Sabtu, 28 Mei 2022

Peternak Babi Dihimbau Antisipasi Wabah PMK

Peternak Babi Dihimbau Antisipasi Wabah PMK

Foto: dok.istimewa


Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Meskipun kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) belum ditemukan pada ternak babi di Tanah Air, namun peternak dihimbau untuk tetap waspada sekaligus meningkatkan biosekuriti 3 zona.

 

“Semisal babi terkena PMK maka mortalitas anak babi yang sedang menyusui (sucling) bisa mencapai 30-100 %, walaupun pada babi dewasa hanya 1- 5 %,” ujar Sauland Sinaga, Ketua AMI (Asosiasi Monogastrik Indonesia) dalam seminar nasional yang digagas oleh AMI dengan tajuk Dampak dan Antisipasi Masuknya PMK di Indonesia Bagi Peternakan Babi melalui aplikasi Zoom dan kanal Youtube pada Jumat (27/5).

 

Adapun narasumber yang dihadirkan yakni Yohanes Simarmata (Anggota Dewan Pakar Bidang Kesehatan AMI) dan Arif Wicaksono (Koordinator Pencegahan Penyakit, Direktorat Kesehatan Hewan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian). 

 

“Babi terinfeksi PMK paling banyak melalui rute oral dan babi tidak menjadi carrier. Adapun potensi kerugian bila terjadi wabah PMK pada babi di Indonesia bisa mencapai Rp 6,3 triliun,” imbuhnya. Maka dia berharap pemerintah terus memperketat lalu lintas ternak antar wilayah dan zona. Sambil secepatnya menemukan vaksin yang tepat sesuai dengan serotipe virus PMK di Indonesia.

 

Senada dengan Sauland, Yohanes menegaskan bahwa biosekuriti merupakan salah satu antisipasi yang bisa dilakukan untuk saat ini. Di sisi lain, keterbukaan informasi antar stakeholder terkait bahkan peternak babi itu sendiri juga bagian yang tak terpisahkan guna mengantisipasi wabah PMK pada babi.

 

“Jika ditemukan ada kematian massal pada babi, mohon untuk segera berkoordinasi dengan petugas setempat. Sehingga tidak terjadi kecolongan lagi seperti wabah African Swine Fever (ASF) akibat kurangnya sharing informasi antar peternak,” ungkapnya.

 

Adapun gejala klinis PMK pada babi, menurut Yohanes yakni terjadi demam (prexia), lesi kaki yang parah disertai kepincangan, dengan bagian terpisah pada tanduk cakar terutama ketika ditempatkan pada yang konkret. Berikutnya terdapat vesikel pada titik-titik tekanan anggota badan, terutama di sepanjang karpus, menghasilkan buku-buku jari. Di mocong pun juga mengalami lesi vesikuler bahkan bisa menyebabkan keguguran (abortus) pada babi yang sedang bunting.

 

Diuraikannya, untuk kesembuhan pada babi dewasa bergantung pada tingkat keparahan lesi, beberapa dari babi tersebut bisa menderita kepincangan kronis. Sementara, bagi babi penggemukan (fattening pigs) membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencapai berat potong (slaughter weight) lalu pada babi muda berumur 14 minggu mungkin bisa mati tiba-tiba disebabkan gagal jantung. “Anak babi yang menyusui sangat rentan terinfeksi PMK ini,” katanya.

 

Lebih lanjut, ia kemukakan bahwa penting untuk diperhatikan peran babi yang terlibat dalam beberapa endemi PMK yang lalu terutama di negara-negara Asia Timur. Yakni babi yang terinfeksi dianggap sebagai penghasil emisi virus PMK yang kuat diudara, di sisi lain sapi sangat rentan terhadap infeksi melalui inhalasi.

 

“Artinya, babi menjadi amplifier virus PMK dengan menghembuskan hingga 400 juta partikel virus infektif dalam sehari,” imbuhnya.

 

Akibat yang ditimbulkan dari PMK di babi, lebih jauh lagi, kata Yohanes yakni dilarangnya ekspor ke luar negeri sehingga ini memberikan dampak kerugian ekonomi yang luar biasa besar. Saat ini pun ekspor babi juga masih terkendala akibat wabah ASF. “Sehingga jangan sampai wabah PMK merasuki babi di Tanah air,” ungkapnya.

 

Parsaoran Silalahi, Pengurus AMI di Sumatera Utara (Sumut) mengatakan, kondisi di Sumut saat ini ada wilayah yang masih menunggu hasil sampel dari laboratorium akibat dugaan PMK. Sehingga ini menjadi was-was apabila terindikasi PMK. “Kami berdoa, supaya hasilnya negatif karena apabila positif, peternak babi di Sumut akan mengalami gulung tikar berkali-kali,” ucapnya.

 

Ia berharap sosialisasi dan edukasi terkait PMK lebih masif terutama di peternak yang berada di pedalaman. “Sehingga solusi yang bisa kami tawarkan yakni bekerja sama dengan pihak kampus berkolaborasi terkait wabah PMK seperti gejalanya, pencegahan maupun pengobatannya,” usulnya,  

 

Rudi Wijaya, Ketua AMI Jawa Tengah menyampaikan bahwa mengantisipasi PMK yakni dengan memperketat lalu lintas ternak yang masuk dari luar. “Bahkan untuk bongkar muatan ternaknya dilakukan di posko ternak, berikutnya baru didistribusikan ke masing –masing kandang, pun jika akan menjual keluar wilayah atau daerah skemanya akan sama. Selain itu, sistem jual belinya tidak dapat dilihat secara langsung namun dalam bentuk video dan foto untuk dikirim ke pembeli. Kalau sudah terjadi kesepakatan baru ditimbang,” terangnya.

 

Di sisi lain, ia berharap apabila terjadi lockdwon, jangan dilakukan secara mendadak. Karena akan menimbulkan kerugian bahkan ternak akan mengalami stres apabila dikembalikan di kandang lagi.

 

“Sehingga perlu sosialisasi jauh-jauh hari agar peternak dapat mengatur perputaran uang (cash flow) juga bagi horeka (hotel, restoran dan katering) bisa menghitung jumlah stok daging yang tersedia,” tuturnya.

 

Bagi Gilbert Wantalangi, Ketua AMI Sulawesi Utara mengutarakan agar mempercepat proses vaksinasi supaya wabah ini cepat selesai meskipun sampai saat ini PMK belum ditemukan di Sulawesi, dikarenakan babi merupakan salah satu sumber protein hewani juga termasuk kedalam ekonomi kerakyatan. “Mengingat, vaksin akan diproduksi sendiri di dalam negeri sehingga biaya yang dikeluarkan akan lebih murah,” sebutnya.ed/zul

 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain