Rabu, 25 Mei 2022

Konsep Peternakan Domba Modern

Konsep Peternakan Domba Modern

Foto: dok. istimewa


Yogyakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Modernisasi peternakan domba secara konseptual, mengarah pada zero waste system. Artinya tidak ada yang terbuang. Jadi, meskipun tujuan utama adalah memperoleh daging atau anak domba, tetapi hasil samping lain seperti feses atau kotoran domba, urin, bulu, hingga tanduk tetap bisa dimanfaatkan.

 

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian Kementerian Pertanian (BPPSDMP Kementan) - Dedi Nursyamsi menyatakan, hal itu berarti jika ingin mendapatkan daging domba, peternak harus menghasilkan domba dengan bobot daging yang tinggi.

 

“Harus dimulai dari bibit yang bagus, sehingga kita harus menyediakan bibit domba yang berkualitas,” jelasnya.

 

Bicara tentang peternakan modern, maka yang dimaksud disini bukan bahan kandang atau bahkan ternaknya. Vita Krisnadewi, Ketua P4S Sinatria, sekaligus pemilik peternakan Sinatria Farm mengatakan, peternakan modern yang dimaksud ialah mengembangkan ternaknya yang benar-benar tercatat atau terekam melalui digitalisasi.

 

Mulai dari sistem pencatatan ternaknya, pencatatan ternak sakit, pencatatan ternak yang dijual, belanja harian, dan lain-lain. Ini dapat mempermudah proses monitoring, sehingga hanya dengan melalui handphone ia dapat memantau ternaknya.

 

“Kemudian, untuk manajemen di lapangan, kami tidak menutup diri dari modernisasi. Bahkan tanaman pakan saja yang kami tanam disini adalah hasil-hasil terbaru dari hasil riset kampus, maupun balai penelitian pertanian. Selain pakan, ada teknologi pakan seperti fermentasi dan hay,” ujarnya.

 

Konsep Modernisasi

Selama pangan diperlukan, maka selama itu pula sektor peternakan dan pertanian diperlukan. Dengan jumlah penduduk di Indonesia yang sangat tinggi, menyebabkan kebutuhan akan pangan, khususnya protein asal hewan terus meningkat setiap tahunnya, tidak akan mungkin beternak dengan cara-cara konvensional.

 

“Dulu pada saat jumlah penduduk Indonesia masih sedikit, beternak dengan cara-cara tradisional atau konvensional tak mengapa. Tapi sekarang sudah lebih dari 273 juta penduduk yang tersebar dari Sabang sampai Marauke. Tidak mungkin kita beternak dan bertani dengan cara-cara tradisional, karena hasilnya tidak akan cukup,” ucap Dedi.

 

Dedi menegaskan diperlukannya pembangunan sistem agribisnis modern. Agribisnis modern diartikan dengan memanfaatkan inovasi teknologi yang diciptakan dengan tujuan untuk mencapai produktivitas yang lebih tinggi.

 

Beberapa contoh inovasi teknologi seperti produk bibit yang berpotensi memberikan hasil berkualitas, serta pemanfaatan mesin-mesin pada proses produksi. Melalui pemanfaatan mesin, diharapkan proses produksi dilakukan lebih cepat, juga  dapat menekan biaya produksi.

 

Kemudian juga pemanfaatan internet untuk mempercepat proses produksi.  “Dengan begitu, ruang dan waktu yang biasanya menjadi faktor pembatas produksi saat ini sudah tidak lagi menjadi pembatas,” sebutnya.

 

Modernisasi dilakukan untuk terus meningkatkan kapasitas para peternak-peternak termasuk seluruh praktisi peternakan di Indonesia. Selain itu, juga untuk terus menggempur produktivitas, menggenjot kualitas dan harga jual, menekan biaya produksi, sehingga mendapatkan keuntungan yang maksimal.

 

“Bukan hanya on farm yang harus kita bangun, tetapi juga sistem agribisnisnya termasuk subsistemnya. Mulai dari hulu hingga hilir. Baik dari penyediaan sarana prasarana peternakan, pengembangan peternakan dan pemeliharaan, hingga penanganan produk pasca panennya,” tuturnya. ed/shara

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain