Rabu, 1 Juni 2022

Manajemen Pemeliharaan Ayam Lokal

Manajemen Pemeliharaan Ayam Lokal

Foto: Istimewa


Peternak UMKM diharapkan bersatu dengan membentuk kerjasama pemasaran melalui kelompok peternak, koperasi, atau pihak swasta guna meningkatkan daya tawar serta mengakses pasar yang lebih luas
 
Meskipun ayam lokal lebih adaptif dan toleran terhadap lingkungan dibandingkan ayam ras (broiler). Peternak dihimbau agar tetap memerhatikan pola manajemen pemeliharaan. Supaya ayam lokal terbentengi dari serangan outbreak penyakit yang mematikan. Imbasnya tidak terjadi angka kematian (mortalitas) yang tinggi pada ayam lokal. Faktor keberhasilan manajemen ayam lokal dimulai dari sanitasi kandang yang maksimal. 
 
Upaya ini dilakukan supaya bisnis ini mampu memberikan keuntungan yang optimal. Seperti yang diungkapkan Andono Peternak Ayam Lokal di Sukabumi, Jawa Barat bahwa sanitasi sebelum chick in diantaranya penyapuan, pencucian serta desinfektan. Hal itu mutlak dilakukan agar sisa-sisa kotoran dan pakan dari proses budidaya sebelumnya menghilang dan bersih. Bahkan sanitasi sebaiknya dikerjakan secara berulang. Seluruh peralatan kandang di lakukan spray dengan menggunakan yodium. 
 
Sanitasi bertujuan guna membunuh mikrobia yang memiliki kemampuan untuk menyerang ayam lokal utamanya saat chick in dan brooding. Dikarenakan faktor lingkungan memliki pengaruh yang besar terhadap performa ayam lokal. Adapun saat chick in, sistem kekebalan ayam lokal belum terbentuk sehingga rentan terserang penyakit. Adapun kesiapan brooding idealnya 3 hari sebelum ayam masuk dengan memperhatikan kepadatan kandang yakni 70 – 80 ekor per meter per segi. Brooding bisa menggunakan seng dengan berbentuk bulat telur maupun persegi panjang. 
 
“Namun, alangkah baiknya berbentuk bulat telur agar tidak ada sudut sisi yang akan menyebabkan ayam bergerombol di satu sisi. Sementara letak kandang ayam lokal idealnya dari Timur ke Barat serta tidak terlalu dekat dengan pemukiman. Didukung dengan kondisi air yang baik serta peralatan yang mencukupi,” urainya.
 
Lebih lanjut, ia kemukakan, pemanas/brooder perlu diatur sedemikian rupa agar ayam mendapatkan kehangatan yang merata diberbagai sisi sesuai dengan idealnya. Pemanas dinyalakan 1 jam sebelum chick in, agar suhu hangat merata dengan suhu pemanas yakni 29 – 32o C. Fase brooding dilakukan selama minimal 3 minggu. Agar lebih hangat lagi, sebelum chick in, sekam sebagai alas kandang ditebalkan dengan ketinggian 10 cm lalu dilapisi menggunakan koran maupun kertas apapun, berikutnya siapkan tempat pakan dan minum. 
 
Bila terdapat ayam lebih dari 50 % tidak kebagian tempat pakan maka kepadatan kandang perlu diperlebar, disertai dengan penambahan tempat pakan. Sementara terkait kedatangan DOC (ayam umur sehari) alangkah baiknya dilakukan penimbangan bobot badan berupa keseragaman minimal 5 % dari total populasi. Berikutnya, untuk program vaksinasi mutlak diperlukan untuk ayam lokal, akan tetapi tergantung pada pemesanan DOC. “Bagi saya sendiri, selama ini saat pemesanan DOC sebelum chick in telah dilakukan triple vaksin saat di hatchery,” imbuhnya.
 
Program Vaksinasi 
Andono menuturkan ayam lokal yang dipanen bisa mencapai 90-100 hari, agar mengurangi resiko penyakit. Selain itu, tetap melakukan vaksinasi di kandang yakni pada 7 hari pertama dengan diberikan vaksin booster IBD Intermediet yang memiliki strain lebih ringan guna menyeragamkan titer antibodi.  Lalu, pada umur 12 atau 13 hari dilakukan booster kembali yakni dengan IBD plus. Berikutnya pada umur 21 hari dengan vaksin booster ND. Terakhir pada 42 hari, yakni dengan vaksin lasota. Semuanya diaplikasikan melalui air minum yang dicampur dengan pelarut vaksin atau skim susu yang rendah kalori. Sama seperti di fase brooding, menurut Andono memasuki fase pertumbuhan yakni 21 hari keatas sampai panen sebaiknya tetap memperhatikan kepadatan kandang, jika perlu melakukan pelebaran yang sesuai agar ayam tetap nyaman. Selain itu, kondisi sekam, amoniak, serta bukaan tiarai yang pas untuk kebutuhan oksigen juga menjadi genting dan perlu dicermati. “Upayakan terus dilakukan pengecekan performa mingguan,” cetusnya.
 
Adapun pemanenan ayam lokal dilakukan pada umur 70 – 80 hari tergantung permintaan pasar. Yakni dengan kisaran bobot panen 0,8 – 1,2 kg dengan feed intake 60 gram per ekor per hari, sementara FCR (konversi pakan) 2,54. Sebaiknya pemanenan dilakukan saat suhu tidak terlalu panas yakni pada sore hari. Serta dilakukan penyekatan saat panen agar ayam lain tidak stres.
 
Zaenal Arifin selaku Technical Support dan Marketing, PT Farmsco Indonesia menyodorkan data di lapangan, dari populasi awal sebanyak 6,2 ribu ekor dengan populasi akhir 60 ribu ekor yang dipanen pada umur 70 hari. Terdapat angka mortalitas sebanyak 3,73 % yakni pada minggu pertama terjadi angka mortalitas paling meningkat 1,25 %, sementara pada minggu berikutnya dibawah 0,5 %. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 273/Juni 2022

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain