Rabu, 29 Juni 2022

Optimalisasi Sistem Ventilasi pada Closed House

Optimalisasi Sistem Ventilasi pada Closed House

Foto: dok.istimewa


Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Penggunaan closed house (kandang tertutup) untuk broiler (ayam pedaging) sangat diperlukan seiring dengan perkembangan broiler dan iklim saat ini. Closed house adalah sistem kandang dimana kondisi udara dari luar tidak bisa masuk, kecuali melalui inlet dan keluar melalui outlet yang dibuat dalam suatu sistem ventilasi.

 

Sistem ventilasi tersebut mampu mengeluarkan panas, uap air, dan gas berbahaya (CO, CO2, NH3) yang ada di dalam kandang, dan mampu menyediakan kebutuhan O2 bagi ayam sehingga performa optimal. Hal tersebut disampaikan oleh Suhut, Technical Education & Consultation (TEC) Poultry Management Staff, PT. Medion pada Rabu (18/5) secara online.

 

Ada berbagai macam parameter yang harus diperhatikan pada kandang sistem closed house. Mulai dari persiapan kandang, ventilasi, manajemen air minum, manajemen pemberian pakan, pencahayaan, litter, panen ayam, dan monitoring. Pada ventilasi, terdapat berbagaimacam tipe, seperti ventilasi silang, ventilasi tunnel, ventilasi longitudinal, ventilasi atap, ventilasi atap dan tunnel, serta ventilasi longitudinal dan tunnel.

 

“Kalau kita mau membahas tentang kebutuhan ventilasi yang ada di kandang, kita harus tahu dasar perhitungan apa saja yang diperlukan. Sehingga nanti penentuan pengaturan ventilasinya akan tepat,” ujar Suhut.

 

Optimalisasi Sistem Closed House

Cross section area merupakan luas penampang kandang, yang dirumuskan lebar dikalikan tinggi kandang. Dengan ukuran standar closed house 120 x 12 x 2 m. Sementara pada kandang berplafon, perhitungan cross section area diperoleh dari lebar kandang dikalikan rata-rata tinggi kandang bagian tengah dan samping. “Untuk tipe kandang ini, biasanya cross section area akan lebih luas karena tingginya tentu saja akan lebih tinggi rata-ratanya dari pada kandang berplafon,” tambahnya.

 

Suhut melanjutkan, kebutuhan jumlah kipas di dalam kandang dapat dihitung melalui kecepatan udara maksimum. Kecepatan udara maksimum dirumuskan dengan cross section area dikalikan dengan kecepatan angin maksimum yang ingin dicapai di kandang closed house tersebut. Kecepatan maksimum untuk ayam dewasa biasanya 3,0 – 3,2 m per detik. Sehingga, jumlah kipas dapat dihitung berdasarkan kapasitas udara maksimum dibagi kapasitas kipas.

 

Sementara cooling pad adalah pendingin udara yang mampu memanfaatkan penguapan air dan mampu menyaring udara yang masuk ke kandang. Perhitungan area cooling pad dapat dihitung dengan total kapasitas kipas yang digunakan, dibagi target kecepatan angin berdasarkan spesifikasi cell pad yang dipasang. Jika pakai cell pad dengan spesifikasi tinggi 1 feet atau 1,5 m, maka panjang area cooling pad dihitung dengan area cooling pad dibagi tinggi cell pad.

 

Kemudian, antara input dan output harus memiliki luasan yang seimbang. “Output ini dalam arti jumlah kipas, tentunya ini berdasarkan kapasitas. Jadi keseimbangan antara input dan output sangat penting karena nanti akan menentukan distribusi kecepatan angin di dalam kandang dan juga nanti total kecepatan yang ada di dalamnya. Ini sangat ditentukan oleh keseimbangan antara input dan output, yaitu keseimbangan antara luasan area inlet dan jumlah kipas yang menyala,” paparnya.

 

Ventilasi tunnel menyerupai sebuah terowongan dimana aliran udara seperti masuk ke lorong dari depan ke belakang. Pada ventilasi tunnel, input hanya melalui cooling pad atau area inlet dan keluarnya hanya melalui exhaust fan atau kipas.

 

“Karena di dalam kandah sudah ada broiler yang membutuhkan oksigen dengan kadar minimal 19,6 %, maka sistem tunnel ini harus mampu menyediakan kebutuhan oksigen di atas 19,6 %,” sebutnya. Selain itu, standar target lainnya yang harus dimiliki sistem tunnel ini yaitu kadar karbon dioksida < 0,3 % atau 3.000 ppm, karbon monoksida < 10 ppm, kadar amonia < 5 ppm, debu yang dikeluarkan < 3,4 mg per m3, dan ideal relative humidity (RH) < 70 %.

 

Ada 3 tahapan pengaturan ventilasi di tipe ventilasi tunnel, yaitu ventilasi minum, transisi, dan maksimum. Ventilasi minimum digunakan ketika ayam membutuhkan kandang yang hangat. Seperti misalnya suhu di luar kandang 25 °C, sedangkan target suhu 32 °C. Pada ventilasi ini, cooling pad  belum diperlukan.

 

Kemudian, pada ventilasi transisi yang merupakan peralihan antara ventilasi minimum dan maksimum, dinyalakan ketika suhu di luar kandang tidak beda jauh dengan suhu yang dibutuhkan di dalam kandang.

 

Pada ventilasi ini, cooling pad  juga belum diperlukan. Lain halnya dengan ventilasi maksimum yang dinyalakan pada saat ayam membutuhkan suhu yang rendah, sedangkan di luar kandang suhu tinggi. Seperti suhu luar kandang 33 °C, padahal ayam membutuhkan suhu 27 °C. Pada ventilasi ini, diperlukan efek pendinginan dari cooling pad.

 

“Penerapan tahapan ventilasi ini haruas tepat, sesuai periode pemeliharaan dalam kandang. Karena kalau sampai penerapan ini salah, tentunya akan berpengaruh terhadap performa broiler di dalam kandang. Misalnya di fase brooding, ventilasi yang harus kita terapkan yaitu ventilasi minimum, kemudian periode selanjutnya ventilasi transisi, dan yang terakhir nanti di ventilasi maksimum,” jelasnya.

 

Ia menerangkan, efek cooling pad efektif menurunkan suhu 70 – 75 %. Penentuan setting cooling pad harus mempertimbangkan minimum kecepatan angin yang ada, target suhu untuk menghidupkan cooling pad, dan kelembaban yang ditimbulkan. Jikka kelembaban tinggi, maka suhu efektif akan meningkat, menyebabkan litter menjadi lembab, amonia naik, dan memicu penyakit pernapasan pada ayam.ue/shara

 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain