Minggu, 1 Mei 2022

Potensi Budidaya Rusa Timor

Potensi Budidaya Rusa Timor

Foto: Istimewa


Pemanfaatan Rusa Timor sebagai hewan ternak memiliki prospek bisnis yang menjanjikan, namun sebagai satwa yang dilindungi, usaha pelestarian harus tetap dijalankan
 
Pemanfaatan rusa sebagai salah satu sumber protein di Indonesia bukanlah merupakan suatu hal yang baru bagi masyarakat, namun rusa sendiri merupakan satwa buruan yang dilakukan secara ilegal. Oleh sebab itu, pengembangan dan penangkaran rusa sebagai hewan ternak merupakan salah satu cara yang terbaik berdasarkan sisi perlindungan dan pemanfaatan satwa liar.
 
Terkait dengan relatif rendahnya tingkat konsumsi protein hewani pada masyarakat di Indonesia, diperlukan usaha untuk memperoleh sumber protein hewan ternak yang baru. Yang memiliki potensi setara atau bahkan lebih baik dengan ternak konvensional pada umumnya.
 
Daud Samsudewa, Dosen sekaligus Peneliti Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, mengatakan terdapat 4 jenis rusa yang endemik di Indonesia. Di antaranta yaitu Rusa Timor (Rusa timorensis), Rusa Sambar (Cervus unicolor), Rusa Bawean (Axis kuhlii) dan Kijang (Muntiacus muntjak). Selain itu, terdapat 1 rusa introduksi dari India yaitu Rusa Totol (Axis axis).
 
Karakteristik dan Potensi Rusa Timor
Menurut Daud Rusa Timor memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan rusa-rusa lainnya. Seperti misalnya daya adaptasi terhadap lingkunganya cukup tinggi dan mudah dikembang biakkan, sehingga dapat tersebar di beberapa tempat mulasi dari Aceh hingga Papua. Kemudian daya tahannya juga tinggi, tingkat stres dalam perjalanan juga rendah. 
 
Sementara dari sisi karkas, jumlah karkas Rusa Timor lebih tinggi dibandingkan Rusa Sambar dan Rusa Bawean. “Selain itu, konsumsi Rusa Timor juga terbilang mudah. Pada pakannya kami dapat menggunakan rumput gajah, rumput odot, jerami kacang tanah, jerami jagung. Konsentrat juga kami berikan dengan kualitas protein kasar (PK) di bawah 10 – 20 % tidak menjadi masalah,” sebutnya.
 
Lanjut Daud dari sisi ekonomi, yang pernah dihitung dengan jumlah awal rusa 32 ekor, dengan dana investasi awal Rp 172 juta, muncul data Net Present Value (NPV) sekitar Rp 24 juta, Internal Rate of Return (IRR) 22 %, dan Payback Periode 4 tahun 11 bulan dengan harapan semua investasi akan kembali. “Kalau ditanya layak atau tidaknya, maka ini sangat layak. Karena biasanya Payback Periode sekitar 10 tahun, ini hanya 4 tahun 11 bulan,” paparnya.
 
Keunggulan Daging Rusa
Berdasarkan riset yang telah dilakukan, Daud mengemukakan karkas rusa dapat mencapai 62 % dan lebih tinggi jika dibandingkan dengan ternak setaranya yaitu kambing yang hanya memiliki karkas maksimum 55 %. Sedangkan dagingnya sendiri dapat mencapai 38 % dari bobot badannya. “1 ekor rusa jantan yang kami potong dengan bobot rata-rata 60 – 70 kg, maka akan memperoleh bobot karkas sekitar 32 – 36 kg. Dari 32 – 36 kg karkas, dapat diperoleh sekitar 24 – 26 kg daging. Artinya rusa timor sebagai produsen daging, dari sisi kuantitas sudah jelas jauh lebih baik dari pada kambing,” urainya.
 
Daging rusa memiliki kualitas protein yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan daging sapi. Jika daging sapi memiliki protein dengan range 18 – 21 %, maka riset mengatakan daging rusa memiliki protein sebesar 22 – 24 % untuk umur 2 – 4 tahun. Di sisi lain, lemaknya rendah. Daging sapi bisa sampai 5 – 6 %, sedangkan rusa hanya sekitar 2 – 3 %. “Artinya kalau lemak rendah, kemungkinan besar kolesterolnya rendah, sehingga vitalitas juga rendah,” ucap Daud.
 
Kendati demikian, terkait masalah tersebut ia menuturkan bahwa telah dilakukan survei pada masyarakat Margorejo, Pati Jawa Tengah. “Berdasarkan survei tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan walaupun rendak lemak, namun ternyata vitalitas jadi lebih baik. Tidak hanya itu, para penderita tekanan darah rendah juga disarankan untuk memakan rutin daging rusa ini,” ungkapnya.
 
Sampai saat ini, Daud menyebutkan di Jawa Tengah sudah ada 44 penangkaran rusa. Hanya yang rutin melakukan pemotongan ada di 2 tempat yaitu penangkaran di Kudus dan di Jepara. “Di 2 penangkaran ini yang sudah rutin memanfaatkan dalam bentuk hewan hidup ataupun dalam bentuk potongan. Artinya dalam hal ketersediaan, daging rusa ini tidak sulit untuk dicari,” ujarnya.
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 272/Mei 2022
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain