Senin, 1 Agustus 2022

Gizi Baik untuk Masa Depan Anak Bangsa

Gizi Baik untuk Masa Depan Anak Bangsa

Foto: Istimewa


Keluarga menjadi ujung tombak guna memastikan seluruh anggotanya mendapatkan asupan makanan dengan gizi seimbang
 
Menilik data SSGI (Studi Status Gizi Indonesia), angka prevalensi stunting di Indonesia pada 2021 mencapai 24,4 %. Angka ini cenderung turun sebanyak 6,4 % dibandingkan dengan 2018 lalu yang mencapai hingga 30,8 %. Namun demikian, angka prevalensi tersebut masih melebihi angka standar yang ditoleransi oleh WHO (World Health Organization) yaitu di bawah 20 %. Presiden RI, Joko Widodo pun menegaskan, target angka prevalensi stunting pada 2024 harus tercapai di bawah 14 %. 
 
Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi di bawah lima tahun) akibat kurangnya asupan gizi yang diberikan. Adapun pemberian makanan bayi dan anak, terutama di 1.000 hari pertama kehidupannya sangatlah vital yang akan sangat berpengaruh dengan kualitas hidupnya saat dewasa.
 
Ahli Gizi sekaligus Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia (FKM UI), Prof Sandra Fikawati menjelaskan pentingnya anak mengonsumsi protein hewani sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting. “Isu stunting tidak hanya menjadi tugas pemerintah semata. Keberadaan sektor swasta diharapkan dapat turut aktif mempromosikan konsumsi gizi seimbang melalui peningkatan konsumsi protein hewani, demi mencegah terjadinya stunting,” ungkapnya.
 
Peran Vital Protein Hewani
Portein merupakan salah satu zat gizi makro selain karbohidrat dan lemak. Apabila karbohidrat dan lemak berperan sebagai sumber energi, maka protein berperan sebagai zat pembangun tubuh. “Tidak ada zat gizi lain yang dapat mensubstitusi peran protein dalam membantu pertumbuhan serta proses regenerasi sel tubuh manusia,” tandas Sandra.
 
“Banyak masyarakat yang tidak memahami bahwa pemilihan jenis protein dalam konsumsi harian sangat penting. Tubuh manusia membutuhkan sebanyak 20 jenis asam amino dan 9 diantaranya ialah asam amino esensial yang lebih lengkap dan ini lebih banyak ditemui pada protein hewani. Jika kekurangan protein hewani dapat menyebabkan permasalahan gizi yang serius, salah satunya stunting,” urai dia. 
 
Berdasarkan data FAO (Food and Agriculture Organization) pada 2017, total konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia tergolong sangat rendah, yaitu hanya 8 %. Sandra pun membandingkan angka tersebut dengan negara Asia lainnya, seperti Malaysia dan bahkan Thailand, dimana tingkat konsumsi protein hewaninya masing-masing adalah 30 % dan 24 %. Celah (gap) angka tersebut sangatlah signifikan.
 
Penelitian teranyar lainnya, Sandra melanjutkan, menunjukkan bahwa jumlah konsumsi protein hewani di Indonesia mulai meningkat. “Berselang 5 tahun, tingkat konsumsi protein hewani di Indonesia mencapai 30 %. Namun jumlah tersebut lagi-lagi masih jauh jika dibandingkan dengan tingkat konsumsi protein hewani di Malaysia yang menyentuh angka 50 %,” sesalnya.
 
Ia mengingatkan bahwa konsumsi protein hewani kini tengah menjadi atensi di Indonesia. Bahkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) belum lama ini telah menggaungkan kampanye guna meningkatkan konsumsi protein hewani dalam rangka mencegah stunting pada anak. “Media turut menjadi ujung tombak dalam menyebarluaskan pesan ini, sehingga informasi penting tersebut dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat,” katanya.
 
Fenomena Kenaikan Stunting Balita
Dari data global yang diambil dari Unicef/WHO/World Bank Joint Child Malnutrition Estimates Expanded Database terkait Survei Estimasi Stunting 2021 menunjukkan bahwa angka stunting meningkat dari usia 6-11 bulan ke 12-23 bulan. Data ini sama dengan data di Indonesia yang didapat dari SSGI 2019 yang menunjukkan pada usia 6-11 bulan ini terjadi kenaikan stunting pada balita.
 
Menurut Nutrition Specialist Unicef Indonesia, Sri Sukotjo, pada usai pemberian ASI (air susu ibu) eksklusif, umumnya anak diperkenalkan dengan makanan pendamping ASI atau MPASI. Pada fase ini mulai sering terjadi pertumbuhan yang terhambat, karena pemberian makanan bayi dan anak yang tidak optimal. Kendati demikian, tiap individu memiiliki kontribusi untuk mencegah stunting. 
 
 
Selengkapnya baca di Majalah TROBOS Livestock Edisi 275/Agustus 2022
 
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain