Sabtu, 11 Juni 2022

Arief Daryanto Orasi Ilmiah Sebagai Guru Besar IPB University

Arief Daryanto Orasi Ilmiah Sebagai Guru Besar IPB University

Foto: Istimewa


Bogor (TROBOSLIVESTOCK.COM).  Prof. Dr. Ir. Arief Darjanto, M.Ec menyampaikan orasi ilmiah sebagai Guru Besar Tetap Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University di kampus IPB University Bogor, Jawa Barat pada Sabtu, 11 Juni 2022. Acara orasi bersama dengan 2 guru besar lainnya ini dipimpin Rektor IPB University, Arif Satria.

 


Pria yang menjabat sebagai Dekan Sekolah Vokasi IPB University ini menyampaikan orasi ilmiah berjudul Strategi Peningkatan Daya Saing dan Rantai Nilai Inklusif Industri Perunggasan di Indonesia. Dalam orasinya, Adjunct Professor UNE Business School, University of New England, Australia ini mengatakan, industri perunggasan merupakan penyedia kebutuhan protein utama dengan porsi sekitar 70 % yang dapat diproduksi menjadi protein dari kandang ke meja makan (from farm to table)  dengan proses tercepat dibandingkan dengan jenis daging lainnya. Sehingga daging ayam sebagai raja daging atau “king of meat”. Pada masa krisis pandemi, harga daging ayam tetap lebih murah dibandingkan dengan protein daging lainnya yang sangat penting pada saat ketidakpastian ekonomi beberapa tahun terakhir ini. Produksi daging ayam dan telur saat ini telah mencapai tahap swasembada.

 



Anggota Tim Kajian Penataan Perunggasan Nasional Direktorat Jenderal PKH Kementan RI ini menekankan, daya tahan dan daya saing subsektor peternakan juga turut direfleksikan oleh sektor perunggasan. Industri perunggasan merupakan pasar menarik (atraktif) karena potensi konsumsi protein dan nilai transaksi pasar yang besar, baik dalam era sebelum, pada saat, dan setelah pandemi (era kenormalan baru). Meskipun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa daya saing sektor perunggasan masih menghadapi berbagai tantangan pada setiap tahapan rantai nilai. “Mencermati tren transformasi yang terjadi, perlu dilakukan upaya sistematis untuk meningkatkan daya saing sekaligus mempromosikan ketangguhan dan ketahanan (resiliensi) industri perunggasan di Indonesia. Adapun faktor-faktor yang memengaruhi transformasi perunggasan di Indonesia dapat diidentifikasi dari sisi permintaan, penawaran, dan kebijakan publik.,” sarannya.

 


Menurut Anggota Dewan Pakar ASOHI (Asosiasi Obat Hewan Indonesia) ini, industri perunggasan Indonesia memiliki berbagai tantangan di sepanjang rantai. Tantangan utama yang pertama dihadapi adalah biaya pakan. Bahan pakan sebanyak 65 % berasal dari lokal dan 35 % impor. Harga jagung dan kedelai ditentukan secara internasional tetapi cenderung meningkat bagi produsen Indonesia.

 



Tantangan kedua adalah skala produksi. Skala produksi yang cukup kecil membuat rentan terhadap negara-negara pengekspor yang mengeksploitasi skala ekonomi. Selain itu, peternak cenderung memotong ayam pedaging dengan bobot yang lebih rendah dibandingkan rata-rata dunia.

 


Tantangan ketiga, ketidakmampuan untuk mengekspor. Saat ini Indonesia telah berswasembada daging ayam dan memiliki kecenderungan surplus yang belum mampu ekspor karena belum ada sistem yang diperlukan untuk memenuhi persyaratan sanitasi dan fitosanitasi pasar ekspor.

 


Tantangan keempat, daya saing industri perunggasan nasional dihadapkan masih adanya input produksi yang diimpor dan ancaman masuknya daging ayam dari luar negeri. Tantangan kelima, preferensi konsumsi masyarakat Indonesia yang lebih memilih daging ayam segar dibandingkan dengan daging beku.

 



Tantangan keenam, kinerja rantai nilai belum menghasilkan manfaat yang inklusif bagi stakeholders yang terlibat terutama bagi para peternak skala kecil. Tantangan ketujuh, persoalan asymmetric information.

 



Bagi Komisaris PT Bogor Life Science and Technology (BLST) IPB ini, industri perunggasan merupakan pasar yang tetap menarik (atraktif) karena potensinya dalam konsumsi, nilai transaksi pasar yang besar, baik untuk bisnis, baik dalam era sebelum dan setelah pandemi. Industri yang menarik ini didorong oleh kebutuhan yang lebih tinggi dengan permintaan yang kuat dalam konsumsi protein karena setelah pandemi masyarakat ingin hidup yang lebih peduli dengan imunitas kesehatan.



Dalam rangka memenuhi permintaan daging ayam dan telur yang terus meningkat pasca pandemi, lanjut Arief, sektor protein hewani perlu melakukan modernisasi dan industrialisasi agar dapat berproduksi dengan lebih efisien, efektif, dan berdaya saing. “Dunia pasca pandemi akan penuh dengan tantangan, tetapi kita bisa melihatnya sebagai peluang untuk perbaikan berkelanjutan dan peningkatan efisiensi sehingga industri perunggasan dapat terus menempatkan aspek kesehatan, harga makanan yang lebih terjangkau dan berkelanjutan di setiap meja makan konsumennya,” jelasnya.

 


Upaya yang dapat dilakukan oleh para pelaku usaha dalam industri perunggasan antara lain adalah (a) Meningkatkan koordinasi vertikal. Koordinasi vertikal dilakukan untuk mendapatkan nilai tambah di seluruh rantai pasokan untuk meningkatkan stabilitas marjin keuntungan, (b) Menerapkan AgTech dan digitalisasi mulai dari kandang sampai meja konsumen di seluruh rantai pasokan. Penggunaan big data, Internet of Things, robot, sensor dan drone merupakan teknologi yang sangat maju untuk mentransformasi industri perunggasan,  (c) Meningkatkan keamanan bio; Keamanan bio dilakukan dalam rangka mengatasi penyebaran penyakit dan mengurangi tingkat kematian, dan (d) Modernisasi dan otomatisasi di seluruh rantai pasokan.

 


Direktur Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis dan kemudian menjadi Sekolah Bisnis (SB) periode 2005 – 2016 ini menerangkan, peningkatan inklusivitas industri perunggasan merupakan suatu keniscayaan. Koordinasi vertikal merupakan model strategi rantai pasok yang paling umum dan dilaksanakan oleh perusahaan skala yang lebih besar dengan menggunakan kerjasama atau kemitraan kontrak dengan para peternak yang saling menguntungkan. Koordinasi vertikal dalam industri perunggasan dapat didefinisikan sebagai proses produksi hingga industri hilirnya berada pada satu komando keputusan manajemen. Koordinasi vertikal ini dapat bersifat secara parsial atau penuh.

 


Perusahaan-perusahaan yang menerapkan model koordinasi vertikal dan kemitraan kontrak terbukti menghasilkan peningkatan efisiensi, produktivitas, dan kualitas produk. Perubahan paradigma “from volume to value” diperlukan untuk meningkatkan diferensiasi produk industri perunggasan sehingga lebih berorientasi pada nilai tambah. Alternatif lain yang dapat dilakukan selain koordinasi vertikal dan kemitraan kontrak adalah peternak dapat membentuk usaha bersama (koordinasi horizontal) atau secara mandiri.

 


Sejalan dengan upaya yang telah diuraikan di atas, peningkatan daya saing industri daging ayam membutuhkan perubahan model rantai pasokan dari yang bersifat tradisional ke model yang baru. Dalam rangka meningkatkan produktivitas dan daya saing peternak, modernisasi usaha peternakan perlu bergeser ke kandang tertutup yang mengikuti prinsip-prinsip “good farming practices” dan sistem biosekuritas yang ketat. Selain itu, perlunya koordinasi dengan Kementerian Perdagangan untuk dapat memaksimalkan kerjasama perdagangan bebas dan menurunkan hambatan non tarif yang ada.

 


Dalam orasinya, Arief pun menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah berjasa dalam perjalanan karirnya hingga saat ini. Dalam acara ini Arief pun mendapatkan Tanda Penghargaan Satya Lencana Sujana Utama. TROBOS/yopi

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain