Rabu, 1 Juni 2022

Tri Satya Putri Naipospos, Strategi Penanggulangan PMK di Tanah Air

Tri Satya Putri Naipospos, Strategi Penanggulangan PMK di Tanah Air

Foto: Dok. Pribadi


Sudah hampir 32 tahun Indonesia bebas dari Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Namun kini, penyakit yang sangat ditakuti ini muncul kembali yang kehadirannya bersamaan dengan masuknya LSD (Lumpy Skin Disease). Kondisi ini merupakan sesuatu kerugian yang besar bagi dunia peternakan dan kesehatan hewan nasional.
 
Kalau melihat isu global, PMK ini merupakan penyakit yang paling ditakuti dunia, karena merupakan penyakit paling menular pada hewan yang pernah diketahui dunia. Ancaman akan terus berlanjut, karena kurang lebih 100 negara mengalami endemik PMK dan meliputi sebanyak 77 % populasi ternak dunia masih tertular. Kondisi tersebut merupakan suatu gambaran besar bahwa PMK menjadi masalah dunia.
 
Sementara dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan dari penyakit ini cukup destruktif. Karena selama masih endemik, maka akan terjadi kerugian produktivitas yang parah. Misalnya untuk sapi perah, produksi susunya tidak akan pernah mencapai hasil optimal dan sapi potong pertumbuhan berat badannya tidak akan maksimal. 
 
Dampak domino dari PMK ini adanya banyak gangguan dalam berbagai kegiatan pertanian, peternakan, industri, dan sosial. Lalu bagi negara – negara berkembang merupakan ancaman utama terhadap suplai pangan (food supply) dan ketahanan pangan (food security).
 
Seperti wabah PMK di Inggris pada 2001 yang mengakibatkan kerugian bagi sektor pertanian sebesar Rp 53,36 triliun, karena hampir 6 juta ekor ternak dicoba untuk dimusnahkan tapi masih belum bisa menghentikan penyakit ini. PMK juga merupakan isu One Health, karena sepanjang dampaknya menyangkut kepada manusia. Akibat dari penyakit ini seperti masalah kesejahteraan hewan (animal welfare) dengan adanya penyembelihan massal stok ternak sehat dan kesejahteraan manusia (human welfare) yaitu hilangnya mata pencaharian.
 
Risiko Penularan
Berdasarkan studi penilaian Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE), bahwa risiko masuknya virus PMK eksotis ke Asia Tenggara dapat disimpulkan adalah ‘tinggi”, terutama untuk virus baru. Hasil studi menunjukkan bahwa serangan lebih lanjut virus PMK eksotis bukanlah masalah ‘jika terjadi’ tetapi melainkan ‘kapan terjadi’. Jika dianalogikan ke kondisi peternakan tanah air bukan soal kalau terjadi tetapi masalahnya lebih pada soal waktu, karena realitas global PMK yang tidak bisa dihindari. Realitas ini dipicu oleh deteksi virus PMK serotipe O dari Asia Selatan ke Laos, Vietnam, dan Myanmar pada 2015 dan serotipe Asia-1 ke Myanmar pada 2017.
 
Disamping penilaian risiko yang tinggi kemudian OIE membaginya lebih lanjut kepada masing- masing negara ASEAN. Penilaian itu selalu berbicara tentang kualitas sistem kesehatan hewan nasionalnya, bagaimana situasi dan tingkat perdagangan di negara tersebut, apakah baik untuk intra ASEAN atau keluar ASEAN ataukah memang terbatas ekstensif atau intensif.
 
Jika dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia Tenggara, Indonesia memiliki kualitas sistem kesehatan hewan nasional yang buruk. Kondisi tersebut suatu kenyataan yang harus dijadikan pelajaran bahwa memang di Indonesia tidak memiliki sistem kesehatan hewan nasional yang cukup kuat untuk bisa menahan serangan penyakit – penyakit lintas batas ke wilayah tanah air. Hasil penilaian OIE, bahwa Indonesia tetap memiliki risiko penyebaran PMK yang sedang – sedang saja, karena pemerintah sekuat tenaga untuk tidak melakukan pemasukan ternak dari negara – negara yang masih memiliki tingkat PMK yang tinggi.
 
Secara klinis, penampakan PMK pada hewan berbeda – beda, dengan perjalanan epidiomologi yang menjadi pertama terlihat atau indikator penyakit adalah dari sapi. Ternak domba, kambing, dan babi bisa menjadi carrier (pembawa penyakit). Dan yang paling lama, yang bisa bertindak sebagai carrier adalah sapi.
 
Makanya kenapa morbiditas rendah, terkadang ada yang sembuh dari penyakit PMK dalam satu populasi. Tetapi harus diingat bahwa virus PMK dapat bertahan hidup dalam jaringan faring  kerongkongan atau esofagusnya dan menurut penelitian masih bisa terlihat bisa sampai 3,5 tahun. Pada domba terkadang tidak menunjukkan gejala, atau bahkan tidak ada gejala. Domba disebut sebagai maintenance host, namun bisa bertindak sebagai carrier. Sedangkan ternak babi disebut amplifier host, karena mengeluarkan dari napasnya beribu – ribu dosis tinggi yang bisa menjadi ancaman bagi sapi apabila mereka bercampur atau berdekatan.
 
Adapun tingkat morbiditas PMK pada populasi ternak yang seluruhnya rentan mencapai 80 – 100 %, di mana tingkat mortalitas cenderung rendah pada ternak dewasa (1 – 5 %), dan mencapai 20 % pada ternak muda. Masa inkubasi PMK ini di rentang 1 – 14 hari, hanya paling sering diantara 2 – 5 hari. Sedangkan dosis infektif rendah dan masa inkubasi lebih lama. Ekskresi virus dapat terjadi sebelum onset gejala klinis.
 
Kesiagaan Darurat 
Wabah PMK di tanah air sedang berlangsung dan tidak tahu persis bagaimana, yang dikenal hanya kejadian di Provinsi Jawa Timur dan Aceh yang terus bertambah, sehingga harus ada kesiagaan darurat. Untuk kesiagaan darurat yang dikenal adalah pra wabah yaitu pencegahan dan kesiapsiagaan (preparedness); wabah yaitu pengendalian dan pemberantasan penyakit; serta pasca wabah dengan repopulasi dan memperoleh kembali status kesehatan hewan di tingkat nasional/internasional. Tantangan selama wabah seringkali bukan tantangan teknis (tetapi manajemen sumber daya, hubungan masyarakat, manajemen informasi, dan ketahanan mental). Sedangkan tantangan pada pra wabah dan wabah adalah kecepatan pengambilan keputusan.
 
Siklus kesiagaan dan respon darurat yaitu melalui pencegahan & deteksi. Pencegahan dan deteksi idealnya dilakukan secara bersamaan, dan keduanya terjadi selama tidak adanya darurat penyakit (emergency diseases) atau disebut sebagai “masa damai”. Selanjutnya adalah respons yaitu ketika suatu penyakit terdeteksi, respons cepat sangat penting untuk meminimalkan penyebaran penyakit. Keterlambatan pada titik ini sangat penting dan dapat menyebabkan penyakit tersebar luas dan mengarah kepada situasi endemik. Lalu Pemulihan yaitu setelah penyakit dapat dikendalikan atau dieliminasi, respons mereda dan periode pemulihan diperlukan untuk mengembalikan sektor peternakan yang terdampak ke keadaan sebelumnya.
 
Indonesia menyikapi siklus kesiagaan dan respon darurat melalui Pedoman Pelaksanaan Sistem Manajemen Keadaan Darurat untuk Kesiagaan dan Tanggap Darurat Penyakit Hewan (2016) yang bertujuan mempersiapkan otoritas veteriner dalam menghadapi kejadian darurat penyakit hewan. Untuk strategi utama penanggulangan wabah PMK (Kiatvetindo) yaitu stamping out, vaksinasi, dan surveilans. Juga ada strategi-strategi pendukung lainnya. Keberhasilan upaya kesiapsiagaan dan respons darurat akan wabah PMK ini bergantung pada efektivitas kerja sama antar pemangku kepentingan baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, peternak/produsen ternak, dan industri sektor swasta/terkait.
 
Sementara prinsip pengendalian wabah PMK yaitu mencegah penularan virus dari ternak yang terinfeksi ke ternak yang rentan melalui menghilangkan produksi virus, musnahkan ternak yang terinfeksi dan yang kontak, serta musnahkan ternak dengan kontak berbahaya jika risiko tinggi. Juga mengurangi potensi kontak langsung antara ternak dengan pembatasan pergerakan (movement restriction) dan menjadi lebih ketat untuk negara-negara yang memiliki populasi ternak yang besar.
 
Kemudian mengurangi lama waktu survival di lingkungan yaitu biosekuriti khusus di PMK melalui menambahkan terhadap  pembersihan dan disinfeksi peternakan tertular. Serta mengurangi jumlah hewan yang rentan dengan cara vaksinasi darurat atau pemusnahan berkelanjutan jika situasi bertambah parah. Sesuatu yang tidak mudah dilakukan tetapi prinsip dari pengendalian.
 
Untuk tindakan pengendalian awal wabah, karena belum memiliki vaksin dan harus dibuat terlebih dahulu serta membutuhkan waktu, maka harus standstill atau tidak bergerak/lockdown dengan pembatasan pergerakan ternak. Setelah itu, stamping-out pada peternakan tertular. Kemudian tetapkan zona proteksi 3 km dan zona surveilans 10 km. Lalu surveilans aktif (penelusuran/tracing). Sayangnya, tindakan-tindakan yang dilakukan sampai saat ini hanya berada di atas kertas tapi belum bisa dipraktikkan secara langsung karena kesiap-siagaannya masih sedikit lemah di Indonesia. Artinya, tidak bisa dilaksanakan karena kurangnya undang-undang yang mengatur tindakan tersebut.
 
Sedangkan keberhasilan penanggulangan wabah PMK di Indonesia akan bergantung pada beberapa faktor diantaranya, siskeswannas yang efisien, surveilans penyakit, kapabilitas diagnostik, vaksin dan vaksinasi, kesiagaan dan respons darurat, integrasi regional, partisipasi sosial, pengetahuan sistem dan profil ternak, situasi epidemiologi, investigasi wabah, kesinambungan, serta komitmen politik dan pendanaan. TROBOS
dituliskan kembali oleh rakhmat ramdan
 
 
Ketua 2 Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI) 
Senior Animal Health Emergency Management System Adviser,
Australia Indonesia Health Security Partnership (AIHSP) 
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain