Senin, 1 Agustus 2022

Perlu Kemandirian Bibit Ayam Lokal

Perlu Kemandirian Bibit Ayam Lokal

Foto: 


Pemanfaatan SDG belum optimal di mana produksi daging dan telur masih rendah akibat rendahnya mutu bibit dan sistem pemeliharaan yang kurang baik. Untuk itu perlu pembentukan galur unggul ayam lokal untuk pengembangan secara nasional
 
Pengembangan bibit ayam lokal unggul perlu dilakukan sebagai upaya mengatasi mahalnya DOC (ayam umur sehari) dan meningkatkan produksi, baik petelur maupun pedaging. Apalagi Indonesia merupakan pusat domestikasi ayam dunia setelah India dan China dengan lebih 39 rumpun ayam lokal. 
 
Seperti diutarakan Joko Susilo Sekretaris Jenderal Perkumpulan Insinyur dan Sarjana Peternakan Indonesia (Sekjen ISPI) Indonesia perlu kemandirian bibit karena harga DOC mahal; tindakan permakluman pada DOC ayam lokal yang penampakan ayam lokal tetapi berasal dari indukan ayam petelur komersial. Jika negara masih melakukan permakluman maka akan mematikan usaha pembibitan yang benar-benar memurnikan dan mengawinkan dari sumber ayam lokal asli.
 
“Breeding (pembibitan) ayam lokal bertujuan agar didapatkan ayam pedaging lokal yang memiliki karakteristik penambahan berat badan harian (PBBH) tinggi, warna bulu beragam dan shank warna abu-abu,” ucapnya dalam Seminar Nasional Teknologi dan Agribisnis Peternakan Seri 9 (STAP-IX) yang digelar Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Jateng memperingati hari jadinya yang ke-56. Seminar sendiri mengambil tema “Peluang dan Tantangan Pengembangan Peternakan Berbasis Sumberdaya Lokal untuk Mewujudkan Kedaulatan Pangan”.
 
Joko menuturkan adapun desain breeding unggas sederhana diawali dengan mencari kandidat tetua dari ayam kedu hitam yang PBBH tinggi, memiliki sifat mengeram, warna shank abu-abu/hitam. Kedua, ayam arab yang memiliki produksi telur tinggi dan tidak mengeram. Lalu ayam merawang yang memiliki warna bulu coklat, merah dan kuning keemasan. Dari persilangan ayam tetua tersebut akan didapatkan ayam yang PBBH tinggi, warna bulu beragam dan shank warna abu-abu.
 
Saat ini UPT Pembibitan Ayam Lokal Maron Temanggung, Balai Budidaya dan Pembibitan Ternak Terpadu, Disnakeswan Jateng telah melakukan pengembangan ayam maron. Di antaranya ayam buras super maron (BSM-1) tipe petelur unggul yang dihasilkan dari persilangan ayam arab dengan ayam lignan. Karakteristiknya, bobot badan dewasa betina 1,7-2 kg, jantan 2 – 2,5 kg; umur 18 – 20 minggu (5 bulan) sudah bertelur; bobot telur 46 – 50 gram; produksi telur 220 – 240 butir/ekor/tahun; produksi telur 60 – 65 %; puncak produksi telur 80 -85 % dan bobot DOC 30 – 32 gram.
 
Lalu, ayam buras super maron (BSM-2) tipe pedaging yang merupakan persilangan antara ayam BSM-1 dengan ayam kedu. Karakteristiknya, bobot badan betina dewasa 1,7 – 2 kg, jantan 1,8 – 2,2 kg; umur 20 – 22 minggu sudah bertelur;  produksi telur 180 – 200 butir/ekor/tahun; produksi telur 50 %; puncak produksi telur 65 % dan bobot DOC 30 – 32 gram dan bobot panen 0,9 – 1,3 kg umur 70 – 90 hari. 
 
Selanjutnya dia menerangkan, terdapat empat persoalan yang menjadi tantangan pengembangan bibit ayam lokal. Di antaranya, variasi genetik di dalam pure line ayam lokal sangat beragam; tampilan (fenotipe) bermacam-macam; penerimaan (preferensi) pasar yang bermacam-macam dan suplai bibit (DOC) tidak kontinu dalam arti kualitas dan kuantitas.
 
Untuk itu dibutuhkan strategi pengembangan yang perlu dijalankan. Yakni seleksi pure line mengarah ke tipe pedaging dan petelur. Informasi pasar (database) untuk penegasan tujuan breeding. Pembentukan galur parent stock yang lebih stabil pada unit-unit di dinas atau daerah asal. Budaya yang tersandarisasi dan regulasi yang mendukung.
 
Ditambahkannya, terdapat tiga garis besar strategi pengembangan bibit ayam lokal, yakni seleksi, multiplikasi dan industri. Seleksi sesuai tujuan, ketersediaan pure line, berdasarkan kebutuhan pakar dan teknologi yang tersedia. Pada multiplikasi melalui breed terpilih, Village Breeding Center (VBC), industri bibit dan satuan kerja dinas. Dan perlu industri sapronak, dukungan regulasi, ekosistem usaha, ekosistem finansial dan berorientasi pada pasar.
 
Selengkapnya baca di Majalah TROBOS Livestock Edisi 275/Agustus 2022
 
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain