Minggu, 1 Mei 2022

Tri Hardiyanto: Ekosistem Usaha di Perunggasan

Kondisi industri perunggasan saat ini seperti terkelompokkan. Pertama, ada dua pelaku besar terintegrasi dari hulu sampai hilir yang mempunyai pangsa pasar dengan jumlah total kurang lebih sebanyak 50 persen. Kedua, ada kelompok integrasi tapi belum sempurna misalnya hanya punya feedmill (pabrik pakan) dan breeding (pembibitan). Kelompok ini pangsa pasarnya kurang lebih 30 persen.
 
Kelompok terakhir, rata – rata pelaku usaha yang merupakan anggota asosiasi perunggasan dengan jumlah pangsa pasarnya maksimal 20 persen dan tidak tersebar di seluruh Indonesia. Hanya berada di pulau Jawa dan Sumatera serta beberapa di Kalimantan dan Sulawesi.
 
Situasi ini akan menjadi sebuah persaingan yang terlihat kurang sehat manakala kondisi industri perunggasan tanah air tidak kondusif seperti yang terjadi pada 2019 sampai sekarang. Imbasnya, kelompok yang pangsa pasarnya 20 persen menjadi terhimpit. Bahkan mungkin saat ini peternak mandiri yang merupakan kelompok terakhir, jumlahnya akan lebih berkurang lagi.
 
Saat ini kemampuan peternak rakyat/mandiri semakin lemah. Peternak akan mampu bertahan sampai harga jual live bird (ayam hidup) di atas HPP (Harga Pokok Produksi). Apalagi para peternak di masa pendemi Covid-19 ini tidak berpikir untung tetapi berpikir bagaimana usaha ini terus berjalan atau tetap bisa hidup.
 
Untuk bisa tetap hidup, pastinya peternak rakyat/mandiri harus mengefisiensikan diri. Mendapat DOC (ayam umur sehari) yang harga relatif terjangkau dan kualitas yang baik. Mendapat pakan yang juga dengan harga terjangkau dan berkualitas baik sehingga mampu menekan HPP. Kalaulah rugi, yang penting usaha masih bisa berputar kembali meskipun mengecil. 
 
Saling Berintegrasi
Dengan kondisi ekonomi dan industri perunggasan saat ini, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai ada masalah di peternak yang belum menjalankan usahanya secara terintegrasi. Berbeda halnya dengan kelompok 1 dan 2 masih bisa bertahan karena usahanya sudah terintegrasi. Sementara kelompok ke-3 atau peternak mandiri masih hanya beternak secara penuh sehingga banyak yang tidak bisa bertahan menghadapi berbagai persoalan yang ada.
Melihat kondisi tersebut, Kadin Indonesia melakukan upaya bagaimana pelaku usaha dapat bertahan dengan kondisi saat ini. Dimana industri perunggasan iklim usahanya sedang kurang kondusif, seperti harga jual ayam hidup yang di bawah HPP, harga pakan yang terus meningkat, serta harga DOC yang masih tinggi bagi peternak mandiri.
 
Kadin memang tidak terlalu berupaya ke arah kebijakan, tetapi lebih kepada bagaimana membuat ekosistem usaha baru yang akan ditawarkan kepada para pelaku usaha dan pemerintah agar semua pihak bisa bertahan. Ekosistem usaha baru tersebut bernama Inclusive Closed Loop di perunggasan nasional.
Inclusive Closed Loop di perunggasan memang saat ini sedang dirancang, tetapi setidaknya dengan melakukan kerjasama – kerjasama diantara pelaku usaha di industri perunggasan yang merupakan sebuah ekosistem terintegrasi diharapkan semua pelaku usaha bisa bertahan baik yang sudah terintegrasi penuh, semi integrasi, maupun peternak mandiri.
 
Setelah model ekosistem usaha ini diterima pelaku usaha dan pemerintah, maka yang dibutuhkan selanjutnya adalah kebijakan yang mendukung. Keberpihakan pemerintah pusat dan daerah harus sejalan dengan model ekosistem usaha ini. Jadi, alur terobosan ini dibuat terbalik, tidak mengadvokasi dari peraturan – peraturan yang dikeluarkan pemerintah tetapi dibuatkan terlebih dahulu model ekosistemnya.
 
Tantangan selanjutnya adalah bagaimana menciptakan Inclusive Closed Loop di perunggasan supaya semua pelaku usaha bisa tumbuh. Mengingat Kadin berpihak kepada semua pelaku usaha agar tidak ada yang tersingkir. Harapannya, pihak yang sudah setengah mati bisa bangun kembali dan pihak yang sudah mati bisa hidup kembali untuk semua unit usaha di industri perunggasan, baik peternak, pabrik pakan, maupun breeding (pembibitan).
 
Selain itu, Inclusive Closed Loop akan menjadi cara pandang ke depan dan seiring dengan resiliensi (penguatan) industri perunggasan dari hulu sampai hilir. Tujuannya agar semua pelaku usaha dapat berkembang mulai dari pelaku yang kecil, sedang sampai yang besar dapat bergandeng tangan.
 
Melalui model ekosistem Inclusive Closed Loop di perunggasan ini diharapkan pada tahun ke-2 dan 3 sudah akan terlihat hasilnya. Misalnya, terkait komponen penting dalam beternak unggas yaitu DOC, nantinya semua pihak dapat dengan mudah mengakses bibit ayam baik GPS (Grand Parent Stock), PS (Parent Stock), dan FS (Final Stock) karena saat ini tidak seperti itu. 
 
Hal yang sama juga untuk pakan. Walaupun saat ini ada beberapa jenis bahan pakan impor yang sulit didapatkan dan tidak dapat digantikan tetapi diharapkan nantinya pemerintah akan membantu lebih banyak lagi untuk permasalahan tersebut. Sehingga pelaku usaha dapat mengakses bibit dan pakan unggas dengan harga yang terjangkau.
 
Ke depan diharapkan semua pelaku yang menjalankan model ekosistem Inclusive Closed Loop bisa mengakses semuanya, mulai dari bibit, pakan, sampai ke pasarnya. Untuk pasarnya tidak hanya ayam hidup, tetapi rumah potong ayam, serta olahan. 
 
Jika ekosistem ini sudah terbentuk, diharapkan kelompok 1 membenahi dan tidak menggoyang pasar tetapi menyerap semua produksinya dengan baik. Kelompok 2, membenahi diri dengan bekerjasama antar mereka serta pelaku usaha kecil. Sehingga akan ada mini integrasi yang berdampingan dengan raksasa integrasi. Kondisi tersebut tidak ada masalah, karena peternak – peternak mandiri akan berpartisipasi dan memiliki aset juga melalui Inclusive Closed Loop ini.
Adapun pola kemitraan merupakan bagian dari Inclusive Closed Loop ini karena ada peternak yang tidak mau pusing dan hanya ingin menjadi mitra atau plasma. Tetapi, ada juga peternak yang mau menjadi inti. Dan kalau inti, sudah tidak bisa mandiri tetapi harus dalam rantai integrasi. 
 
Respon Positif
Model ekosistem Inclusive Closed Loop yang digagas Kadin Indonesia ini sudah direspon oleh beberapa pelaku usaha perunggasan tanah air yang mengaku tertarik. Apalagi jika nanti hasilnya bagus, diyakini para pelaku usaha industri perunggasan nasional akan banyak yang ikut bergabung. 
 
Disisi manajemen produksi, semua pelaku usaha sudah paham betul. Tetapi bagaimana mengubah pola pikir terhadap efisiensi budidaya merupakan sesuatu keniscayaan. Walaupun dalam mencapai efisiensi sendiri peternak menghadapi kendala dalam mengakses modal investasinya.
 
Permasalahan permodalan juga melalui Inclusive Closed Loop ini akan dicarikan solusinya. Seperti melalui kerjasama dengan pihak perbankan. Tentu akan ada persyaratan untuk mengakses permodalan ini misanya jumlah populasi yang layak untuk dipelihara sehingga menjadi efisien untuk semua unit dalam berbudidaya unggas agar dapat berdaya saing.
 
Pada tahap awal, model ekosistem Inclusive Closed Loop di perunggasan ini diharapkan akan mengerek dari peternak mikro menjadi kecil, lalu peternak kecil menjadi peternak skala menengah. Dan nantinya, dengan kerjasama ini semua pihak bisa menggerek kepada kenaikan level setiap kelompok usaha.
Untuk target jangka pendek model ekosistem Inclusive Closed Loop ini, diantaranya mencari para pelopor mulai dari peternak, breeding farm, pabrik pakan, rumah potong ayam dan industri olahan yang mau membangun percontohan ini dan menjadi putaran ekosistem yang baik. 
 
Yang perlu ditekankan adalah dalam menjalankan model ekosistem Inclusive Closed Loop tidak digeneralisir, tetapi nanti akan ada modifikasi – modifikasi yang sesuai dengan budaya dan kultur masyarakat di setiap daerah. Tentunya, upaya ini harus didukung oleh semua pihak agar dapat berjalan sesuai harapan. 
Harapan besar dari diterapkannya model ekosistem Inclusive Closed Loop ini yaitu bisa menjadi lokomotif untuk menarik pelaku usaha menjadi naik level, terutama pelaku usaha yang kecil. Orientasinya, bagaimana peternak kecil ini akan menjadi bagian dari industri perunggasan dan tidak menjadi buruh di negeri sendiri.
 
KADIN Indonesia sebagai rumah besar tempat berkumpulnya para pelaku usaha lintas komoditas menjadi wadah untuk dapat memudahkan koordinasi terhadap permasalahan yang dihadapi pelaku usaha. Misalnya, jika peternakan mempunyai permasalahan terkait ketersediaan jagung, maka akan berkoordinasi dengan pelaku usaha jagung.
 
Ke depan diyakini dan optimis jika industri perunggasan tanah air akan berkembang, jika pelaku usaha yang sudah terintegrasi menyelesaikan rantai integrasinya. Produk ayamnya tidak digelontorkan dalam bentuk apapun ke pasar becek tetapi melakukan ekspor ataupun mengisi pangsa pasar khusus di dalam negeri. TROBOS
 
 

 

Ketua Komite Tetap Peternakan KADIN Indonesia
Ketua Dewan Pembina GOPAN (Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional)
 
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain