Rabu, 1 Juni 2022

Pernapasan Ayam, Napas Bisnis Perunggasan

Pernapasan Ayam, Napas Bisnis Perunggasan

Foto: Istimewa


Pernapasan sebagai penyedia oksigen – nutrisi utama bagi ayam, secara filosofis adalah juga napas dari industri perunggasan karena kehidupan ayam adalah kehidupan industri ini
 
Kembali membuka catatan tentang prinsip sistema pernapasan pada ayam akan sangat membantu  untuk membangun sistem biosekuriti dan manajemen pemeliharaan yang lebih terlindung dari risiko penyakit pernapasan. Serangan penyakit pernapasan bukan hanya membuat ayam sakit, namun dapat  membuat bisnis perunggasan terguncang karena penurunan produksi bahkan kematian “mesin produksi” biologis berupa ayam. 
 
“Pernapasan ayam ini unik, berbeda dibandingkan dengan mamalia,” ungkap Erry Setiawan – Poultry Technical Manager PT Zoetis Animal Health Indonesia pada MIMBAR TROBOS Livestock The Series ke 25 bertema “Kupas Tuntas Penyakit Pernapasan di Unggas” yang digelar secara virtual pada Rabu, 25 Mei 2022. Dia menjelaskan, kebutuhan O2 ayam tinggi karena aktivitas metabolisme cepat. Kantung udara cranial dan caudal (anterior dan posterior) menyebabkan aliran udara terus menerus ke paru-paru selama inspirasi dan ekspirasi. Sistema ini jadi ciri khas tetapi juga menjadi faktor risiko yang tinggi. 
 
Pada MIMBAR yang digagas oleh Majalah TROBOS Livestock, disiapkan oleh TComm (TROBOS Communication), disiarkan secara langsung oleh Agristream TV dan Facebook TROBOS Livestock ini juga menghadirkan narasumber Fauzi Iskandar – Veterinary Services Manager PT Ceva Animal Health Indonesia; Ratriastuti Purnawasita – Senior Poultry Technical Specialist PT Elanco Animal Health Indonesia; dan Ayu Miftahul Khasanah – Technical Education Spesialist PT Medion Farma Jaya. 
 
Anatomi dan Patofisiologi
Pada MIMBAR yang disponsori oleh PT Ceva Animal Health Indonesia, PT Elanco Animal Health, PT Medion Farma Jaya, dan PT Zoetis Animal Health Indonesia ini Erry menerangkan, rongga hidung ayam terhubung dengan rongga mulut melalui choana. Sinus infraorbitalis terbuka menghubungkan rongga belakang hidung. “Di sini menjadi tempat munculnya gejala khas patogenesis coryza, timbunan perkejuan dan lendir dengan bau khas, amis misalnya,” ujarnya. Selanjutnya larynx, berupa kartilago dilapisi epitel, di situ ditemukan glotis atau celah bukaan yang menghubungkan larynx dan orofarynx. 
 
Selanjutnya organ trakhea, dia menguraikan, berupa cincin kartilago ganda yang dilapisi epitel kolumnar tinggi. Terdapat silia, yang juga berfungsi sebagai pertahanan fisik non spesifik yang menghalau benda asing termasuk agen penyakit. Kerusakan silia ini karena berbagai sebab, infeksius maupun non infeksius merupakan imunosupresi, yang mengurangi kekuatan pertahanan tubuh ayam.
 
Menurut dia, pada bagian ini dan sepanjang saluran pernapasan ayam terdapat lymphoid germinal centres (LGC) tersebar di lamina propria. Imunosupresi yang terjadi, apapun yang menyebabkan infeksi/kerusakan pada saluran pernapasan itu akan mempengaruhi kondisi LGC, sehingga rusak pula LGC sebagai penghasil kekebalan seluler maupun humoral pada sistem imun ayam. 
 
“Syrinx trakhea kemudian masuk ke syrinx dan akhirnya masuk ke paru-paru itu gambarannya seperti pipa yang panjang sekali. Untungnya punya silia, menghasilkan mucose, punya limfoid pada epitelium bagian dalamnya. Sehingga menjadi faktor pengurang risiko masuknya patogen akibat panjangnya saluran pernapasan ayam sejak dari lubang/rongga hidung sampai dengan paru-paru,” paparnya. 
 
Namun, keberadaan air sacc/kantong hawa yang merupakan terusan dari bronki tersier, membuat udara dari rongga hidung ‘nyelonong’ masuk ke dalam tubuh, bahkan sampai jauh ke dalam tubuh yaitu air sacc caudal/abdominalis posterior. Kantung hawa ini memenuhi mayoritas rongga badan sehingga sama saja artinya dengan memberi peluang patogen dari luar langsung masuk ke bagian thorax/abdomen. Padahal antara rongga thorax dengan abdomen pada ayam tidak ada batas, tidak seperti mamalia yang dipisahkan oleh diafragma. 
 
Maka dia pun menegaskan ketika ada agen penyakit yang menerobos ke air sacc paling belakang, infeksi akan rentan menjalar ke saluran reproduksi dan urogenital. Ovarium dan oviduk sebagai sistem reproduksi yang rentan terpapar penyakit yang ditransmisikan dari air sacc bagian belakang ini akan berisiko memicu penularan penyakit secara vertikal. Keberadaan air sacc yang miskin inervasi pembuluh darah juga ditengarai menjadi faktor yang membuat obat sulit menjangkau organ itu. 
 
“Pemahaman pada prinsip anatomi dan fisiologi ini membuat kita lebih mudah memahami patogenesis dan transmisi penyakit pernapasan pada ayam, juga kesulitan-kesulitan dalam pengobatannya,” tandas Erry. Penyakit pernapasan pada ayam, lanjut dia, sebenarnya sangat banyak, namun dapat diringkas penyebabnya adalah virus, bakteri, dan fungus. 
 
Penyakit Pernapasan
Fauzi Iskandar menyatakan penyakit pernapasan pada ayam dapat dipicu oleh faktor infeksius dan non infeksius yang keduanya dapat saling mempengaruhi. Pada level amonia di atas 10 ppm, akan menyebabkan penyerapan oksigen pada ayam terganggu, terlebih pada ayam broiler yang kebutuhan oksigennya sangat tinggi. 
 
Menurut Ayu Miftakhul Khasanah, problem pernapasan pada ayam muncul didahului karena adanya faktor predisposisi, diantaranya faktor imunosupresan dari lingkungan seperti cuaca ekstrem dan stres. Tata kelola udara yang kurang baik, kadar amonia tinggi, kepadatan kandang berlebih, alkalosis respiratorik, biosekuriti lemah, dan adanya titik lemah pada saliran pernapasan ayam. Semua itu terkait dengan ketepatan manajemen pelebaran kandang, manajemen litter, pengaturan suhu dan kelembapan, dan manajemen tirai (open house) dan kecepatan aliran udara (closed house). 
 
“Zona nyaman ayam, kalau dulu urutannya adalah pakan, air, dan udara sekarang berubah menjadi udara yang lebih utama, diikuti air dan baru pakan. Udara merupakan kebutuhan utama yang harus dipenuhi untuk ayam. Gangguan terhadap kualitas udara kandang mengundang penyakit pernapasan. Kadar amonia lebih dari 5 ppm akan mulai mengiritasi saluran pernapasan,” ungkapnya. 
 
Dikatakan Ayu, titik lemah saluran pernapasan adalah pada sinus dan air sacc, karena keduanya memiliki lapisan sel penyusun yang tipis dan minim kapiler darah sehingga minim sel fagosit yang menjadi benteng pertahanan dari infeksi. Tanpa didukung manajemen pemeliharaan dan biosekuriti yang baik, keduanya menjadi entry point bagi masuknya penyakit pernapasan. 
 
Erry Setiawan menguraikan, pemeriksaan penyakit pernapasan ayam perlu anamnesa dengan cara mendengarkan suara dari saluran pernapasan. Karena kekhasan suara itu, sampai muncul istilah-istilah lokal seperti cekreh, nyekrek, ngorok, dll. Pada serangan infectious bronchitis (IB) suara cenderung snicking dan sneezing. Pada kasus infectious laryngo tracheitis (ILT) suara yang keluar adalah moist rales, batuk, dan gasping, sedangkan pada infeksi Mycoplasma gallisepticum (MG) adalah gurgling. “Biasanya pada malam hari suara-suara tersebut akan lebih mudah terdengar,” ujar Erry. Selain itu juga dilakukan pengamatan umum dan sistem pernapasan diantaranya mengamati kedalaman napas dan frekuensi respirasi yang normalnya antara 20 – 40 kali per menit.
 
Infectious Bronchitis (IB)
Fauzi menerangkan IB merupakan penyakit viral yang disebabkan oleh chicken corona virus yang memiliki beberapa varian. Di Indonesia, IB menduduki peringkat ke-2 (13 %) pada 2021. Surveilans pada Agustus  2019 – Juni 2021 yang dilakukan Ceva menghasilkan angka 31 %, dengan rincian temuan di Sumatera  sebesar 10 %, Jawa Barat 43 %, Jawa Tengah 33 %, dan Jawa Timur 14 %. 
 
Ayam yang terserang IB, dia menjelaskan, akan menunjukkan gejala berupa peradangan/perdarahan yang cukup parah pada trakhea, bahkan juga ditemukan kerusakan pada saluran pencernaan. Ayam terlihat mengalami dehirasi karena kerusakan pada ginjal, sehingga kondisinya semakin parah. Pada layer (ayam petelur) produksi atau ayam breeder (indukan) seringkali ditemukan sekilas ayam terlihat sehat namun mengalami kelainan postur (pinguin like postur). Ketika dibedah terlihat terjadi kerusakan oviduk dan akumulasi cairan di sana, sehingga ayam tak mampu menghasilkan telur (false layer). 
 
Pada ayam petelur maupun breeder yang terinfeksi IB pada fase pullet, lanjut Fauzi, ayam akan terlihat sehat namun oviduk bermasalah. Karena ovarium tetap sehat, maka saat ovulasi kuning telur (yolk) akan jatuh ke dalam rongga perut sehingga rentan terjadi infeksi sekunder. 
 
Menjelaskan pola penyebaran IB, dikatakannya seekor ayam yang terinfeksi dalam waktu singkat mampu menginfeksi 20 ayam lainnya. Meskipun IB tidak persisten – tidak berdiam dalam farm seperti IBD, namun karena penyebarannya sangat cepat menjadikannya tetap berbahaya, menimbulkan kerugian signifikan. “Tak semua infeksi IB terlihat nyata. Kami survei data serologi pada farm 767 flok broiler (ayam petelur) dari 16 perusahaan selama 2020 – 2021. Ternyata rata-rata titer serologisnya - menggunakan biocheck, berada di atas 2.000, artinya ada challenge IB di sana,” dia memaparkan. 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 273/Juni 2022
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain