Minggu, 1 Mei 2022

Meninjau Alternatif Bahan Pakan Lokal

Meninjau Alternatif Bahan Pakan Lokal

Foto: Istimewa


Dalam menggunakan bahan baku lokal, perlu diperhatikan pengetahuan terkait bahan baku pakan lokal, formulasi pakan dan kebutuhan nutrisi bagi unggas seperti feed manufacturing process
 
Biaya bahan pakan unggas di tingkat global mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Tidak hanya harga bahan bakunya, tetapi juga biaya pengirimannya ke Indonesia. Seperti diketahui, bahwa Indonesia masih bergantung pada penggunaan soybean meal (SBM), meat bone meal (SBM) dan lain-lain yang didapatkan melalui impor.
 
Menanggapi hal ini, pemerintah berupaya untuk mengeksplor bahan pakan lokal yang dapat dimaanfatkan sebagai pengganti bahan pakan impor, baik sumber pakan hewani maupun nabati. Lewat seminar online yang mengangkat topik ‘Pengembangan Bahan Pakan Lokal Substitusi Impor’, para ahli menawarkan solusi beserta manfaatnya.
 
“Terkait dengan kebijakan pakan nasional, saya ingin sampaikan adanya isu global. Pertama yaitu harga bahan pakan di tingkat dunia meningkat semua. Kedua, info dari PT Pelindo (Pelabuhan Indonesia) bahwa armada transportasi kapal laut kini berkurang sangat banyak. Banyak dermaga-dermaga di Eropa, Amerika maupun di Tanjung Priok kini lengang, tidak seperti dulu yang mengantri,” beber Direktur Pakan Ditjen PKH Kementan, Agus Susanto.
 
Artinya, ia melanjutkan, kapal yang berlayar ini sudah berkurang banyak. Kemudian biaya sewa kontainer sekarang juga naik, bisa sampai 5 kali lipat dari harga sebelumnya. Ketiga, ia khawatir negara-negara pengimpor akan mengamankan bahan pangan dan pakannya masing-masing. Keempat Indonesia masih bergantung pada beberapa komponen bahan pakan impor. 
 
Agus pun mengajak seluruh stakeholder peternakan untuk mengembangkan sumber pakan potensial yang tersedia di Indonesia, guna mengantisipasi hal yang tidak diinginkan terjadi. “Ada dua hal penting bagi kita tentang arah kebijakan, yaitu pertama terkait dengan feed security atau jaminan ketersediaan pakan, baik untuk unggas maupun ruminansia. Kemudian yang kedua feed savety yaitu terkait dengan peningkatan jaminan mutu serta keamanan pakan yang diproduksi dan diedarkan,” sebut dia.
 
Komersialisasi Bahan Pakan Lokal
Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum GPMT (Gabungan Perusahaan Makanan Ternak), Desianto Budi Utomo menyampaikan masukan untuk lebih fokus dalam scalling up atau komersialisasi atau hilirisasi dari kacang koro pedang maupun maggot. Untuk itu berpikirnya sudah skala industrial, yaitu bagaimana caranya bisa menyuplai sehingga kontinuitas, kualitas dan harganya terjaga. Sebab jika kualitas bagus, suplainya ada tetapi harganya tidak masuk itu akan mengurangi kesempatan pemakaian bahan baku lokal.
 
“Alternatif bahan pakan lokal untuk industri pakan itu banyak dari sumber bahan baku nabati, hewani, maupun yang lain. Dari sumber protein, perlu diketahui bahwa kita itu masih defisit, sementara untuk sumber karbohidrat atau energi seperti jagung harganya mahal. Kendati demikian, dari perspektif sumber bahan baku pakan untuk energi, kita masih bisa swasembada,” tutur dia.
 
Meski begitu, sumber bahan baku pakan berbasis protein, baik nabati maupun hewani masih impor seperti SBM, MBM dan poultry meal. Jika magot bisa dikembangkan dalam skala industri dan bisa dikomersialisasikan, harganya lebih kompetitif, mungkin pabrik pakan akan berpikir dua kali untuk memakai sumber bahan pakan lokal, guna melakukan substitusi terhadap bahan impor SBM maupun MBM.
 
Indonesia memiliki tepung sebagai sumber protein nabati, seperti tepung bungkil sawit, bungkil kelapa, daun turi, serta daun lamtoro yang pernah dipakai juga. “Ada pula bungkil biji karet, eceng gondok, dedak, dedak padi, jagung lokal dan rumput laut. Sedangkan sumber protein hewani lokal seperti tepung keong, keong mas pernah kita coba juga tapi skalanya masih skala industrial, tepung ikan lokal, tepung darah, tepung dedak, udang, limbah ikan asin, termasuk tepung bulu atau feather meal serta peoduk tepung lainnya,” jabar dia.
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 272/Mei 2022

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain