Senin, 1 Agustus 2022

M Tevi Melviana: Menguatkan Spesialisasi dan Partnersip

M Tevi Melviana: Menguatkan Spesialisasi dan Partnersip

Foto: 


Banyak pelaku usaha yang melihat bisnis di industri perunggasan khususnya di broiler (ayam pedaging) hanya sepenggal-sepenggal. Sebagai contoh, yang dilihat hanya harga live bird (ayam hidup/LB), harga DOC (ayam umur sehari), demand (permintaan) dan supply (pasokan). Padahal itu hanya bagian kecil dari sebuah kontruksi dalam bisnis di industri perunggasan nasional. Dan seharusnya, jika ingin melihat industri perunggasan ke depan harus secara komperehensif.
 
Jika dikategorikan, dalam 20 tahun terakhir industri perunggasan tanah air dibagi dalam 3 fase yaitu poultry farming, poultry business, dan poultry industry. Fase poultry farming berlangsung sebelum 2000. Cirinya adalah masih banyak peternak ayam yang menggunakan kandang terbuka (open house), peralatannya pun masih sistem manual, berpola pikir masih menjual ayam dalam bentuk hidup (LB), menjual ayamnya ke pasar becek, masih market driven (tergantung pasar) serta harga ayam masih sangat tergantung broker. 
 
Selain itu, peternak masih ada yang belum fokus dalam kegiatan beternaknya, pagi memberi makan ayam lalu siangnya melakukan pekerjaan lain baru sore hari kembali ke kandang. Proses kegiatan beternak seperti itu dilakukan setiap hari sampai ayam panen. 
 
Pada rentang 2000 – 2015 memasuki fase poultry business. Periode ini mempunyai ciri, sudah banyak peternak yang beralih dari kandang terbuka ke kandang tertutup (closed house). Sapronak (sarana produksi ternak) pun sudah banyak yang menggunakan full automatic. Sudah ada target efisiensi untuk karkas dalam bentuk frozen chicken (ayam beku). Ayam dipasarkan ke dry/clean market dan meat shop serta horeka (hotel, restoran/kafe, katering) atau food industry. Tidak kalah penting, pelaku usaha sudah menentukan biaya produksi karkas per kilogramnya.
 
Sedangkan sejak 2016 sampai saat ini adalah fase poultry industry. Periode ini merupakan pengembangan dari poultry business. Dicirikan dengan pelaku bisnis sudah terspesialisasi (specialize) atau ada core bisnis, partnership (bermitra) dengan pelaku usaha lain serta berkembangnya marketing digital.
 
Integrasi dengan Beberapa Pihak
Untuk berinvestasi di fase poultry industry ini, para pelaku tidak perlu membangun usaha dari nol tetapi justru cukup menguatkan spesialisasi bisnisnya dan mengembangkan kemitraan. Karena jika harus membangun usaha dari hulu sampai hilir waktu yang dibutuhkan akan terlalu lama, mungkin tidak cukup 5 sampai 10 tahun. 
 
Kalau hanya bekerja sendiri-sendiri kemungkinan perkembangannya akan lambat sehingga pelaku usaha akan lebih baik berpartner dengan berbagai pihak seperti dengan peternak yang sudah terbukti mampu memelihara dengan baik dan performa ayam di kandang optimal. Lalu berpartner dengan pelaku usaha yang mempunyai RPA (rumah potong unggas) dan pelaku usaha yang mempunyai capital (modal). 
 
Melalui penggabungan berbagai kemampuan dan spesialisasi ini tidak membutuhkan waktu lama untuk membangun bisnis terintegrasi. Artinya, jika seorang pelaku usaha mempunyai keahlian di on farm jangan coba-coba berbisnis misalnya di makanan siap saji karena bukan keahliannya, malah justru bisnis yang dikembangkannya tidak akan maksimal.
 
Dengan mengembangkan model bisnis seperti ini akan terjadi efisiensi dan meningkatkan daya saing sehingga produk yang dihasilkan bisa berkompetisi baik di tingkat regional dan global. Selain itu, akan terjadi kepastian bisnis yang baik karena ayam dari partner peternak performanya akan baik dan partner pelaku usaha RPA juga mendapat kepastian pasokan ayam yang akan dipotong.
 
Walaupun dalam model bisnis ini tidak dalam satu nama pemilik namun melibatkan beberapa stakeholder tetapi usaha terintegrasi sudah masuk ke dalam konstruksi bisnis tersebut. Dan di ujungnya, model bisnis ini harus diperkuat oleh marketing digital agar pangsa pasar dapat lebih luas dan maksimal. 
Di era globalisasi ini mempunyai networking yang luas menjadi tututan dalam bisnis. Apalagi jika target produk yang dihasilkan tidak hanya dipasarkan di dalam negeri namun akan menjangkau pangsa pasar negara lain. 
 
Model ini sama halnya dengan pola integrasi dari hulu sampai hilir seperti yang dilakukan beberapa perusahaan saat ini. Bedanya, model ini melibatkan beberapa stakeholder. Model bisnis yang terspesialisasi dan melibatkan banyak pihak ini bisa menjadi solusi atas kondisi harga ayam rendah dan harga pakan tinggi yang kerap terjadi.
 
Gagasan ini muncul karena saat ini sebagian besar pelaku usaha di industri perunggasan menjalankan bisnisnya lebih ke parsial. Pelaku usaha pembibitan (breeding farm) bergerak sendiri, pabrik pakan dan peternak pun sama. 
 
Ada perbedaan yang signifikan kepentingan dalam usaha ayam antara peternak mandiri dengan integrator. Peternak mandiri prinsipnya, berapa pun biaya produksi yang dikeluarkan selama masih di bawah harga jual produk dalam hal ini ayam hidup maka tidak masalah. Artinya ada margin keuntungan.
 
Peternak jika hanya memikirkan harga ayam hidup dan pasrah dengan harganya yang penting ada margin, hal itu merupakan pola pikir yang kurang tepat. Jika harga ayam hidup tinggi maka biaya produksi pun tinggi yang membuat mudah intervensi dari pihak luar. Tentunya, kondisi itu akan menjadi bencana bagi semua pihak. 
Apalagi jika ada isu bahwa produk ayam dari negara lain akan masuk Indonesia padahal kalau dalam bentuk karkas utuh belum tentu bisa masuk ke pasar dalam negeri. Mungkin berbeda, kalau yang masuk dalam bentuk CLQ (Chicken Leg Quarter) yang harganya lebih rendah. 
 
Sedangkan prinsip integrator, biaya produksi ayam hidup harus serendah mungkin (efisien). Bagi integrator tujuan akhirnya adalah makanan dimana bisa langsung dinikmati konsumen. Menekan biaya produksi karkas misalnya bertujuan agar bisa bersaing dengan produk karkas dari luar negeri sehingga usaha peternakan tetap berlangsung. Dalam poultry business, biaya produksi karkas harus dapat dihitung supaya efisien. Perbedaan pola pikir ini yang harus disikapi pemerintah agar berbuah kebaikan untuk keberlangsungan usaha perunggasan di Indonesia dengan win – win solution.
 
Disamping itu, salah satu kelemahan industri perunggasan nasional yang masih tergantung impor seperti induk ayam dan bahan pakan semestinya mulai dikurangi. Seperti untuk produksi indukan ayam ras yang saat ini sudah ada dari lokal dan sudah mendapatkan legalitas dari pemerintah. 
 
Hanya memang untuk pasokan bahan pakan masih sulit, terutama sumber protein meskipun beberapa bahan baku pakan sudah berkurang impornya. Apalagi untuk jagung sudah bisa swasembada. 
 
Hal yang paling utama dalam memulai menjalin model kerjasama antar pihak ini, harus ada proses perkenalan terlebih dahulu. Juga harus melihat rekam jejak para pelaku usaha yang akan diajak kerjasama. 
 
Jika hanya bekerja sendiri-sendiri dan tidak berkolaborasi maka akan menjadi masalah. Perlu ada edukasi yang berkelanjutan untuk menjelaskan prospek bisnis dan kebutuhan industri perunggasan seperti apa ke depan agar usaha yang dijalankan bisa berdaya saing.
 
Prospek Pasar Dalam Negeri
Bisnis di industri perunggasan nasional masih cerah dan prospektif ke depan selama masyarakat masih makan produk ayam. Semua pelaku usaha dari luar negeri pun mengakui pasar Indonesia cukup besar jika dilihat dari jumlah penduduk yang cukup banyak dan tingkat konsumsi ayam yang masih rendah. Selain itu, ayam mudah diolah menjadi beragam jenis makanan oleh masyarakat.  
 
Sektor hilir boleh dibilang paling sedikit terdampak risiko rugi dan sangat berbeda dengan sektor hulu (upstream). Dalam bisnis di sektor hulu membutuhkan lahan yang luas, modal yang besar, perizinan, serta waktu yang lama dan risiko yang tinggi.
 
Namun jika berbisnis di sektor hilir, selain menanggung risiko yang kecil juga tidak butuh waktu yang lama untuk memulainya. Bisnis ini pun yang paling diincar investor asing. Maka menjalankan usaha berbasis unggas di sektor hilir (downstream) seperti dimulai dengan RPHU (Rumah Pemotongan Hewan Unggas), further food processing, kemudian restoran merupakan bisnis yang menggiurkan di Indonesia mengingat populasi penduduknya sekitar 270 juta jiwa yang perlu diberi makan. 
 
Akan lebih baik lagi, jika investor asing yang akan berinvestasi di Indonesia mempunyai afiliasi di negaranya untuk memasarkan produk yang dihasilkan. Kemudian tinggal menyelaraskan permintaan di negaranya dengan produk yang akan dibuat di Indonesia. Misalnya, negara di Asia Barat lebih menyukai rasa rempah yang kuat seperti kari atau negara ASEAN yang suka pedas (spicy) sehingga sangat mudah dibuat karena semua bahan tersedia di Indonesia. 
 
Keberadaan restoran cepat saji yang sudah popular di Indonesia dengan beragam makanan berbasis ayam yang sudah terbukti paling terdepan saat ini membuat pasar Indonesia yang menjanjikan menjadi daya tarik tersendiri bagi investor asing. Buktinya, kemungkinan besar akan ada investor yang masuk ke Indonesia dan menggandeng perusahaan asing yang sudah lebih dulu eksis di bisnis perunggasan.
 
Disamping itu, ada perusahaan perunggasan negeri jiran yang sudah masuk berinvestasi selain yang sudah IPO di Indonesia. Juga ada dua perusahaan besar Filipina yang sudah berinvestasi di Indonesia. Mereka bahkan memulai bisnis dari sektor hulu (upstream) karena berhasil mengakuisisi perusahaan asing lainnya sedangkan yang satunya lagi memulai dari nol. 
 
Perusahaan asing saja tertarik investasi di Indonesia karena pasar yang sangat luar biasa potensial. Untuk itu, paling tidak perusahaan dalam negeri bisa menjadi partner mereka. Untuk jenis  produk yang dihasilkan dan pemasarannya diserahkan saja kepada mereka, karena memang spesialis di bidang itu. TROBOS
 
 
 
Praktisi Perunggasan
 
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain