Minggu, 1 Mei 2022

Mewujudkan Resiliensi Perunggasan

Mewujudkan Resiliensi Perunggasan

Foto: Istimewa


Resiliensi alias ketangguhan industri perunggasan dapat tercapai dengan efisiensi pada setiap mata rantai nilai, kualitas sumber daya manusia yang mumpuni, dan sinergi seluruh stakeholder 
 
Industri perunggasan (masih) mengalami ketimpangan luar biasa, antara perusahaan integrator dengan peternak rakyat/mandiri – terlepas dari kontroversi diksi umum peternak rakyat/mandiri yang sampai sekarang belum terbakukan definisinya. Di sisi lain, integrator yang secara kasat sedemikian kuat ternyata belum berdaya saing, bak telur diujung tanduk menghadapi ancaman karkas murah Amerika Latin yang terus menggedor. 
 
Begawan ekonomi pertanian nasional – Prof Bungaran Saragih menyampaikan akar dari problema menggurita itu, berpijak pada satu kalimat. Industri perunggasan bertumbuh tetapi tidak diimbangi dengan sustainable development. Bertumbuh terus, tapi lemah tingkat keberlanjutannya. Sehingga  tidak resilien, bahkan semakin rentan jika para pihak yang terlibat tidak segera bangun untuk memperbaiki. Perbaikan dilakukan secara urut pada level makro kemudian dilanjutkan secara detail pada industri dan terus ke level perusahaan-perusahaan.
 
“Saya menggambarkan perunggasan, seperti anak-anak kecil tumbuh menjadi besar. Tapi strukturnya tidak sempurna sehingga lemah. Harus cepat berobat, atau ada usaha untuk memperbaiki diri,” saran Menteri Pertanian Periode 2000 – 2004 Kabinet Gotong Royong ini pada Indonesia Poultry Club (IPC) bertema “Memperkuat Resiliensi di Industri Perunggasan” yang digagas majalah TROBOS Livestock dan disiapkan TComm (TROBOS Communication) yang digelar secara daring, Selasa (19/4).
 
Pada forum think tank yang disponsori PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk; PT Ceva Animal Health Indonesia; PT Malindo Feedmill Tbk; serta PT Hubbard Indonesia ini, hadir pula sebagai narasumber Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan IPB University – Prof Muladno; Ketua Federasi Masyarakat Perunggasan Indonesia (FMPI) – Don P Utoyo; Dekan Sekolah Vokasi IPB University – Prof Arief Daryanto; Kepala Bagian Bisnis dan Kewirausahaan Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University – Prof Rachmat Pambudy; serta Ketua Badan Kejuruan Teknik Peternakan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) sekaligus Ketua Dewan Pengurus Provinsi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPP HKTI) DI Yogyakarta – Prof Ali Agus.
 
Menurut Bungaran, industri perunggasan merupakan penghasil pangan hewani strategis yang nilainya sangat besar tetapi keberlanjutannya rendah karena daya saingnya lemah. “Kita selalu mengalami keributan besar, dari peternak mandiri dan perusahaan-perusahaan. Kita sampai tidak tahu siapa yang salah, apakah peternak mandiri yang tidak siap menghadapi perubahan ataukah perusahaan besar yang tidak mampu mendengar masalah di bawah,” tutur dia. 
 
Don P Utoyo menyatakan, keberlanjutan industri perunggasan dapat dibangun dengan kerjasama 5P, yaitu pemerintah, peternak, pengusaha, perguruan tinggi, dan pers. Peternak mandiri dan pengusaha perunggasan integrasi. Begitu pula pers, dapat menjadi perekat hubungan antar komponen 5P itu, sarana promosi, dan menyuarakan agar perunggasan juga tumbuh merata di luar Jawa. Pers dapat mengembangkan perannya dalam analisis industri bahkan market inteligence di dalam maupun luar negeri. 
 
Hipotesis
Bungaran menyodorkan 3 poin hipotesis dari perspektif ekonomi makro. Pertama, struktur agribisnis perunggasan dalam negeri tidak efisien. Struktur agribisnis disusun dari hulu sampai kepada konsumen. Diakui atau tidak, banyak terjadi inefisiensi, mulai dari indsutri pakan, sumber bahan pakan, sampai ke budidaya dan pasca panen. Dipandangnya bisnis ini belum melakukan perubahan fundamental sejak era 1980-an. 
 
“Pelaku dan kebijakan pun masih juga berorientasi di Jawa dan Sumatera, pada industri hulu peternakan (pakan dll) maupun industri perunggasannya. Memang konsumen terbesar ada di situ, bahan pakan juga, namun sekarang, sumber daya di dua pulau itu juga semakin terbatas,” jelas dia.
 
Maka, menurut dia, industri harus mampu membuat sistem produksi terpadu di mana bahan baku pakan ada di lokasi pabrik pakan dan budidaya ayamnya. Saat ini, kalaupun ada pabrik pakan di dekat sentra jagung, namun proses selanjutnya ada di tempat lebih jauh lagi. 
 
“Adanya stunting, konsumen berdaya beli rendah, telur dan daging ayam paling murah dan mudah untuk memperbaiki gizi itu. Maka akan ada tuntutan berat penyediaan daging ayam murah – secara politik – kepada perunggasan domestik. Jika tidak mampu, maka suka tidak suka daging ayam murah impor akan mengisi ruang kebutuhan daging ayam karena tuntutan politis,” dia menjelaskan. Risiko ini, dia melanjutkan, kalau tidak cepat-cepat diatasi, akan segera terjadi dan perunggasan akan mengalami kesulitan luar biasa pada 5-10 tahun lagi. 
 
Kedua, kerjasama win – win antara pengusaha peternak dan pemerintah masih belum terjadi. Industri belum mampu menjelaskan realitanya sendiri dan meyakinkan pemerintah akan kebutuhannya. Sebagai contoh, soal kebutuhan pasokan jagung global sebagai bahan baku utama pakan. Bagi Bungaran, ini juga merupakan salah satu sumber inefisiensi dan lemahnya daya saing. Maka kemampuan bernegosiasi sangat penting, misalnya meminta agar diizinkan impor jagung untuk menurunkan biaya produksi unggas yang berorientasi ekspor. Terlebih, sistem informasi hari ini sangat memungkinkan untuk mengontrol jumlah dan rasio jagung yang diimpor vs  produk unggas yang diekspor secara realtime. 
 
“Ketiga, kebijakan pemerintah yang konsisten dan memperkuat resiliensi ini sangat dibutuhkan. Perubahan-perubahan bukan hanya dari sektor pertanian perunggasan saja, namun kebijakan ekonomi secara luas dari tingkat nasional sampai ke daerah,” tuntut Bungaran. 
 
Policy Making
Bungaran menyatakan policy making saat ini kurang smart dan perilaku swasta yang selalu ingin dibantu. Dia pun mengajak untuk mengubah cara berbisnis dan cara pengambilan kebijakan pemerintah yang pro efisiensi dan daya saing industri. “Indonesia menghormati kapital, tapi tidak berarti menjadi kapitalis. Resiliensi itu ada di kemitraan antara pemerintah, pengusaha besar dan pengusaha kecil untuk menangkap peluang melalui efisiensi, peningkatan konsumsi dalam negeri, orientasi ekspor sekaligus menyelesaikan masalah gizi yang buruk dan stunting,” dia mengatakan.
 
Diberikannya contoh, bisa saja pemerintah membuat kebijakan komprehensif untuk menaikkan konsumsi daging dan telur unggas 2 kali lipat, yang akan ditangkap oleh industri sebagai peluang besar untuk berkembang 100 %. Namun pemerintah juga harus mengarahkan industri perunggasan agar bisa mengisi program pemerataan gizi dan pengentasan stunting. 
 
“Pemerintah beri fasilitas di input, ketika industri sanggup, diberi proteksi dan dibantu promosi. Silahkan efisienkan bisnis, hasilkan produk dengan harga lebih murah. Namun kalau tetap tidak  efisien, katakan buka impor daging murah untuk hapus stunting itu. Arahan itu yang sampai saat ini tidak datang, padahal itu mudah dikerjakan dan murah. Bank bermain untuk pembiayaannya. Tidak perlu ada fighting, diatur agar semua berkesempatan mengisi peningkatan konsumsi ini. Tidak lagi ada oversuplai karena konsumsi naik terus. Kita harus ubah cara bisnis dan policy making. Be smart government, be cooperative company,” ungkapnya gemas. 
 
Rachmat Pambudy memandang resiliensi tidak akan lepas dari efisiensi, dan efisiensi pun bukan semata soal manajemen internal industri, melainkan sangat dipengaruhi oleh regulasi. Disodorkannya 3 pokok pikiran mengenai regulasi ini. Pertama, sebelum menyusun regulasi, harus diluruskan niatnya, regulasi seharusnya disusun untuk menyelesaikan masalah bukan membuat masalah baru. 
 
Dia pun menyentil stakeholder perunggasan yang masih terjangkit sindrom “ruwet”, menghadapi masalah selalu dari sisi sulitnya. Padahal, telah berkali-kali terbukti masyarakat Indonesia memiliki kemampuan self healing luar biasa. “Kita tentu ingat, perunggasan ini pernah mau mati, dihantam krisis, dihantam impor CLQ (chicken leg quarter), tapi tetap saja hidup sampai sekarang. Indonesia itu hebat. Maka perlu pemerintahan yang lebih hebat, smart, wise, tegas, visioner,” ungkapnya bersemangat.
 
 
 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 272/Mei 2022

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain