teguh menilai bahwa ini adalah suatu pertumbuhan yang sangat cepat, sehingga broiler disebut fast growing.
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 272/Mei 2022
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain