Minggu, 1 Mei 2022

Meracik Bahan Pakan Ayam Lokal dengan Digitalisasi

Telah diunduh lebih dari 10.000 kali dan SFA telah menjadi salah satu wakil Kementan untuk mengikuti Kompetisi  Inovasi Pelayanan Publik 2022 yang diselenggarakan KemenpanRB
 
Perang Rusia dengan Ukraina yang saat ini masih berlangsung ternyata menimbulkan efek domino secara global.  Diantaranya kenaikan harga bahan baku pakan, padahal pakan menyumbang 70 persen dari biaya produksi ternak.  Oleh karenanya, peternak yang melakukan self mixing (mencampur pakan sendiri), seperti peternak ayam lokal skala rumah tangga, harus mempunyai strategi dalam memformulasikan pakannya agar Harga Pokok Produksinya (HPP) tidak melambung.
 
Diungkapkan Andi Baso LI, Kepala Balai Penelitian Ternak (Balitnak), Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak), Balitbangtan Kementan bahwa dengan kondisi global seperti saat ini peternak harus mempunyai  strategi agar biaya produksi tidak naik signifikan. Apalagi bagi para peternak ayam lokal skala rumah tangga,  dengan kenaikan harga pakan pabrikan dapat disubstitusi dengan memanfaatkan bahan pakan lokal yang berlimpah di sekitar. 
 
“Dengan demikian dapat mengurangi biaya untuk pakan. Misalkan, jika sebelumnya sebulan menggunakan pakan pabrikan 2  karung, sekarang hanya satu karung karena memanfaatkan bahan pakan lokal yang ada sekitar,” ujarnya.
 
Apalagi sambung Andi Baso, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Kementan saat ini sudah mempunyai beberapa galur ternak unggul dan sudah didiseminasikan kepada masyarakat. “Tentunya kalau kita tidak memberi pakan  berkualitas, pertumbuhannya pun tidak optimal,” tegasnya.
 
Inovasi Formulasi Pakan Digital
Untuk itu, menurut Andi Baso, salah satu upaya Balitnak membantu peternak dengan kondisi global seperti ini dengan mensosialisasikan teknologi inovasi dengan nama Smart Feed bang SFA, bahwa seiring dengan semakin menyebarnya ayam lokal di masyarakat, maka perlu dukungan sistem produksi ternak untuk keberhasilan pengembangan ayam lokal tersebut.
 
Salah satu pendukung utama dalam keberhasilan dan keberlanjutan pengembangan peternakan ayam lokal adalah kemandirian pakan berbasis bahan pakan lokal. “Karena kontribusi biaya produksi untuk penyediaan pakan dari seluruh total biaya produksi dalam suatu peternakan mencapai angka 70 %,” ujar Cecep.
 
Maka itu, sambungnya perlu membekali peternak agar memiliki kemampuan menyusun pakan ayam Lokal yang memenuhi kebutuhan gizi pada setiap fase produksi dengan harga yang murah dan itu menjadi salah satu tantangan agar proses keberlanjutan usaha peternakan ayam Lokal di masyarakat dapat terus dipelihara.
 
“Balitnak menganggap sangat diperlukannya suatu perangkat (tools) yang mampu melayani para peternak ayam Lokal agar mampu menyusun dan membuat pakan ayam Lokal secara mandiri berbasis bahan bahan pakan lokal yang tersedia di sekitar mereka dengan pengoperasian yang mudah.  Pengguna hanya menggunakan jari saja, kami yang berpikir untuk formulasinya,” paparnya.
 
Aplikasi SFA dijabarkan Cecep menyajikan 128 pilihan jenis bahan pakan yang dikategorikan menjadi sumber energi dan  protein konvensional (umum atau lazim digunakan) maupun inkonvensional (jarang digunakan), sumber mineral, sumber  asam amino serta suplemen pakan.
 
“Semua bahan yang tersaji pada sistem SFA tersimpan di server Balitnak sehingga memungkinkan dalam dinamika perubahan data. Umumnya setiap bahan mempunyai 13 profil nutrisi yaitu energi metabolis, protein kasar, lemak kasar, serat kasar, lisin,  metionin, sistin, metionin plus sistin, triptofan, treonin, valin, kalsium, dan fosfor tersedia,” urainya.
 
Rantan Krisnan peneliti Balitnak dan salah satu pengembang SFA pun menuturkan kehadiran SFA memang sangat dibutuhkan,  karena menyusun formulasi ransum pakan suatu pekerjaan yang cukup ekslusif, yaitu, seorang nutrisionis. Sebenarnya  untuk menyusun ransum pakan ayam lokal pada dasarnya semua orang bisa, hanya harus ada tools yang semudah mungkin sehingga dapat dipahami.
 
“Memang diakui peternak harus punya juga pengetahuan dasar tentang pemahaman nutrisi, tetapi melalui SFA ini kita  coba arahkan setiap penggunanya (user) bisa memformulasikan pakan dengan standar kebutuhan gizi untuk setiap umur  ayam secara sederhana dan mudah serta tersedia di playstore, ” jelasnya.
 
Aplikatif di Masyarakat
Aplikasi SFA sendiri diutarakan Rantan sudah banyak digunakan peternak di tanah air. Buktinya sampai saat ini sudah diunduh lebih dari 10.000 kali. “Jumlah tersebut berarti mengindikasikan bahwa aplikasi SFA ini cukup bermanfaat bagi peternak. Hanya memang sampai saat ini SFA hanya bisa digunakan untuk formulasi ransum pakan jenis ayam lokal, namun kedepan akan dikembangkan untuk semua jenis ternak,” urainya.
 
Ia menuturkan SFA telah menjadi salah satu wakil Kementan untuk mengikuti Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik 2022 yang diselenggarakan oleh KemenpanRB. “Kita optimis dan mudah - mudahan bisa masuk 10 besar, karena kalau dilihat kompetitor lain ada yang sudah dirilis sejak lama tetapi jumlah pengunduhnya jauh dibawah SFA,” jelasnya.
 
Rantan menerangkan salah satu alasan banyak diunduh, mungkin karena SFA merupakan sebuah aplikasi yang digunakan untuk melakukan formulasi pakan otomatis dengan menggunakan metode Linear Programming. “Selama ini kami tidak  terburu-buru untuk melakukan modifikasi dari SFA, karena ingin mengevaluasi terlebih dahulu kelemahan dari SFA ini,”  sebutnya.
 
Untuk keunggulan utama dari SFA ini dibanding aplikasi sejenis yaitu berbasis android, aplikasinya gratis karena merupakan pelayanan dari Balitnak, menawarkan ragam bahan baku pakan, baik konvensional dan inkonvesional, dan data bahan pakan tersedia di Balitnak sehingga dimungkinkan untuk perubahan bahan pakan dan kandungan nutrisinya. 
 
Selain itu, juga pengguna bisa memutakhirkan harga bahan baku pakan sesuai kondisi di wilayah masing-masing. “Prinsip kerja aplikasi ini mempertimbangkan tiga aspek penting, yaitu, standar kebutuhan nutrisi pada setiap status fisiologis ternak, batasan penggunaan bahan, dan harga,” ungkapnya.
 
Harapan Pengembangan SFA
Rantan mengungkapkan untuk introduksi SFA memang sudah dilaksanakan, hanya harapannya sosialisasi secara masif masih belum optimal. Kalau optimal, mungkin jumlah pengunduhnya lebih banyak lagi. “Sebagai inovatornya, kami akan terus mengembangkan lagi SFA untuk semua jenis unggas dan ternak serta ada satu item di SFA terkait tanya jawab. 
 
Tetapi, tidak dipungkiri dalam pengembangan memerlukan budget yang perlu didukung oleh Kementan sekaligus  maintenance aplikasi SFA dan jumlahnya pun tidak terlalu besar,” ucapnya sambil tersenyum. Cecep menambahkan dengan adanya SFA dapat membantu peternak dalam memformulasi pakan ternaknya. Ekspekstasi dari peternak cukup besar terhadap SFA ini. Buktinya banyak yang berharap aplikasi ini dapat digunakan untuk ternak lain, tidak hanya
ayam lokal saja. “Oleh itu, butuh dukungan semua pihak agar pengembangan SFA dapat berjalan,” pungkasnya. TROBOS/Adv

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain