Jumat, 1 Juli 2022

Peternak Merana

Kemunculan kembali FMD (Foot and Mouth Disease) atau PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) yang ditemukan di beberapa kabupaten di Jawa Timur pada awal Mei lalu mengagetkan para pelaku usaha di bidang peternakan tidak terkecuali para peternak di komoditas sapi perah. Kini penyakit yang sebenarnya telah 32 tahun menghilang di Indonesia ini menyebar kembali di berbagai daerah di tanah air.


Data dari siagapmk.id per Minggu, 26 Juni 2022 menunjukkan PMK telah menyebar di 19 provinsi dengan 217 kabupaten/kota yang tertular. Secara nasional sisa kasus ternak yang belum sembuh sebanyak 180.706 ekor. Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah merupakan 3 besar provinsi dengan kasus PMK tertinggi.


Dari total kasus yang ada, pelaku usaha di komoditas ternak sapi perah yang paling terdampak mengingat produksi susu segar menjadi turun drastis, banyak indukan yang harus potong paksa bahkan mati. Di Whatsapp Group atau di media sosial bersebaran video sapi perah beragam umur yang menunjukkan gejala terjangkit PMK, sapi perah yang sedang antri untuk di potong di RPH (Rumah Potong Hewan) bahkan sapi perah yang mati.


Bahkan di media sosial tersebar berbagai narasi yang menyatakan di wilayah-wilayah sentra ternak sapi perah sudah ribuan yang terjangkit PMK. Para peternak dan petugas di lapangan pun kewalahan mengatasi penyakit yang begitu cepat penyebarannya ini.


Data GKSI (Gabungan Koperasi Susu Indonesia) per 22 Juni 2022 menunjukkan PMK sudah menyerang di total 58 koperasi anggota GKSI yang terletak di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

 

Dari total populasi sapi perah anggota GKSI sebanyak 260.916 ekor terdapat sebanyak 70.434 ekor yang positif & terduga PMK; sebanyak 23.412 ekor yang sembuh; sebanyak 2.995 ekor potong paksa; dan sebanyak 1.588 ekor mati bangkar. PMK yang menjangkiti komoditas sapi perah ini telah menyebabkan penurunan produksi susu segar nasional sebesar 30 %.


Padahal komoditas peternakan sapi perah ini merupakan salah satu yang berpengaruh terhadap perekonomian sektor pangan asal hewani di Indonesia yaitu produk susu. Mengingat, produk susu ini untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan bahan baku industri sehingga mempunyai peran penting dalam perekonomian nasional.


Wabah PMK ini pun menyebabkan terjadi depopulasi akibat penurunan populasi sapi perah yang mati baik karena potong paksa maupun mati bangkar. Bahkan kuat dugaan jumlah sapi perah yang mati di lapangan jauh lebih besar dibandingkan data yang ada karena banyak peternak yang tidak melaporkan kematian sapinya. Di sisi lain, harga jual sapi perah yang terkena PMK menjadi murah karena adanya pasokan berlebih yang menyebabkan harga sapi potong paksa menjadi murah.


Ditambah lagi peternak mengalami panic selling. Ketika sapinya terkena PMK peternak akan segera menjual sapinya, baik dijual hidup atau ke Rumah Potong Hewan (RPH). Karena jika harus ditangani sendiri biaya penanganan sapi yang terkena PMK antara Rp 250 – 350 ribu per ekor karena harus ada obat – obatan, vitamin,dan suplemen agar daya tahan tubuhnya tidak turun dan hal itu dirasakan cukup mahal. Kondisi ini yang mengakibatkan cashflow peternak terganggu signifikan, cashflow koperasi pun terganggu.


Peternak sapi perah rakyat saat ini banyak mengalami kerugian yang berkepanjangan. Apalagi jika tidak mendapatkan penanganan yang cepat akan menimbulkan kondisi sosial baru yaitu bertambahnya angka kemiskinan.


Wabah PMK saat ini pun tidak hanya berdampak kepada peternak, tetapi pada rantai nilai produk susu di Indonesia yaitu peternak,koperasi, pengolahan susu, cafe atau rumah makan, distributor,hingga konsumen. Juga berdampak terhadap kinerja perekonomian makro, termasuk ekspor, dan turis.


Analisis pakar menyebutkan, dampak ekonomi PMK menimbulkan kehilangan produktivitas berupa penurunan produksi susu sebanyak 25 % per tahun serta penurunan tingkat pertumbuhan sapi potong sebanyak 10 – 20 % yang mengakibatkan ternak lebih lama mencapai dewasa. Juga kehilangan tenaga kerja 60 – 70 % pada bulan ke-1 pasca infeksi, penurunan fertilitas (angka abortus mencapai 10 %) dan perlambatan kebuntingan. Lalu adanya pemusnahan ternak, gangguan perdagangan domestik dan manajemen ternak,kehilangan peluang ekspor ternak dan biaya eradikasi.


Dampak ekonomi PMK pada masyarakat yang bergantung terhadap bisnis peternakan dapat mengancam produktivitas, ketahanan pangan, dan pendapatan peternak. Juga mengurangi peluang pasar lokal bagi penjualan ternak, produk daging dan olahannya serta susu dan produk olahan susu. Bahkan dampak ekonomi PMK secara makro berpengaruh terhadap produk turunan yang diproduksi perusahaan modern misalnya susu segar, yoghurt, dan keju.


Tidak sampai disitu, setelah melakukan penghitungan bahwa dampak PMK terhadap kinerja ekonomi makro ternyata negatif. Jika penurunan produksi susu sapi Indonesia akibat PMK sebanyak 30 % maka penurunan GDP senilai 0,043 % atau setara dengan penurunan PDB sebanyak Rp 3,5 triliun. Jika penurunan produksi susu sapi dan daging sapi akibat PMK sebanyak 30 % maka penurunan GDP senilai 0,249 % atau setara dengan penurunan PDB sebanyak Rp 30,9 triliun.


Jika terjadi penurunan 1 % GDP maka akan meningkatkan pengangguran sebanyak 2 %. Atas kondisi ini, perlu upaya yang serius dan komprehensif dari pemerintah dan stakeholder terkait agar wabah PMK ini bisa segera teratasi dengan baik.TROBOS

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain