Rabu, 1 Juni 2022

Urgensi HPT dalam Pakan Ruminansia

Peternak perlu memahami spesies dan fungsi HPT karena akan berpengaruh terhadap performa ternak dan ongkos pemeliharaan
 
Hijauan pakan ternak (HPT) yang berkualitas merupakan salah satu kunci sukses beternak ruminansia. Dikarenakan kandungan nutrien pada HPT seperti energi, protein, mineral, vitamin bahkan serat berguna untuk kebutuhan hidup pokok, produksi serta reproduksi pada ruminansia sehingga HPT yang bagus akan mempengaruhi performa ternak.
 
“Banyak sumber bahan pakan yang mengandung energi, protein namun kandungan seratnya rendah. Inilah keunikan dari HPT dikarenakan ternak ruminansia memerlukan serat di dalam rumen,” ucap Prof Luki Abdullah, Guru Besar Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan IPB University pada seminar online yang diprakarsai oleh Klub Sekolah Peternak Rakyat, IPB University pada Minggu (10/4). 
 
HPT yang berkualitas, menurut Luki yakni tidak mengandung racun. Apabila ternak keracunan meksipun kejadian ini terbilang sedikit akan tetap mengganggu pencernaan pada ternak karena nutrien tertentu tidak bisa berfungsi atau terdapat anti nutrisi pada pakan. Faktor yang menyebabkan keracunan yakni pemberian HPT yang acak serta tidak menyediakan HPT secara terencana dan baik. Walhasil diperlukan lahan khusus yang diperuntukkan sebagai padang penggembalaan dengan tetap dilakuakn secara terkontrol dan sepengetahuan peternak termasuk pemberian pupuk pada HPT agar tidak terdapat nitrat yang berlebihan. “Nantinya pemberian HPT lebih dari satu jenis bisa diberikan tanpa adanya kejadian keracunan,” ujarnya. 
 
Adapun yang lainnya, ciri HPT berkualitas mampu memenuhi kebutuhan nutrisi pada ruminansia minimal 60 % dari total kebutuhan bahan kering. Berikutnya, kandungan protein kasar minimal 10 %. Kandungan minimal RUP (rumen undegradable protein) 23 %, NDF (neutral detergent fiber) 21 – 47 %, ADF (acid detergen fiber) 18 – 34 %, serta TDN (total digestible nutrient) minimal 56 %. “Kebanyakan peternak menggunakan parameter TDN di dalam susunan ransum ruminansia,” ujarnya. 
 
Kendati demikian, Luki menegaskan bahwa berdasarkan survei dan pengalaman di lapangan masih banyak peternak memiliki pengetahuan yang kurang mendalam mengenai HPT salah satunya terkait jenis, penggunaan serta penanganan leguminosa. Hanya kurang dari 26 %, peternak di Indonesia memahami seluk beluk leguminosa. “Padahal dengan memahaminya akan mengurangi ongkos pemeliharaan terutama di fase rearing untuk peternak sapi perah seperti di negara Australia,” katanya.
 
Lebih lanjut, fungsi HPT berkualitas lainnya yakni menjaga kesehatan rumen. Pemberian dengan kualitas HPT yang rendah akan mengakibatkan villi-villi pada rumen akan rontok sehingga menimbulkan intervensi bakteri terhadap dinding rumen bahkan hal ini jika berlanjutakan menyebabkan ketosis. “Ciri-cirinya yakni kaki depan sapi menyilang saat berdiri. Parahnya lagi, terjadi pelembekan pada teraca kaki lalu akan ambruk (downer). Walhasil saat di indikasikan kaki sapi menyilang perlu sesegara diberikan penambahan hay yang berkualitas karena jika sudah ambruk sangat sulit untuk dilakukan recovery,” paparnya. 
 
HPT berkualitas juga berdampak pada kesehatan dan kesejahteraan ternak bahkan umur sapi lebih panjang. Buktinya, kami ada riset yang menunjukkan adanya kecenderungan pemberian HPT yang berkualitas pada sapi perah yang bisa menghasilkan laktasi selama 7 kali. Di sisi lain, fungsi HPT berkualitas yakni mampu mampu menjaga produk ternak lebih berkualitas dan sehat. Serta saat proses pembiakan, ongkos yang dikeluarkan berpeluang murah,” terangnya.
 
Manure Score
Luki memaparkan adapun kecukupan asupan pakan utamanya kandungan nutrisi bahan kering dikaitkan dengan kualitas HPT. Indikator jangka pendeknya dapat diketahui dari manure score (mengamati feses), yakni dengan penilaian berdasarkan skor 1 – 5, dimana semakin kecil angkanya (1 dan 2) artinya ternak tersebut kekurangan HPT serta HPT yang diberikan terlalu muda. Sementara skor 3 dinilai seimbang lalu skor 4 dan 5 diindikasikan kelebihan HPT atau serat bahkan terlalu tua. 
 
“Pada skor 1 ditandai feses tidak menumpuk, sangat cair. Lalu ketika jatuh langsung menyebar tidak tertahan. Artinya sapi diindikasikan sangat sakit (ada gangguan metabolisme). Dikarenakan pakan yang dkonsumsi kelebihan protein dan karbohidrat, serta kurang serat dan rumput terlalu muda sehingga perlu dilakukan pengobatan dengan memberikan rumput segar. Sementara skor 2, sama dengan skor 1, hanya saja gangguan metabolismenya tidak separah pada skor 1,” terangnya.
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 273/Juni 2022
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain