Minggu, 1 Mei 2022

Penguatan Teknologi pada Broiler

Broiler modern lebih sensitif terhadap perubahan lingkungan. Menuntut pelaku usaha untuk melek teknologi agar bisnis yang dijalankan menguntungkan 
 
Permasalahan yang kerap menghantui perunggasan nasional dapat dikatakan mengkhawatirkan pada akhir-akhir ini. Khususnya pada broiler (ayam pedaging), permasalahan seperti, kelebihan pasokan (oversupply) menyebabkan harga ayam hidup (live birds/LB) di tingkat peternak dibawah Harga Pokok Produksi (HPP).
 
Hal tersebut juga imbas kenaikan harga bahan baku pakan yang sebagian masih dipenuhi dari impor. Kondisi seperti ini kerap kali merundung pelaku usaha perunggasan di tanah air. Bahkan akibat hantaman pandemi Covid-19 menyebabkan permintaan pasar menjadi lesu terhadap kebutuhan daging broiler. Kendati demikian, pelaku usaha diharapkan tetap optimis menghadapi dinamika yang terjadi. Artinya, pelaku usaha dituntut agar tetap meningkatkan efisiensi pada budidaya broiler guna menekan biaya pokok produksi supaya menghasilkan produk yang berdaya saing dan kompetitif.
 
Dosen Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Galuh Adi Insani menerangkan, guna meningkatkan efisiensi budidaya broiler tidak bisa disampingkan fungsi teknologi. Teknologi yang digunakan bertujuan memantau kondisi broiler pada saat pemeliharaan sekaligus mempermudah pelaku usaha. Pasalnya, perbaikan bibit broiler yang ada di tanah air asal muasalnya dari benua Eropa dan Amerika yang notabene memiliki iklim subtropis. Sementara broiler diminta hidup di lingkungan tropis otomatis performanya jelas akan menurun. 
 
“Lebih lanjut, ternak itu semakin diperbaiki genetiknya akan semakin manja pula pemeliharaannya. Dengan kata lain, genetik dan lingkungan harus saling mendukung. Genetik merupakan kemampuan, adapun lingkungan yakni kesempatan. Sebagus apapun kemampuannya, apabila tidak didukung dengan kesempatan yang ada, juga tidak akan optimal pun sebaliknya,” paparya saat mengikuti webinar online yang diprakarsai Pengurus Besar Perkumpulan Insinyur dan Sarjana Peternakan Indonesia (PB ISPI) wilayah Sumatera Utara beberapa waktu yang lalu. 
 
Beralih ke Closed House 
Taopik Robina, Praktisi Perunggasan di Sumatera Utara menambahkan, umpamanya broiler mengalami kondisi panas yang berlebihan otomatis sehingga energi yang didapatkan dari sumber pakan akan sia-sia, mengakibatkan performa broiler menurun. Di sisi lain, pakan merupakan faktor penentu terbesar terhadap HPP.
 
Jika pakan terbuang sia-sia maka yang terjadi FCR (konversi pakan) akan tinggi dan menyebabkan kerugian. “Guna menyiasati performa broiler tetap optimal diperlukan kondisi lingkungan yang mampu dikontrol, salah satunya penggunaan perkandangan dengan CH/Closed House (kandang tertutup),” kata Taopik. 
 
Ia mengklaim, peternak mitranya kini terdapat 40 % yang telah menggunakan CH khususnya di Sumut. Dengan tantangan perubahan iklim yang ada, ke depannya peternak di Sumut akan terus bergerak untuk beralih ke CH. Adapun CH pada umumnya terdapat inlet di bagian ujung depan lalu tunnel sebagai lorong untuk pemeliharaan. Adapun outlet yang berada di ujung belakang terdapat exhaust fan (kipas penghisap) dari dalam kandang. Sehingga udara dari inlet didorong ke belakang dengan exhaust fan. “CH itu dibuat berdasarkan sistem dan konsepnya bukan kemewahannya. Pasalnya, investasi yang dikeluarkan juga begitu banyak,” imbuhnya. 
 
Lebih lanjut, ia menggaris bawahi, konsep dari CH terpenting ialah insulasi atau penyekatan kandang. Artinya, udara dari luar yang masuk kedalam kandang hanya berasal dari inlet. Dipastikan tidak ada kebocoran baik yang menggunakan bahan/alat sederhana maupun dengan kualitas yang baik. “Adapun potensi kebocoran itu biasanya berasal dari tirai pemasangan exhaust fan serta pemasangan tirai-tirai yang berada di samping,” kata dia. 
 
Adanya CH, lanjut Taopik akan meningkatkan densitas (kepadatan) pada broiler. Dengan tantangan perubahan lingkungan yang semakin berat, apabila menggunakan kandang terbuka, kini standar hanya berkisar 8-10 per meter persegi. Sementara dengan CH, mampu menampung 16 ekor per meter persegi. “Tentu Ini akan meningkatkan efisensi produksi untuk mengimbangi tantangan fluktuasi harga ayam di pasar. Di sisi lain, tantangan penyakit yang dihadapi lebih terkontrol dengan menggunakan CH,” cetusnya. 
 
Tentunya hal tersebut didukung dengan ventilasi (sirkulasi udara) pada CH guna memberikan kenyamanan untuk menunjang performa broiler. Menurutnya, tipe ventilasi pada CH yakni cross ventilation, tunnel ventilation, serta combi-tunnel. Cross ventilation banyak diaplikasikan pada area-area dengan kelembapan dan suhu yang ekstrim seperti di negara eropa yang memiliki iklim subtropis. Sementara di tanah air kebanyakan menggunakan tunnel ventilation. Adapun combi-tunnel yang menggabungkan cross ventilation serta tunnel ventilation memang secara aspek produksi lebih baik, di sisi lain biaya yang dibutuhkan juga lebih besar. “Itulah alasan mengapa di komersial broiler belum mampu menggunakan combi-tunnel,” ujar Taopik. 
 
IoT di Kandang
Meskipun telah menggunakan CH, pelaku usaha juga dituntut memiliki data recording (pencatatan) apabila tidak ada data recording khususnya bagi peternak pemula dikhawatirkan salah dalam mendiagnosa. Fatalnya lagi, salah dalam mengambil keputusan. Jika ada recording bisa mengetahui penyebabnya semisal kadar amoniaknya tinggi. Mengingat, saat pemeliharaan broiler tidak melulu faktor suhu dan kelembapan yang menjadi tolak ukur yang diperhatikan. 
 
 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 272/Mei 2022

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain