Minggu, 1 Mei 2022

Kebijakan FAO dalam Krisis Ukraina

Roma (TROBOS). Perang di Ukraina otomatis akan berdampak pada konsumen di seluruh dunia, pasalnya harga makanan, energi dan pupuk menjadi tinggi. Hal tersebut mengakibatkan panen global menjadi berisiko. Namun demikian, krisis pangan global dalam skala yang terlihat pada 2008 masih dapat dihindari.
Hal tersebut diutarakan oleh Direktur Jenderal FAO (Food and Agriculture Organization), Qu Dongyu. Dia menekankan pentingnya menjaga rantai pasokan global yang tetap berfungsi serta menyoroti kinerja FAO di lapangan. Ini diungkapkan dalam pidatonya di sesi ke-169 Dewan FAO yang digelar guna membahas konsekuensi perang di Ukraina terhadap kemanan pangan global pada Jumat (8/4).
 
Pertemuan ini diadakan karena dilaporkan harga pangan tercatat mengalami kenaikan 12,6 % sejak Februari dan mencapai yang tertinggi sepanjang pada Maret dengan harga sereal dan minyak nabati melonjak menurut indeks harga pangan terbaru FAO. “Harga bahan pokok seperti gandum dan minya nabati telah melonjak akhir-akhir ini, sehingga membebankan biaya yang luar biasa pada konsumen global terutama yang termiskin. Dengan meningkatnya harga energi secara paralel dan juga pangan, membuat daya beli konsumen dan negara yang rentan semakin lesu,” tutur Qu.
 
Diketahui bahwa Rusia dan Ukraina menyumbang hampir 30 % ekspor gandum global, dan sekitar 80 % ekspor bunga matahari global. Rusia sendiri ialah pengekspor pupuk terbesar dunia. Ini artinya, gangguan pasokan di kedua negara tersebut akan dirasakan di seluruh sistem pangan pertanian global.
“Perbedaan utama dari krisis 2008 adalah bahwa hari ini kami menghadapi risiko besar pada musim tanam tahun depan, yang tentunya akan terpengaruh secara drastis. Pada 2008 guncangan disebebkan oleh kekeringan dan tidak membahayakan musim tanam berikutnya. Kita tidak boleh menutup sistem perdagangan global dan ekspor tidak boleh dibatasi atau dikenai pajak,” tandasnya. bella
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain