Jumat, 1 Juli 2022

PPSKI Berkolaborasi Menanggulangi PMK

PPSKI Berkolaborasi Menanggulangi PMK

Foto: Dok. Zulendra


Berkolaborasi dengan pemerintah sekaligus mengendalikan PMK terkait pendataan populasi sapi dan kerbau
 
Mewabahnya penyakit mulut dan kuku (PMK), menuntut DPP PPSKI (Dewan Pimpinan Pusat Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia) di semua tingkatan kepengurusan mengambil peran pada upaya pengendalian wabah ini. Hal itu ditegaskan Nanang Purus Subendro, Ketua Umum DPP PPSKI usai melantik pengurus DPP PPSKI periode 2020-2025 secara hybrid di Gedung C, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan, Jakarta pada Selasa (28/6).
 
“Waktunya menunjukkan eksistensi dan keberadaan kita bahwa organisasi ini benar-benar memperjuangkan nasib para peternak. Bersyukurnya dari kegiatan yang sudah kita laksanakan sebelumnya, permintaan dan tuntutan kepada pemerintah sudah didengar guna mempercepat proses penanganan PMK. Dengan membuka sekat-sekat yang selama ini menghambat penanganan PMK baik itu perizinan maupun anggaran,” sahut Nanang dalam sambutannya.  
 
Berkolaborasi
PPSKI dibentuk pada 1976 oleh Presiden Soeharto untuk menjadi mitra strategis pemerintah guna memajukan dunia peternakan bahkan sumber dana organisasi berasal dari pemerintah. Berbeda dengan era sekarang, PPSKI kini benar-benar organisasi nirlaba dan tidak ada sumber dana yang pasti sehingga dalam menjalankan roda organisasinya secara on the spot. “Kedepannya berharap, organisasi ini bisa lebih mapan bagi anggotanya. Pasalnya, organisasi bisa berjalan kalau anggotanya bisa memetik manfaat dari keberadaan organisasi. Dari usahanya itu memetik keuntungan sehingga bisa berkontribusi terhadap organisasi,” papar Nanang.
 
Sementara bagi Agung Suganda, Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kementan yang mewakili pemerintah mengucapkan selamat kepada pengurus PPSKI yang baru saja dilantik. Dengan dilantiknya pengurus yang baru, peran PPSKI kedepan akan semakin tertata lagi. Serta berkolaborasi dengan pemerintah supaya semakin kuat lagi khususnya dalam penanganan wabah PMK. “Saat ini upaya yang dilakukan bukan hanya dilingkup Kementerian Pertanian, tetapi juga melibatkan Menko Perekonomian maupun Menko Marves. Serta pembentukan tim Satgas PMK serupa Satgas Covid-19 sebagai bentuk upaya kita bersama membebaskan Indonesia dari PMK. Insyaallah tercapai dalam waktu yang tidak terlalu lama,” ungkapnya. 
 
Peran PPSKI, menurut Agung dalam pengendalian PMK salah satunya yakni terkait pendataan ternak. Populasi sapi dan kerbau yang saat ini sejumlah 19,8 juta ekor diharapkan tidak akan berkurang secara drastis. Untuk itu, pendataan ternak sangat penting. “Mudah-mudahan tahun ini kita memiliki data populasi sapi dan kerbau berupa by name by addres dengan mengggunakan identitas nasional terutama bagi peternakan sapi dan kerbau milik peternak rakyat. Tentu PPSKI memiliki peranan penting dalam hal itu,” bebernya.
 
Aman Dikonsumsi
Usai sambutan dari Ketua Umum DPP PPSKI serta perwakilan dari pemerintah berakhir, acara kemudian dilanjutkan dengan seminar nasional yang mengambil tema Pasca PMK, Hal Apa yang Perlu Dilakukan. Adapun narasumber yang dihadirkan yakni Prof Wasito, Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), Universitas Gadjah Mada; Denny Widaya Lukman, Dosen FKH IPB University serta Wakil Ketua Komite Tetap Peternakan, Kadin Yudi Guntara Noor. 
 
 
Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Livestock 274/Juli 2022
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain