Senin, 1 Agustus 2022

Achmad Dawami (Masih) Nakhoda GPPU

Achmad Dawami (Masih) Nakhoda GPPU

Foto: Dok. TROBOS Yopi Safari


GPPU sebagai pelopor perubahan dalam mewujudkan program pemerintah untuk meningkatkan konsumsi protein hewani (khususnya unggas) serta mengembangkan bisnis perunggasan terpadu yang berorientasi pada kemandirian dalam perspektif globalisasi
 
Achmad Dawami terpilih sebagai Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (BPP GPPU) Indonesia periode 2022 – 2026 dalam Kongres XIII GPPU 2022 yang digelar di Tangerang Banten, pada Selasa (26/7). Dawami pun melanjutkan tampuk kepemimpinannya di GPPU setelah menyelesaikan jabatan yang sama pada periode sebelumnya.
 
Dalam kongres kali ini yang berlangsung selama dua hari (25-26/7) ada yang berubah dalam struktur organisasi GPPU. Susunan kepengurusan saat ini menjadi terdiri atas 1 Ketua Umum; 5 Ketua; 1 Sekretaris Jenderal; 1 Wakil Sekretaris Jenderal; dan 1 Bendahara. Di tempat yang sama, Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Agung Suganda mengesahkan dan melantik BPP GPPU Indonesia periode 2022 – 2026 pada Rabu (27/7). Usai pelantikan dilakukan seminar yang bertema “Konsolidasi dan Kolaborasi Menghadapi Tantangan Era Disrupsi” dengan menghadirkan pembicara Prof Rhenald Kasali.
 
Peran Aktif GPPU
Dawami mengatakan saat ini sedang menghadapi new era, jadi ini merupakan tantangan yang luar biasa dimana semua pihak memerlukan konsolidasi dan kolaborasi untuk menghadapi tantangan era disrupsi. “Perubahannya memang macam-macam, apalagi sejak pandemi, perubahan dipercepat meski sebenarnya sudah kita perkirakan,” jelasnya. 
 
Sambungnya, era disrupsi adalah era di mana terjadinya perubahan masif yang mengubah sistem dan tatanan bisnis yang lebih baru. “Disrupsi sendiri utamanya disebabkan oleh adanya inovasi-inovasi dan kreativitas baru,” ujar Dawami.
 
Ia menuturkan GPPU merupakan organisasi pembibitan unggas dan sebagai pelopor perubahan dalam mewujudkan program pemerintah untuk meningkatkan konsumsi hewani (khususnya unggas) serta mengembangkan bisnis perunggasan terpadu yang berorientasi pada kemandirian dalam perspektif globalisasi.
 
Hasilnya, dalam seluruh kegiatannya GPPU diharapkan dapat berperan aktif dalam memberikan pandangan serta masukan kepada seluruh stakeholder terutama pemerintah agar bersama-sama dapat mengambil langkah & solusi yang efektif guna kemajuan bisnis perunggasan nasional.
 
Dawami kemukakan GPPU dapat menjadi wadah diskusi maupun sosialiasi berbagai regulasi guna mengatur dan memajukan perunggasan nasional. “Mulai dari diskusi regulasi terkait pangan ASUH, regulasi terkait industri perunggasan, dan regulasi terkait populasi ayam ras. Selain itu, GPPU siap menjadi partner dalam berbagai kegiatan di industri perunggasan dan siap untuk bersama-sama secara aktif mengembangkan perunggasan dengan produk-produk yang berkualitas," jabarnya.
 
Sementara Rhenald mengatakan, disrupsi merupakan inovasi yang bisa mengubah dunia. Disrupsi telah menciptakan teknologi yang landasannya berbeda sama sekali. "Era industri 4.0 saat ini juga telah mengubah banyak kehidupan," ujarnya. Ia melanjutkan, disrupsi telah melahirkan pasar dan pelaku-pelaku usaha baru. Juga disrupsi melahirkan cara-cara baru yaitu orkestrasi sumber daya (bukan menguasai/owned); teknologi digital; ekosistem; dan exponential growth vs linear.
 
Menurut Rhenald, pasca pandemi Covid-19 telah mengubah kesadaran-kesadaran baru terhadap masa depan pangan dan global supply chain. Juga rekonfigurasi geopolitik (Arab Nato, Indopasific, Euro Nato vs Rusia-China-Iran) serta diskresi pangan-energi (Turki-Jerman). "Selain itu, terjadi ledakan-ledakan ekonomi cara baru (kreativitas, konten, non degree, ekonomi luar ruang), gig economy, dan global escape," terangnya.
 
Selengkapnya baca di Majalah TROBOS Livestock Edisi 275/Agustus 2022
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain