Sabtu, 7 Mei 2022

Outbreak di Jawa Timur, Indonesia (Tak Lagi) Bebas PMK

Outbreak di Jawa Timur, Indonesia (Tak Lagi) Bebas PMK

Foto: dok.istimewa


Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Outbreak  penyakit mulut dan kuku (PMK) alias foot and mouth disease (FMD) terkonfirmasi pada seribuan ekor sapi di 4 kabupaten - provinsi Jawa Timur. Fakta ini sangat memprihatinkan, karena Indonesia menyandang status sebagai negara bebas PMK sejak 1986 dan diakui oleh Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE) pada 1990, sebagai buah kerja keras bertahun-tahun pemerintah bersama-sama stakeholder peternakan dan kesehatan hewan saat itu..

 

Serangan virus Virus RNA (Picornaviridae, Aphthovirus) ini akhirnya ditemukan di  Mojokerto, Sidoarjo, Lamongan dan Gresik - provinsi Jawa Timur, dan sudah diumumkan secara resmi oleh Gubernur Khofifah Indar Parawansa siang ini, Sabtu (7/5).

 

Warga Jatim yang baik, kita menerima ujian baru, penyakit mulut dan kuku hewan. Hasil lab Pusvetma per tanggal 5 Mei telah ditemukan kasus di Mojokerto, Sidoarjo, Lamongan dan Gresik.

 

Kemarin, Jum'at (6/6) kami rakor maraton bersama Pusvetma, Bupati empat daerah, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, para direktur, Dekan FKH UNAIR dan pakar lainnya.

 

Berbagai langkah cepat telah kami lakukan. Berbagai obat- obatan hewan telah dikirim dari Kementan dan telah sampai. Proses penanganan sedang berjalan. Posko dibuka  di gedung kiri Grahadi untuk kordinasi agar lebih efektif vertikal horisontal.  Mohon do'a agar upaya lancar semua,” tulis Khofifah di akun instagram-nya.

 

Beredar pula copy surat laporan berkop Dinas Peternakan Jawa Timur kepada gubernur Jatim yang mencantumkan tandatangan Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jatim - Indyah Aryani. Surat itu menyebutkan outbreak / wabah PMK telah memapar 1.247 ekor ternak sapi di 4 kabupaten tersebut di atas, dan terkonfirmasi positif PMK berdasarkan pengujian sampel suspect PMK di Pusat Veterinaria Farma (Pusvetma) Surabaya.

 

Adapun kronologis outbreak (wabah) penyakit PMK di Jawa Timur itu dituliskan, kasus pertama kali dilaporkan di kabupaten Gresik pada 28 April 2022, menginfeksi 402 ekor sapi potong yang tersebar di 5 kecamatan dan 22 desa. Kasus ke dua dilaporkan pada 1 Mei 2022 di kabupaten Lamongan, memapar 102 ekor sapi potong yang tersebar di 3 kecamatan dan 6 desa.

 

Selanjutnya di kabupaten Sidoarjo sebanyak 595 ekor sapi potong, sapi perah dan kerbau yang tersebar di 11 kecamatan dan 14 desa. Kasus ke tiga terlaporkan pada tanggal 3 Mei 2022 di kabupaten Mojokerto sebanyak 148 ekor sapi potong yang tersebar di 9 kecamatan dan 19 desa. Outbreak (wabah) yang telah menyerang 1.247 ekor di 4 Kabupaten tersebut memiliki tanda klinis sesuai dengan penyakit PMK.

 

Dicantumlan pula garis besar tindakan yang telah dan sedang dilakukan dalam rangka pengendalian outbreak PMK  ini, diantaranya melakukan koordinasi dengan Balai Besar Veteriner (BBVET) selaku laboratorium pengujian dan Pusat Veterinaria Farma (Pusvetma) selaku laboratorium rujukan penyakit PMK di Indonesia.

 

Kedua, bersama tim kabupaten melakukan pengobatan simtomatis (berdasarkan gejala) pada ternak yang telah terjangkit penyakit untuk mengurangi potensi ”panic selling” untuk mencegah penyebaran penyakit. Ketiga, bersama BBVET dan Pusvetma melakukan pengambilan sampel untuk peneguhan diagnosa penyakit.

 

Keempat, melakukan surveillance epidemiologi untuk menentukan luasan sebaran penyakit dan menentukan jumlah ternak terancam. Kelima, membuat surat edaran kewaspadaan dini kepada kabupaten/kota se-Jawa Timur terkait potensi penyebaran penyakit PMK.

 

Dijelaskan pada surat itu, tindakan yang akan dilakukan setelah terdiagnosa positif penyakit PMK adalah menyediakan obat-obatan dalam rangka melanjutkan pengobatan simtomatis pada ternak yang telah terjangkit penyakit untuk mengurangi potensi ”panic selling”. Kedua, mengusulkan penetapan status wabah penyakit PMK pada 4 kabupaten yang terjadi outbreak.

 

Ketiga, melakukan penanggulangan dan pemberantasan penyakit PMK sesuai dengan standard operational procedure (SOP) wilayah status wabah meliputi pembatasan lalu-lintas ternak (masuk dan kelaur) dari dan menuju daerah wabah. Penutupan sementara pasar hewan pada daerah wabah. Pelaksanaan pemusnahan terbatas (focal culling) pada ternak terinfeksi sesuai dengan ketersediaan anggaran. Melakukan penyiapan vaksinasi terhadap seluruh ternak sehat pada daerah terancam dengan cakupan minimal 70%.

 

Gejala Klinis

Surat kepada gubernur jatim itu juga memuat gejala PMK, sebagai adalah penyakit hewan menular ikut yang menyerang ternak sapi, kerbau, kambing, domba, kuda dan babi dengan tingkat penularan mencapai 90% - 100% dan kerugian ekonomi sangat tinggi.

 

Tanda klinis penyakit PMK adalah demam tinggi (39-41oc), keluar lendir berlebihan dari mulut dan berbusa, luka-luka seperti sariawan pada rongga mulut dan lidah, hewan ternak tidak mau makan. Ternak berjalan pincang disebabkan luka pada kaki yang diakhiri dengan lepasnya kuku, sulit berdiri, gemetar, dan napas cepat, produksi susu turun drastis dan menjadi kurus.

 

Situasi terkini penyakit PMK ini berpotensi menghancurkan status Indonesia yang sejak tahun 1986 telah dinyatakan bebas dari penyakit PMK dan telah diakui oleh Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) sebagai negara bebas penyakit PMK pada tahun 1990.ist/rw/yops, ntr

 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain