Minggu, 1 Mei 2022

Kunci Keseragaman pada Pullet

Kunci Keseragaman pada Pullet

Foto: Istimewa


Keseragaman pullet menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan pada saat produksi, diperlukan strategi untuk menghasilkan pullet dengan keseragaman yang baik
 
Pullet merupakan merupakan istilah yang diberikan pada layer (ayam petelur) dara yang siap untuk bertelur. Pullet dari ayam petelur dipelihara mulai dari 0 – 16 minggu. Berdasarkan kebutuhan nutrisinya, pullet terbagi atas 2 fase, yakni fase starter pada umur 0 – 5 minggu dan fase grower pada 6 – 16 minggu. Fase starter sering disebut dengan fase brooding, dimana pullet masih membutuhkan panas untuk membantu pertumbuhannya. Pada fase ini mayoritas semua organ-organ penting seperti organ pernapasan, pencernaan, maupun kekebalan akan tumbuh dengan pesat. Sedangkan pada fase grower atau fase pertumbuhan, merupakan fase yang tidak kalah penting. Pasalnya, kualitas ayam pada akhir fase ini akan sangat menentukan keberhasilan pada fase produksi yang akan datang.
 
Hal-hal tersebut disampaikan oleh Cholil, Direct Assistant Manager PT Medion pada Selasa (29/3) melalui live streaming Medion. Ia juga mengatakan bahwa proses pemeliharaan pullet dapat mempengaruhi kualitas maupun kuantitas dalam pencapaian produksi. “Ketika di lapangan banyak peternak mengeluhkan terkait dengan pencapaian produksi telur yang tidak maksimal meskipun sudah dilakukan berbagai macam upaya untuk memperbaiki pada fase produksi. Pencapaian standar produksi tidak seperti yang diharapkan sesuai dengan standar produksi dari masing-masing strain ayam. Bisa jadi, karena memang kita kurang perhatian terhadap faktor keseragaman pada fase pullet ini,” jelasnya.
 
Keseragaman yang baik dapat diartikan bahwa dalam 1 populasi ayam mempunyai kesamaan. Kondisi ini tentunya sebagai syarat penting agar produksi telur nantinya bisa mencapai puncak produksi. Sebaliknya, jika keseragaman ayam dari awal sudah tidak optimal, tentunya ketika memasuki waktu produksi, produksi tidak akan seragam. Artinya tidak akan mencapai puncak produksi karena keseragaman kurang bagus. 
 
“Kalau dilihat berdasarkan polanya, pada umur 18 minggu produksi telur biasanya mulai dari 3 – 5 %, kemudian di umur 20 – 21 minggu produksi harus sudah di atas 50 %. Selanjutnya, di umur 23 – 24 minggu harusnya sudah bisa mencapai puncak produksi. Setelah mencapai puncak produksi, polanya perlahan akan turun. Pola seperti ini hampir sama di berbagai macam strain, dan salah satu kuncinya ada pada keseragaman. Jika  keseragaman kurang bagus, tentunya pola seperti ini akan sulit kita dapatkan,” paparnya.
 
Target Pemeliharaan Pullet
Laju pertumbuhan dari perkembangan organ, kerangka maupun otot memiliki polanya masing-masing. Pertumbuhan organ baik pernapasan, pencernaan, maupun kekebalan akan maksimal  pada usia 4 – 6 minggu. Sama halnya dengan otot, Cholil mengatakan pertumbuhan otot akan tumbuh maksimal sekitar umur 6 – 8 minggu, kemudian menemukan titik jenuhnya dan setelah itu akan turun. Demikian juga kerangka, harus berkembang secara optimal pada umur 8 – 10 minggu. “Ketertinggalan pada masing-masing pola pertumbuhan, tetunya tidak bisa kita kompensasi pada fase-fase berikutnya,” ucapnya. 
 
Pencapaian bobot badan (BB), merupakan suatu indikator yang baik untuk membaca kecukupan nutrisi yang kita berikan pada ayam. Pencapaian BB tidak akan bisa sesuai standar kalau asupan pakan dan asupan nutrisinya tidak terpenuhi. “Jika BB tidak tercapai tentunya akan membawa dampak ke depannya dari keterlambatan produksi, maupun dari persentase hen day-nya, ataupun dari kualitas telur yang kita dapatkan,” tuturnya.
 
Lebih lanjut, ia mengutarakan bahwa target keseragaman BB ini 85 % dengan standar deviasi 10 %. Misalnya di umur 12 minggu BB kurang lebih 1.050 gram, maka BB dapat dikategorikan masuk standar dengan rentang 945 – 1.155 gram. “Semakin tinggi tingkat keseragaman, otomatis ke depannya lebih optimis untuk bisa menghasilkan produksi yang lebih bagus lagi,” imbuhnya.
 
Selain itu, ukuran kerangka yang optimal akan sangat berpengaruh terhadap produksi dan kualitas telur ke depannya. “Pada saat proses pembentukkan telur, kalsium pada kerangka tubuh akan diambil untuk dideposisikan pada kerabang telur. Setelah selesai, kerangka ini akan dibentuk kembali dengan suplai kalsium dan fosfor dari ransumnya. Kerangka tubuh yang kecil tentunya akan mensuplai kalsium yang sedikit pula, pasti ada korelasinya. Tentunya kondisi ini akan menyebabkan ukuran telur juga akan relatif lebih kecil. Makanya standar dari pertumbuhan kerangka harus dapat dicapai,” bebernya.
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 272/Mei 2022
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain