Senin, 1 Agustus 2022

Menangkap Peluang Ekspor Produk Unggas

Menangkap Peluang Ekspor Produk Unggas

Foto: Istimewa


Sebagai strategi untuk mengelola kelebihan pasokan dengan baik sekaligus menjaga ketahanan industri perunggasan tanah air
 
Pemerintah Malaysia yang menyetop ekspor ayam ke Singapura per 1 Juni 2022 untuk mengamankan pasokan di dalam negerinya menjadi kesempatan yang sangat baik bagi Indonesia untuk mengambil peluang tersebut. Apalagi di tanah air kerap terjadi gejolak harga ayam hidup (live bird) broiler (ayam pedaging) yang anjlok di bawah HPP (Harga Pokok Produksi) akibat kelebihan pasokan (over supply). 
 
Menurut Analis Perdagangan Ahli Madya Kementerian Perdagangan RI, Ni Made Kusuma Dewi, kondisi over supply sudah terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Sebelum terjadinya Pandemi Covid-19 surplus terjadi sekitar 15 % per tahun. “Pandemi Covid-19 mengakibatkan terjadinya penurunan konsumsi masyarakat yang berdampak pada meningkatnya surplus produksi ayam menjadi 48 % pada 2020 dan 36 % pada 2021 seiring dengan membaiknya kondisi Pandemi Covid-19,” ungkapnya dalam Indonesian Poultry Business Forum (IPBF) yang digagas oleh Komite Tetap Peternakan Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Indonesia dengan tema “Mitigasi, Penguatan dan Pemerataan Industri Perunggasan Nasional : Harga Pakan Menggila, dan Masih Perlukah SE Cutting?!” secara daring beberapa waktu lalu.
 
Ia menambahkan, over supply yang terjadi membuat peternak diharuskan segera menjual broiler produksinya. Apabila tidak segera dilakukan penjualan broiler berpotensi semakin membesar yang berdampak kepada penambahan biaya pakan, juga penurunan harga jual per kilogramnya.
 
Koordinator Unggas dan Aneka Ternak, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Iqbal Alim berpendapat, harga live bird dan telur ayam ras fluktuatif dan cenderung berada di bawah HPP akibat rendahnya posisi tawar peternak rakyat dalam penetapan harga walaupun memiliki kontribusi produksi lebih dari 50 % untuk broiler dan layer (ayam petelur) mencapai 98 % dari produksi nasional. Juga akibat supply lebih banyak di bulan-bulan tertentu karena menurunnya kebutuhan dan rendahnya permintaan.
 
Selain itu, meningkatnya biaya produksi kerena kenaikan harga pakan dan belum adanya mekanisme yang dapat memotong rantai pasokan dari daerah-daerah sentra di Pulau Jawa langsung ke daerah-daerah konsumen. “Yang menjadi tantangan para pelaku di perunggasan saat ini adalah tuntutan peningkatan performa dan diversifikasi produksi untuk mencapai efisiensi produksi sesuai standar pasar dengan harga terjangkau. Juga integrasi vertikal oleh perusahaan perunggasan semakin berkembang namun tidak diimbangi oleh pengembangan hilirisasi dan peningkatan ekspor. Singapura yang saat ini membutuhkan pasokan ayam produknya menjadi peluang Indonesia untuk bisa melakukan ekspor ke negara tersebut,” papar Iqbal.
 
Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Musdhalifah Machmud mengakui salah satu tantangan dalam industri perunggasan nasional yaitu harga on farm live bird dan telur ayam ras yang sering berada di bawah harga acuan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 7 Tahun 2020 tentang Harga Acuan Pembelian di Tingkat Petani dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen. “Produksi daging ayam ras pada 2022 diperkirakan mencapai 3,88 juta ton sementara total kebutuhan mencapai 3,19 juta ton, maka diperkirakan terjadi surplus produksi sebesar 689 ribu ton. Sementara untuk komoditas telur ayam ras, produksi pada 2022 diperkirakan mencapai 5,92 juta ton sementara total kebutuhan mencapai 5,31 juta ton maka diperkirakan terjadi surplus sebesar 615 ribu ton,” paparnya.
 
Musdhalifah menyatakan, perlu mendorong peningkatan ekspor komoditas produk perunggasan sebagai solusi dalam mengatasi over supply. Indonesia memiliki peluang untuk dapat melakukan ekspor ke Singapura pasca Malaysia menghentikan sementara pasokan live bird ke Singapura karena penataan perunggasan dalam negerinya. Adapun beberapa peluang Indonesia diantaranya yaitu ketentuan untuk ekspor ayam hidup adalah barang bebas kecuali anak ayam (bibit); Indonesia belum pernah ekspor ayam hidup ke Singapura; serta masih menunggu proses persetujuan Phytosanitary di Singapura.
 
Asisten Deputi Pengembangan Agribisnis Peternakan dan Perikanan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Pujo Setio menambahkan ekspor ke Singapura menjadi peluang yang harus ditangkap dengan baik oleh pelaku usaha perunggasan. “Pelaku usaha harus menyiapkan produk yang berkualitas dan jaminan pasokan yang berkesinambungan,” pintanya. 
 
Ia mengatakan, sebanyak 34 % pasokan ayam Singapura berasal dari Johor Malaysia. Meskipun begitu, sebelum AI (avian influenza/flu burung) merebak, Indonesia pernah melakukan ekspor produk perunggasan, ke Singapura. “Pemerintah bisa membantu secara G2G dan B2B akan kita rangsang untuk bisa melakukan ekspor,” tegas Pujo. 
 
Wakil Ketua Komite Tetap Peternakan Kadin Indonesia, R Wisman Djaja berpendapat, Indonesia harus mempergunakan peluang ekspor ke Singapura dengan mempersiapkan diri dan membuat keputusan yang lebih cepat untuk bisa masuk ke pasar yang baru. “Gunakan lah kesempatan ekspor itu ketika ada ekses kelebihan kapasitas. Apalagi kita punya keunggulan kompetitif karena dekat sekali ke Singapura. Tetapi G2G harus segera dibereskan dan rantai pasok oleh pelaku bisnis perunggasan harus dipersiapkan kalau masuk pasar yang baru. Kuasai dan kembangkan pasarnya agar memberikan margin,” urainya.
 
Sedangkan Ketua Komite Tetap Peternakan Kadin Indonesia Tri Hardiyanto menyatakan, produk perunggasan Indonesia harus bisa masuk ke pasar paling tidak ASEAN sebagai upaya mengelola kelebihan pasokan. “Kalau kita bisa mengelola kelebihan pasokan dengan baik akan menjadi ketahanan untuk Indonesia sehingga punya strategi yang lebih baik ke depan untuk industri perunggasan kita,” tegasnya.
 
Ia berharap, seluruh stakeholder perunggasan bisa bersinergi agar ke depan bisa menang bersama-sama. Pelaku usaha skala kecil bisa menjadi besar dan pelaku usaha skala besar semakin besar. “Kita berharap ke depan, Indonesia punya kemampuan ekspor berbagai produk perunggasan dengan catatan kita harus harus surplus jagung dan bahan baku pakan lainnya sepanjang tahun,” pesan Tri.
 
Disetujui 3 Eksportir
Pada 30 Juni 2022 beredar surat dari Pemerintah Singapura melalui Risk Management & Surveillance Department Joint, Operations Division, Singapure Food Agency (SFA) yang menyatakan bahwa Indonesia telah disetujui untuk mengekspor daging ayam dan produk daging ayam untuk Singapura. Perusahaan yang ingin mengekspor produk ini ke Singapura harus disetujui secara individual oleh SFA. 
 
Dalam lampiran surat itu terdapat 3 perusahaan di Indonesia yang telah disetujui untuk ekspor daging ayam dan produk daging ayam ke Singapura. Adapun perusahaan tersebut yaitu RPHU (Rumah Potong Hewan Unggas) 3604120-001 milik PT Charoen Pokphand Indonesia – Food Division dan UPD (Usaha Pengolahan Daging) 3604120006 milik PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (PT CPI) yang berlokasi di kawasan Cikande, Serang, Banten; serta RPHU 332711-284 milik PT Ciomas Adisatwa yang berlokasi di Pemalang Jawa Tengah. 
 
Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner (Dirkesmavet) Kementerian Pertanian RI Syamsul Ma’Arif mengungkapkan, dari 11 perusahaan yang ingin mengekspor daging ayam dan produk daging ayam ke Singapura hanya 2 perusahaan yang memenuhi syarat pemerintah Singapura. “Mereka punya NKV (Nomor Kontrol Veteriner) level 1 sementara NKV perusahaan yang lain rata-rata di level 2 dan 3,” ungkapnya. 
 
Ia melanjutkan, di luar negeri NKV itu sama. Namun NKV di Indonesia ada level-levelnya karena disesuaikan dengan keadaan sosial budaya peternak di tanah air. “Perusahaan yang memiliki NKV level 1 menunjukkan kesalahan unit usahanya kecil sekali,” ucapnya. 
 
Syamsul mengatakan NKV diberlakukan pemerintah sejak 1996. Di eranya, dari 96 unit usaha yang membuat NKV kini sudah meningkat menjadi sekitar 4.300 unit usaha. “Pemerintah tidak pernah memaksa tetapi hanya meminta kesadaran dari unit usaha untuk mengurus sertifikasi NKV. Jangan sampai ketika ada kesempatan untuk ekspor membuat sulit perusahaan itu sendiri,” sarannya. 
 
Mulai Direalisasikan
Setelah terbitnya surat dari SFA, salah satu perusahaan terintegrasi di Indonesia, PT CPI mulai melakukan ekspor perdana produk unggasnya ke Singapura pada (13/7). Ekspor berupa ayam beku dan ayam olahan sebanyak 50 ton dengan nilai Rp 2 miliar. 
 
PT CPI telah menandatangani kesepakatan kerjasama dengan pihak importir Singapura sebanyak 1.000 ton yang akan dikirim bertahap hingga akhir 2022 dan akan terus bertambah menyesuaikan dengan kondisi di Singapura. Bersamaan dengan pelepasan ekspor ke Singapura ini, PT CPI juga melepas produk olahan unggas ke Jepang dan karkas ayam ke Timor Leste dengan masing-masing volume sebanyak 12 ton atau setara Rp 1 miliar.
 
Presiden Komisaris PT CPI, Hadi Gunawan menyampaikan, perusahaannya telah berhasil membuka jalur pasar ekspor untuk produk olahan unggas, pakan ternak ayam, dan DOC (ayam umur sehari). “Produk kami telah tersertifikasi oleh standar yang diakui secara internasional seperti sertifikasi halal, GMP (Good Manufacturing Practice), FSSC 22000, dan NKV sehingga telah dapat masuk ke Jepang, Papua Nugini, Timor Leste, dan Qatar,” jelasnya. 
 
Sedangkan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, keberhasilan ekspor produk peternakan ke Singapura menjadi bukti bahwa produk peternakan Indonesia memiliki jaminan keamanan pangan yang berkualitas dan layak tembus di pasar internasional. Ekspor ini diharapkan dapat membuka jalan bagi produk peternakan Indonesia untuk menembus pasar ekspor negara lainnya. “Komoditas yang produksinya berlebih seperti ayam dan telur harus kita dorong agar mampu menangkap peluang seperti ekspor ini,” tegasnya. 
 
Upaya Penguatan dan Pemerataan
Tingginya harga sapronak (sarana produksi ternak) seperti bahan baku pakan, pakan, dan DOC; belum adanya verifikasi dan validasi data perunggasan nasional secara terintegrasi; serta rendahnya tingkat konsumsi protein hewani per kapita masih menjadi tantangan dalam perunggasan nasional. “Sebagai upaya penguatan dan pemerataan industri perunggasan nasional perlu stabilisasi harga daging dan telur ayam ras di tingkat peternak dan konsumen sesuai Permendag No. 7 Tahun 2020 serta stabilisasi harga pakan dan harga bakan baku pakan unggas,” jelas Musdhalifah.
 
Selain itu, lanjut Musdhalifah, perlu dilakukan upaya peningkatan produktivitas dan daya saing industri perunggasan melalui modernisasi budidaya dan rantai pasok. Juga mendorong pengembangan industri pengolahan telur seperti tepung telur, liquid egg, frozen egg sebagai bahan baku indusri pengolahan lanjut. “Perlu implementasi pengaturan tata niaga (rantai pasok) daging dan telur ayam ras untuk kepentingan peternak, pelaku pasar dan konsumen secara proporsional. Juga upaya peningkatan konsumsi daging dan telur ayam ras di tingkat masyarakat,” jelasnya.
 
 
Selengkapnya baca di Majalah TROBOS Livestock Edisi 275/Agustus 2022
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain