Minggu, 1 Mei 2022

Problematika Bungkil Inti Sawit

Problematika Bungkil Inti Sawit

Foto: Istimewa


Pengolahan lebih lanjut mutlak diperlukan guna menjadikan bungkil inti sawit sebagai bahan pakan lokal yang terjamin kuantitas dan kualitasnya termasuk harga yang kompetitif
 
Ironi kembali terjadi, sebagai negeri produsen minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) terbesar di dunia, peternak sapi potong mengalami kesulitan mengakses bungkil inti sawit (BIS) sebagai bahan baku pakan sumber energi dan protein. “Potensi BIS terbesar di dunia seharusnya menjadi kekuatan sumber daya lokal agar dimanfaatkan secara optimal dalam mendukung dan menghasilkan produk unggul bagi industri peternakan,” ungkap Didiek Purwanto, Ketua Umum Pengurus Besar Perkumpulan Insinyur dan Sarjana Peternakan Indonesia (PB ISPI) saat mengikuti webinar online beberapa waktu yang lalu.
 
Didiek lalu menyodorkan data, dikutip dari Direktorat Jenderal Perkebunan, luas perkebunan sawit mencapai 16,5 juta hektar yang mayoritas berlokasi di Sumatera dan Kalimantan. “Artinya dengan angka 10 % dari luasan tersebut dari segi pakan hijauan mampu menampung 546 ribu ekor sapi atau 3 hektar per ekor,” tuturnya.
 
Menurutnya, fenomena CPO yang merupakan komoditas ekspor potensial. Rupanya, menjadi perhatian tersendiri bagi stakeholder terkait karena begitu dilematis dan kontradiktif terhadap pemenuhan BIS di Tanah Air. BIS yang menjadi salah satu sumber protein dan energi yang pemakainnya bisa mencapai 10-20 % pada ransum di feedlot (penggemukan sapi). “Bahkan potensi ketersediaannya secara lokal tersedia sepanjang tahun. Kenyataannya, peternak rakyat belum mampu mendapatkan akses BIS secara merata guna memenuhi asupan makanan sapi-sapi lokal,” ungkap pria yang juga menjabat Ketua Gapuspindo (Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia).
 
Kendala BIS 
Didiek menggaris bawahi, akses BIS ini belum merata di berbagai daerah di Indonesia. Sehingga pada satu daerah tertentu, biaya transportasinya menjadi tinggi. Hal ini menyebabkan adanya fluktuasi harga masih dirasa cukup tinggi bagi peternak rakyat dengan kualitas BIS yang juga masih rendah. Walhasil peternak rakyat masih menganggap BIS merupakan bahan baku pakan yang cukup mahal. Padahal BIS merupakan hasil dari produksi dalam negeri yang jumlahnya banyak.
 
“Di sisi lain, tantangan BIS sebagai sumber protein adalah di aspek produksi pemakaian BIS dengan level tinggi akan menurunkan kualitas pellet pada pakan unggas. Selain itu, hasil samping atau ikutan industri sawit termasuk BIS perlu teknologi peningkatan mutu karena nilai gizinya yang rendah,” tambah Desianto Budi Utomo, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) dalam kesempatan yang sama.
 
Bahkan, kata Desianto, pemisahan cangkang atau batok pada BIS juga menjadi permasalahan tersendiri. Walhasil, tidak semua pabrik pakan mampu mengolah BIS dikarenkan fasilitas untuk memisahkan BIS dengan cangkang atau batoknya terbatas. “Inilah yang menyebabkan pemakaian BIS pada industri pakan unggas sangat beragam ada yang 3 %, 10 % bahkan 12 % khususnya pada layer (ayam petelur),” katanya.
 
Sementara menurut Desianto guna menjadikan BIS sebagai bahan baku lokal untuk diserap industri perlu mempertimbangkan 3 faktor yakni kualitas yang stabil, kepastiaan pasokan serta harga yang kompetitif mengingat biaya logistik yang begitu mahal.
 
Prof Nahrowi, Guru Besar Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan IPB University menyebutkan BIS yang merupakan hasil ikutan proses pemisahan minyak inti sawit di industri memiliki standar mutu dan fakta di lapangan yang berbeda. Seperti kandungan protein kasar berdasarkan SNI yakni 16 % pada mutu pertama dan mutu kedua 14 %. Sementara di lapangan berkisar 14,77 %. Untuk serat kasar berdasarkan SNI pada mutu pertama dan kedua yakni 16 % dan 20 %. Sedangkan di lapangan masih begitu tinggi yakni 25,36 %.
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 272/Mei 2022
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain