Rabu, 1 Juni 2022

Dari ASF Hingga PMK

Merunut ke belakang, menjelang akhir 2019, peternak babi di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) dibuat resah akibat kematian mendadak ternak babi yang mereka pelihara. Kematian massal yang merembet dengan cepat hingga ke 10 kabupaten/kota di Sumatera Utara saat itu ternyata disebabkan oleh ASF (African Swine Fever) yang mulanya berasal dari China.
 
Berdasarkan angka yang disodorkan AMI (Asosiasi Monogastrik Indonesia), wabah ASF telah membunuh populasi babi sekitar 30 % atau sekitar 2,9 juta ekor; induk beranak dua kali, penurunan populasi sebesar 1,8 juta ekor ini setara dengan Rp 6,3 triliun per tahun dengan asumsi harga babi 3,5 juta per ekor. Sebuah angka yang signifikan menimbulkan kerugian bagi para pelaku usaha ternak babi tanah air. 
 
Di saat peternak babi di tanah air sedang memasuki masa pemulihan dari wabah ASF yang belum ada obatnya hinggas saat ini muncul kembali kekhawatiran dengan adanya wabah FMD (Foot and Mouth Disease) atau PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang lebih besar ditingkat peternak.  Babi menjadi salah satu ternak yang sangat rentan terhadap ancaman PMK. Dampak PMK terhadap ternak babi harus menjadi perhatian bersama mengingat berdasarkan hasil riset angka kematiannya (mortalitas) pada anak babi yang sedang menyusui (sucling) dapat mencapai 100 %, walaupun pada babi  dewasa hanya 1 – 5 %.
 
Sebelum ditemukannya PMK pertama kali di beberapa kabupaten di Jawa Timur pada pada awal Mei lalu, di dalam negeri pun dihebohkan dengan adanya wabah LSD (Lumpy Skin Disease) yang berjangkit di akhir 2021 dengan gejala muncul berupa kulit berbenjol pada sapi atau disebut juga cacar sapi. Penyakit pada awalnya ditemukan Balai Veteriner Bukitinggi, Sumatera Barat di salah satu Kabupaten di Riau dan hingga awal Maret 2022 sudah menyebar hingga tujuh kabupaten. 
 
Bahkan pada pertengahan Februari 2022, ditemukan 15 ekor sapi di Kabupaten Indragiri Hulu, Riau menderita LSD dan kemudian menyebar ke kabupaten lainnya. Selanjutnya pada 2 Maret 2022, keluar SK Mentan No. 242/ Kpts/ PK. 320/M/3/2022 tentang penetapan daerah wabah penyakit kulit berbenjol di Provinsi Riau.
 
Meskipun penyakit ini tidak bersifat zoonosis dan tidak bersifat carrier namun bisa menyebabkan morbiditas berkisar antara 5 – 45 % dan mortalitas kurang dari 10 %. Ditambah lagi penyakit ini belum ada obatnya sehingga menambah tantangan dalam pengendaliannya. 
 
Namun wabah yang sangat berdampak terhadap bisnis komoditas ternak di tanah air baik secara ekonomi maupun politis adalah FMD atau PMK. Mengingat untuk kali ketiga Indonesia tertular PMK pada 1887 silam di Malang, Jawa Timur dan meletup kembali hampir seabad kemudian yaitu pada 1983 di Kabupaten Blora, Jawa tengah. Pemberantasan PMK pada waktu itu dilakukan secara intensif dan masif dengan melaksanakan vaksinasi berkelanjutan selama tiga tahun berturut-turut yaitu pada 1986. 
 
Munculnya kembali outbreak PMK ini sangat disayangkan oleh semua kalangan, sebab Indonesia telah berstatus sebagai negara bebas PMK yang dinyatakan dalam Resolusi OIE (Office des Internationale Epizootis) atau Badan Kesehatan Hewan Dunia Nomor XI tahun 1990. Ini menjadi mimpi buruk bagi industri peternakan tanah air, sebab PMK dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit bagi peternak dan negara.
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 273/Juni 2022
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain