Senin, 4 Juli 2022

Anemia & Koksidiosis pada Babi

Anemia & Koksidiosis pada Babi

Foto: Istimewa


Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Manajemen kesehatan babi memiliki peran penting dalam kegiatan budidaya ternak monogastrik ini. Pasalnya, kesehatan babi, terutama piglet (anak babi), akan berpengaruh pada performanya. Adapun dua penyakit pada babi yang perlu diantisipasi oleh peternak ialah anemia dan koksidiosis.
 
Hal di atas diungkapkan oleh Swine Veterinary Service Manager Ceva Animal Health Taiwan, Tony Wei-Fan dalam gelaran Virtual Seminar AMI (Asosiasi Monogastrik Indonesia) dengan topik ‘Manajemen Kesehatan & Lingkungan Babi’ beberapa waktu lalu. “Masalah penyakit di peternakan babi ialah koksidiosis dan anemia. Keduanya merupakan masalah utama di peternakan babi,” kata dia.
 
Masalah yang dimiliki peternak babi, Tony melanjutkan, dimulai dengan anemia. Darah babi yang merupakan cairan homogen berwarna merah, jika diambil dan dimasukkan ke tabung koagulasi yang lebih tinggi darah tidak tersumbat. Kemudian untuk mengetahui babi mengalami anemia atau tidak, bisa dilakukan sentrifugasi.
 
“Usai disentrifugasi, akan terlihat beberapa sel darah yang turun secara intens dengan gravitasi dan beberapa plasma di bagian atasnya. Ketika dilihat di bawah mikroskop, sel darah merah yang melewati pembuluh darah sangat kecil tersebut dapat membawa oksigen mengalir ke seluruh tubuh. Saya pikir itu adalah fisiologi yang sama pada manusia,” tutur Tony.
 
Tony pun menerangkan bahwa hemoglobin adalah komponen kunci dan merupakan protein dalam sel darah merah, yang memberikan warna merah pada darah. Di samping itu, tiap anak babi yang lahir berada dalam kondisi tingkat anemia yang berbeda. Artinya jika ingin mengukur hemoglobin tiap anak babi yang lahir, maka akan terlihat banyaknya garis batas anemia.
 
Beberapa anak babi diketahui tidak anemia, tetapi beberapa dilahirkan dengan anemia. “Itu karena mereka memiliki penyimpanan zat besi yang amat sangat terbatas. Jika melihat lebih dalam berapa banyak zat besi yang dimiliki oleh anak babi, pada penelitian dikatakan 15 miligram (mg),” paparnya.
 
Menurut Tony, jika anak babi lebih banyak zat besi dalam spektrum maka zat besi akan digunakan untuk menghentikan anemia pada hari ketiga. Jika anak babi kekurangan zat besi, umumnya pada hari keenam anak babi akan mengalami anemia, sebab zat besi tidak tercukupi dari susu maupun lingkungan.
 
“Berdasarkan sejarah, babi yang besar di alam liar mereka dapat memakan kotorannya guna dapat mengambil sejumlah kecil zat besi dari lingkungan. Namun saat ini babi berkembang biak di lingkungan kandang, dan babi berkembang lebih cepat dari sebelumnya. Sehingga mereka membutuhkan suplemen tambahan zat besi, supaya babi usia 6 hari tidak mengalami anemia,” jabar Tony.
 
Apa yang akan terjadi jika anemia berkembang ketika zat besi anak babi tidak cukup? Ia pun menjelaskan, anak babi akan terlihat lemah dan rentan karena zat besi adalah bahan yang sangat penting dan dibutuhkan oleh anak babi. Selain itu, zat besi juga sangat penting untuk pertumbuhan dan untuk sistem kekebalan tubuh anak babi. 
 
Adapun tanpa zat besi yang cukup, babi akan kehilangan napsu makan, kulit akan berkerut bahkan pigmen tidak dapat dibentuk, pun kemampuan tumbuhnya akan berkurang. “Kurangnya zat besi pada babi dapat meningkatkan kerentanan terhadap patogen lain, sehingga menyebabkan banyak masalah di peternakan babi sehingga pemberian suplemen zat besi dengan injeksi itu sangat penting,” tandas dia.
 
Tony membeberkan untuk mengetahui babi memiliki masalah anemia dan kokdisiosis yaitu pertama dengan anemia, bisa dilihat mesin yang sangat moderat yang dapat menunjukkan konsentrasi hemoglobin darah dengan satu suntikan. Persentasi anemia sangat-sangat tinggi pada anak babi lepas sapih penyapihan dengan anemia. Sebab uji ini sebagian besar memerlukan waktu yang agak panjang.
 
“Dengan mesin ini akan diambil satu tetes darah dan dengan gelas kecil kita ambil pipet, sedot darahnya dan kita masukkan ke dalam mesin. Hanya dalam waktu 15 detik akan muncul angka seperti di sini 8,4. Ini menandakan bahwa babi ini anemia, setiap angka yang menunjukkan kurang dari 9 maka itu berarti babi ini anemia,” sebutnya.
 
Penyakit yang kerap menyerang babi berikutnya ialah koksidiosis. Tony memaparkan bahwa koksidiosis adalah masalah yang vital di industri babi, terutama pada anak babi pasalnya anak babi rentan terhadap parasit usus ini. Babi akan mengambil oosit dan telur koksidiosis akan masuk ke usus, jumlahnya akan berlipat ganda dan akan tumbuh. 
 
“Di kandang hanya ada satu jenis koksidia yaitu isospora dan isospora ini menjadi masalah sebelum disapih, karena setelah disapih akan berkembang menjadi resisten terhadap isospora koksidia. Sebelum disapih itu akan menimbulkan masalah dan sebagian besar menyebabkan diare. Masalah kedua akan terlihat pada anak babi yaitu diare berwarna kuning krem, itu sering terjadi pada usia di dua pekan sehingga bisa terjadi selama pekan pertama, dan pekan kedua akhirnya diare akan hilang di peternakan,” urai Tony.
 
Anak babi yang dirawat dan yang tidak dirawat berasal dari induk yang sama, terlihat bagaimana koksidia dapat menghambat pertumbuhan dan dapat membahayakan anak babi yang tidak diberi perlakuan/dirawat, sehingga  mempengaruhi bobot sapih. Anak babi yang disapih, terutama di daerah tropis dimana parasit akan lebih menjadi masalah, mungkin koksidia dapat mengganggu budidaya babi. TROBOS/bella

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain