Jumat, 1 Juli 2022

Transisi Rantai Pasok Pasar Tradisional ke Modern

Transisi Rantai Pasok Pasar Tradisional ke Modern

Foto: 


Diperlukan rantai pasok yang dapat dipercaya, kompetitif dan efisien dengan kualitas yang terstandarisasi dalam mewujudkan transisi pasar tradisional menuju pasar modern
 
Sektor peternakan merupakan sektor krusial yang menopang kebutuhan masyarakat terlebih saat menghadapi masa dan pasca pandemi. Tantangan yang dihadapi begitu kompleks dalam memenuhi pasokan pangan secara aman dan berkelanjutan. Pembatasan mobilitas yang diterapkan pemerintah cukup memberikan dampak yang serius bagi rantai pasok yang ada.
 
Adanya pembatasan kegiatan di beberapa wilayah nyatanya menciptakan pola permintaan baru di masyarakat. Secara tidak langsung, pola permintaan bertransisi dari berbelanja secara langsung, kini masyarakat lebih nyaman untuk berbelanja melalui layanan online. 
 
Walaupun saat ini pandemi mulai mereda, masyarakat mulai memasuki era new normal, namun pola permintaan online ini diprediksi dapat bertahan dalam jangka waku yang panjang. Oleh karenanya, para pelaku rantai pasok, khususnya dalam hal ini di bidang peternakan dan pangan asal hewani, harus mampu beradaptasi terhadap perubahan tersebut. Salah satunya ialah melakukan transisi dari pasar tradisional menuju pasar modern. 
 
Faktor Logistik dalam Transisi
Jimmy Halim, Founder of PT. Pramana Austindo Mahardika menyampaikan bahwa, kata kunci terbesar dalam melakukan transisi rantai pasok dari pasar tradisional ke modern adalah logistik. Hal tersebut ia sampaikan pada seminar yang bertajuk “Moving the Supply Chain: Traditional vs Modern Market (Lamb & Beef)”, dalam rangkaian kegiatan Livestock Export Program (LEP) Expo di Tangerang, Banten (9-10/6).
 
Logistik didefinisikan sebagai perpindahan produk dari lokasi produsen ke lokasi akhir konsumen, jadi adanya pergerakan barang. Ia bercerita, sekitar 3 – 4 tahun lalu, pihaknya memutuskan untuk bertransisi dari traditional ke modern market. 
 
“Pada saat itulah saya merasakan bahwa masuk ke pasar modern itu bukan lagi menyangkut kepada produk secara spesifik, melainkan rantai pasoknya. Dan logistik itu tidak bisa lari dari kata supply chain (rantai pasokan),” ucapnya.
 
Menurutnya, terdapat beberapa hal yang terlibat dalam logistik pada rantai pasok, di antaranya yaitu fasilitas produsen dapat berupa pabrik atau manufaktur, rantai dingin atau gudang pendingin, kesehatan atau kebersihan, dan pengemasan. Kemudian juga handling (penanganan), tampilan di etalase atau showcase, pengiriman, pergudangan, dan berakhir di rumah konsumen.
 
“Tanpa ini semua, transisi tidak akan pernah terjadi. Dan inilah sebabnya mengapa konsumen memilih untuk tidak bertransisi dengan sengaja. Karena setiap langkah yang diambil, akan menambah biaya,” ujarnya.
 
Jimmy mengatakan, pada saat melakukan transisi dari pasar tradisional ke pasar modern, sebenarnya yang dijual sudah bukan lagi produk, melaikan rantai pasoknya. “Yang dibeli konsumen bukan lagi produk, tapi kepercayaan. Ini mengapa transisi yang masuk ke pasar modern itu bukan hanya mahal, tapi juga kesabaran yang luar biasa. Karena kepercayaan tidak pernah dibangun hanya dalam semalam,” tambahnya.
 
Tidak hanya itu, ia juga menegaskan bahwa dalam setiap prosesnya, pihaknya melakukan strandarisasi seperti Organisasi Internasional untuk Standardisasi (ISO), Sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner (NKV), Sertifikat Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan sebagainya. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memberi jaminan terhadap konsumen atas produk yang dijualnya. 
 
“Selalu ada 3 komponen di dalam supply chain, yaitu biaya, waktu, dan kecepatan. Kalau kombinasinya cepat dan mahal, maka produk menjadi tidak kompetitif. Jika lamban dan murah, maka hal ini akan mengurangi mutu dari suatu produk. Sehingga diperlukan rantai pasok yang cepat dan murah untuk mempertahankan mutu, juga menarik bagi konsumen,” tandasnya.
 
Baginya, kunci keberhasilan yang dapat dilakukan dalam mengubah rantai pasok adalah harus memandang keseluruhan proses sebagai suatu kesatuan alih-alih bagian yang terpisah-pisah. Kemudian harus berfokus pada penciptaan mutu produk. Serta tekun dalam menjalankannya, sebab proses akan diuji oleh konsumen mengingat hasil dari proses ini adalah kepercayaan yang mereka bangun.
 
 
Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Livestock 274/Juli 2022
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain