Jumat, 1 Juli 2022

Kunci Sukses Vaksinasi di Hatchery

Kunci Sukses Vaksinasi di Hatchery

Foto: Istimewa


Teknologinya semakin berkembang dan porsi DOC yang mendapatkan vaksinasi di penetasan sudah tembus 90 %. Membuktikan vaksinasi di hatchery bukan lagi sekedar tren, melainkan sudah menjadi tuntutan di industri perunggasan Vaksinasi di hatchery diharapkan memberikan benefit karena memiliki kecepatan, ketepatan dosis, tingkat stres DOC (ayam umur sehari) yang divaksin, efikasi yang tinggi, kapasitas yang besar sehingga dapat menghemat biaya vaksinasi di farm (peternakan). Vaksinasi di hatchery semakin kekinian semakin besar skalanya, jika pada fase awal dulu hanya 50 ribuan ekor untuk sekali pullchick, maka sekarang bisa berkali-kali lipat karena perkembangan teknologi.

 

Hal itu dikatakan oleh Ayatullah M Natsir – Poultry Business Unit Manager PT Ceva Animal Health Indonesia pada MIMBAR TROBOS Livestock The Series ke-27 – Perunggasan bertema “Teknologi Terkini Vaksinasi di hatchery” yang digagas oleh Majalah TROBOS Livestock, disiapkan oleh TComm (TROBOS Communication),dan disiarkan secara langsung oleh Agristream TV dan Facebook TROBOS Livestock dan digelar secara daring pada (29/6). Pada MIMBAR yang disponsori oleh PT Ceva Animal Health Indonesia; PT Boehringer Ingelheim Indonesia; dan PT Vaksindo Satwa Nusantara ini juga menghadirkan Titis Wahyudianto – Poultry Technical Service Manager PT Boehringer Ingelheim Indonesia dan Yusak Sanjoyo – National Technical Service PT Vaksindo Satwa Nusantara. Ayatullah menyatakan saat ini sudah tidak masanya diskusi opsi vaksinasi hatchery atau farm. “Maka sekarang kita diskusi bagaimana supaya vaksinasi di hatchery ini lebih efektif, efisien bagi hatchery dan lebih cepat sampai ke kandang bagi peternak. Juga agar lebih protektif hasilnya sehingga menghasilkan panen lebih baik,” tandasnya.

 

Urgensi
Titis Wahyudianto menyatakan vaksinasi di hatchery penting karena adanya jeda rata-rata 6 jam bahkan lebih untuk pengangkutan DOC dari hatchery sampai ke farm. Jeda waktu ini rentan untuk masuk agen penyakit ke tubuh DOC. Juga ada efisiensi biaya vaksinasi sampai dengan 50% dibandingkan dengan vaksinasi konvensional. “Lebih efisien, lebih cepat tetapi tidak mengurangi efikasi, dan mengurangi kemungkinan ayam tidak tervaksin atau tidak tervaksin secara merata. Biaya aplikasi vaksin melalui air minum itu tinggi, untuk biaya tenaga vaksinasi dan bahan-bahan tambahannya,” ungkapnya. Vaksinasi di hatchery, menurut Titis, mengurangi banyak perlakuan di farm.

 

Tenaga kandang dan manajemen farm dapat diarahkan untuk mengoptimalkan potensi genetik ayam, bukan menambah stres akibat vaksinasi konvensional yang bertubi-tubi. “Vaksinasi di hatchery adalah teknologi yang bagus, namun harus didukung manajemen yang prima di kandang agar tidak sia-sia. Manajemen brooding sebagai basis pembentukan tubuh ayam, performa dan kekebalan harus dioptimalkan,” jelasnya. Dan optimalisasi brooding juga lebih mudah dilakukan pada DOC yang sudah mendapatkan vaksin di hatchery karena tidak direpotkan lagi dengan jadwal vaksinasi. Menurut Ayatullah, vaksinasi di hatch ery menunjukkan berbagai keunggulan dibandingkan dengan vaksinasi di farm.

 

Teknologi peralatan untuk vaksinasi di hatchery berkembang pesat, peralatan yang dipergunakan sekarang sudah berbeda jauh dengan saat periode awal teknologi ini diperkenalkan pada 2005 – 2006. Begitu pula vaksin – vaksin dengan teknologi baru juga dikembangkan untuk dipergunakan di tempat penetasan. “Hal ini terkait dengan konsolidasi produksi, pengurangan biaya vaksin dan vaksinasi, dan manajemen risiko,” ungkapnya.

 

Subkutan dan Spray
Titis Wahyudianto menerangkan, vaksinasi di hatchery hadir dalam 3 metode, yaitu in ovo, injeksi subkutan, dan spray vaksin. Namun, kebijakan internal perusahaannya untuk Indonesia, masih difokuskan pada model injeksi subkutan dan sprayer. “Injektor subkutan dari Boehringer Ingelheim memiliki twin touch plate untuk meningkatkan akurasi dan kecepatan vaksinasi sekaligus mengurangi risiko bagi operator dan anak ayam.

 

Keistimewaannya, bisa memuat 2 jenis vaksin sekaligus melalui 1 jarum suntik dengan dosis antara 0,1 – 0,5 ml. Kecepatan maksimum bisa mencapai 3.000 ekor DOC per jam. Jika di atas itu, vaksinasi terlalu cepat, juga meningkatkan potensi missednya,” terangnya.

 

Melanjutkan keterangannya, sprayer vaksinasi DOC di hatchery menggunakan teknologi pompa volumetrik dan check valve untuk memberikan dosis yang akurat dan pattern semprotan secara konsisten, menghasilkan kecepatan hingga 40.000 ekor DOC per jam. Posisi nozzle dapat dengan mudah disesuaikan untuk memvaksinasi semua jenis dan ukuran boks DOC. Jumlah nozzle pun dapat disesuaikan, bisa dipasang 2 untuk kepraktisan atau 4 agar lebih merata. Alat ini memiliki sistem pengaman untuk mencegah operator mengambil boks DOC sebelum dosis spray vaksin tercapai.

 

Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Livestock edisi 274/Juli 2022

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain