Senin, 1 Agustus 2022

Bisnis Produk Itik Berstandar Ekspor

Bisnis Produk Itik Berstandar Ekspor

Foto: Dok. TROBOS Yopi Safari


Perlu menetapkan standar kualitas produk unggas lokal baik daging maupun telur agar bisa semakin berdaya saing baik untuk pasar domestik maupun mancanegara
 
Usaha budidaya itik lokal di Indonesia sudah mulai berkembang. Namun, jumlah produksi yang dihasilkan belum diimbangi dengan kualitasnya, sehingga hanya bisa dipasarkan di dalam negeri yang pada gilirannya harga jualnya menjadi rendah. 
 
Selain itu, permintaan produksi daging dan telur itik yang tinggi belum diikuti oleh ketersediaan bibit yang berkualitas. “Untuk itu, kami melakukan penelitian-penelitian untuk membentuk galur itik unggul,” terang Kepala Balitnak (Balai Penelitian Ternak) Kementerian Pertanian, Andi Baso Lompengeng Ishak dalam lokakarya nasional bertema “Bisnis unggas lokal dengan produk yang berdaya saing ekspor” yang digelar Perkumpulan MIPI (Masyarakat Ilmu Perunggasan Indonesia) pada (6/7). 
 
Pada lokakarya nasional berkerja sama dengan Puslitbangnak (Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan) Kementerian Pertanian RI, serta Fapet Unhas (Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin) yang berlangsung secara luring dan daring di sela pameran Indolivestock ini juga menghadirkan para pembicara Syamsul Ma’Arif, Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Kementerian Pertanian RI dan Rully Lesmana, Pemilik UD Surya Abadi. Bertindak sebagai moderator pada acara yang disponsori oleh PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk, EW Nutrition, GPMT (Gabungan Perusahaan Makanan Ternak), dan Puslitbangnak ini yaitu L Hardi Prasetyo, Chairman World Waterfowl Conference/WWC Indonesia 2023. 
 
Andi melanjutkan, Balitnak telah merilis galur itik petelur dan rumpun pedaging baru dengan tingkat produksi yang lebih baik dibandingkan itik lokal yang ada di Indonesia saat ini. Namun pada ternak itik, SNI (Standar Nasional Indonesia) yang ada saat ini hanya DOD (itik umur sehari) Alabio dan DOD Mojosari. “Perlu standardisasi pada bibit itik lokal agar diperoleh kualitas produk yang optimal terutama kualitas karkasnya,” sarannya.
 
Hardi menambahkan dalam pembibitan itik perlu pembentukan strain komersial dengan spesifikasi yang jelas, dan dengan program pembibitan yang yang terstruktur. Juga perlu penetapan rumpun/pelepasan galur (pemerintah atau perusahaan pembibitan swasta) serta penerapan sertifikasi Produk Bibit Ternak (LS-Pro) dan SNI. 
 
Ia menambahkan, upaya itu perlu dilakukan karena, kualitas bibit masih sangat beragam, khususnya dari pembibit skala kecil serta mayoritas peternak budidaya itik potong masih belum tertata dengan baik dan masih asal-asalan (biaya produksi serendah mungkin). Di sisi lain teknologi pembibitan dan budidaya sudah tersedia untuk induk maupun itik potong.
 
Keamanan Pangan
Keamanan pangan merupakan hak konsumen dan telah menjadi isu prioritas dalam konteks perdagangan global. Sistem keamanan pangan harus didasarkan pada penilaian risiko yang terintegrasi mulai dari peternakan sampai dengan meja makan. “Sistem harus mendorong penetapan manajemen risiko yang tepat dalam bentuk peraturan yang jelas, yang berasal dari pendekatan konsultatif dan terpadu yang dapat diterapkan secara nasional dan diakui secara internasional,” urai Syamsul Ma’Arif. 
 
Ia melanjutkan, dalam menjaminan keamanan pangan asal hewan internasional atau untuk ekspor dilakukan penilaian dokumen, sertifikasi kesehatan hewan, kesehatan produk hewan, sistem jaminan keamanan pangan dan kehalalan dari pelaku usaha yang akan melakukan ekspor. Juga penilaian sertifikasi nomor kontrol veteriner oleh pejabat otoritas veteriner provinsi serta verifikasi dan harmonisasi pemenuhan persyaratan teknis negara tujuan oleh pejabat otoritas veteriner pusat. Selanjutnya dilakukan penilaian sertifikat kesehatan veteriner oleh Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner serta tindakan karantina pelepasan di pelabuhan sebelum menuju negara tujuan. “Pembinaan teknis, registrasi, sertifikasi, pengawasan, monitoring, serta surveilans residu dan cemaran mikroba merupakan kewenangan kami,” tegas Syamsul.
 
Salah satu pelaku usaha di komoditas itik yang telah berhasil menembus pasar ekspor adalah UD. Surya Abadi. Perusahaan yang telah berdiri sejak 2001 ini memang fokus pada usaha pengolah telur asin dengan produk telur asin mentah dan matang. Bahkan perusahaan dengan nama dagang Abadi Wijaya dan Super A ini telah mengantongi sertifikat NKV (Nomor Kontrol Veteriner) dan LP POM MUI (Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia). 
 
Menurut Rully Lesmana, kapasitas produksi perusahaannya mencapai 50.000 butir telur per hari dengan area pemasaran mencakup seluruh Indonesia, Singapura, Hongkong , Jepang, Malaysia, Amerika Serikat, Australia, Uni Emirat Arab, dan Brunei Darussalam. “Target produk kami tidak hanya untuk horeka (hotel, restoran, katering) tetapi juga menyasar pasar tradisional,” ungkapnya. 
 
Ia mengenang, sebelum melakukan standardisasi produksi, perusahaannya mengalami kegagalan sampai 30 %. Namun sesudah penerapan standardisasi produksi dan NKV terbangun Rencana Kerja Jaminan Mutu (RKJM). Juga Sistem Jaminan Keamanan Pangan – Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP). “Kami melakukan identifikasi dan evaluasi keamanan pangan; penentuan critical control points (CCPS); standar nilai keamanan pangan secara biologis, kimia dan fisik; sistem monitoring produksi; penerapan langkah perbaikan; penerapan prosedur verifikasi; serta sistem pencatatan/dokumentasi yang baik,” papar Rully.
 
Selengkapnya baca di Majalah TROBOS Livestock Edisi 275/Agustus 2022
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain