Senin, 1 Agustus 2022

Yudianto Yosgiarso , Komitmen dan Ketangguhan Peternak Layer

Yudianto Yosgiarso , Komitmen dan Ketangguhan Peternak Layer

Foto: Dok. Pribadi


Kondisi harga telur memang untuk sekarang ini cukup baik di tingkat peternak. Artinya, bukan harga telur yang tinggi tetapi dari sisi harga jual telur seimbang dengan harga pokok produksi (HPP) jika dibandingkan 2021 lalu. Mengingat, jika kilas balik ke 2021, harga telur terperosok jauh yang membuat tidak terjadi keseimbangan antara harga jual dengan HPP telur. Dua faktor penyebab utamanya yakni harga jagung yang relatif tinggi yang berpengaruh besar terhadap harga pakan.
 
Faktor kedua, mewabahnya Covid-19 bahkan adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) menjadikan permintaan pasar (demand) melemah karena ekonomi masyarakat juga sedang terpuruk, sedangkan pasokan telur dari peternak terus meningkat. Tentu, telur harus segera keluar dari kandang atau terjual maksimal 10 hari dikarenakan untuk mengolah telur lebih lanjut seperti pembuatan tepung telur belum bisa dilakukan karena harus ada infrastruktur yang memadai. 
 
Inilah yang menyebabkan harga telur terjungkal bahkan pernah mencapai Rp 14.000 per kg dengan harga tertinggi Rp 18.000 per kg. Adapun untuk saat ini terjadi perubahan harga telur meskipun harga pakan masih terbilang tinggi. Dikarenakan aktivitas sudah kembali normal yang memungkinkan masyarakat untuk menggelar hajatan. Hal itu berpengaruh terhadap peningkatan permintaan telur. 
 
Terjadinya perubahan harga telur seperti saat ini diharapkan akan terus berlanjut mengingat sebelumnya mengalami kerugian. Tentu, masyarakat tak perlu cemas dan khawatir, harga telur akhir-akhir ini di kisaran Rp 27.000 – 28.000 per kg bukan peternak yang sengaja untuk menaikkan namun faktor lain banyak yang berpengaruh terutama kenaikan harga pakan. 
 
Peternak layer (ayam petelur) memiliki rumus dasar atau semacam perhitungan bahwa HPP telur yang di produksi itu 3,5 kali dari harga pakan. Artinya, 1 kg telur memerlukan 3,5 kg pakan. Sehingga peternak meminta pemerintah untuk melakukan intervensi apabila harga telur tidak di bawah HPP sesuai perhitungan tersebut. Intervensi juga tidak hanya berkutat pada HPP telur tetapi pada HPP DOC (ayam umur sehari), dan pakan khususnya jagung. Dari uraian tersebut, masyarakat jangan hanya menginginkan harga telur murah namun harus melihat persoalan ini secara kompleks.
 
Persoalan Jagung
Supaya harga telur stabil, tentu pemerintah perlu memastikan ketersediaan jagung yang berlimpah bagi peternak rakyat baik yang menengah maupun mikro. Dengan kata lain, pemerintah sebagai penyangga (buffer stock) guna menyiapkan lumbung-lumbung jagung yang nantinya peternak rakyat tidak berebutan jagung dengan pedagang besar maupun perusahaan pakan (feedmill). 
 
Apabila jagung ini dilepas di pasar, maka peternak rakyat akan kewalahan untuk memperoleh jagung. Pasalnya, dari sisi pedagang besar maupun perusahaan pakan memiliki sarana dan prasarana yang lengkap seperti silo untuk menampung jagung dalam jumlah yang banyak. Adapun peternak rakyat tidak memiliki infrastruktur tersebut sehingga jika dibiarkan dan tidak ada intervensi dari pemerintah maka terjadi ketidakseimbangan dalam pertarungan memperebutkan jagung. 
 
Di lain sisi, peternak rakyat hanya bisa menerima jagung kering, jika bukan jagung kering, peternak perlu memproses lebih lanjut dengan alat sesederhana mungkin. Hal itu dikhawatirkan akan menurunkan kualitas jagung karena untuk mengeringkan jagung tidak memiliki peralatan yang mendukung. 
 
Pemerintah sebaiknya memiliki keberpihakan kepada peternak rakyat baik yang skala mikro maupun menengah agar jagung tidak dilepas di pasar. Pemerintah harus memastikan pasokan jagung tersedia bagi peternak. Jangan sampai pemerintah hanya memprioritaskan peternak skala mikro namun luput terhadap peternak skala menengah yang memasok 70 % dari produksi telur nasional. Karena keduanya telah terbukti mampu meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan melalui usaha ayam petelur ini. 
 
Dibentuknya Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang berperan untuk menyejahterakan peternak rakyat dalam bidang tata kelola pangan begitu terasa manfaatnya. Contohnya, membantu peternak dalam menghubungkan dengan petani jagung. Diharapkan Bapanas akan segera untuk membentuk lumbung-lumbung jagung dengan menugaskan Perum Bulog. Selain juga mempertegas tupoksi (tugas pokok dan fungsi) Bapanas agar tidak tumpang tindih dengan Kementerian Pertanian. 
 
Agar alokasi jagung tepat sasaran maka peternak rakyat mendirikan koperasi sebagai wadah agar tidak berjalan sendiri-sendiri alias bersatu dalam wadah ini. Melalui wadah koperasi ini  sekaligus tidak membeda-bedakan asosiasi di ayam petelur seperti Pinsar Petelur Nasional (PPN), Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN), Perhimpunan Peternak Petelur Sumatera Utara (P3SU) bahkan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia itu sendiri. Semua peternak berkomitmen untuk menyuarakan dalam satu suara lewat rumah bersama tersebut guna mendapatkan alokasi jagung melalui koperasi-koperasi agar saling bersinergi. 
 
Kesadaran Mengonsumsi Telur 
Persoalan lain yang masih menghantui dan menjadi penyebab harga telur yang berfluktuatif yakni minimnya kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi protein hewani berupa telur. Telur yang merupakan kapsul ajaib ini paling tinggi nilai biologisnya. Nilai biologis merupakan nilai yang ditetapkan pada suatu makanan berdasarkan jumlah protein yang mampu diserap di dalam tubuh serta yang tak kalah pentingnya bagi konsumen ialah faktor harga. Artinya, telur merupakan hadiah dari alam yang begitu murah serta lengkap akan kandungan gizinya utamanya asam amino esensial.
 
Pengolahan telur yang begitu praktis juga menjadi keunggulan tersendiri. Sehingga masyarakat tidak perlu ribet dalam mengolah telur. Berbagai keunggulan pada telur ini, seyogyanya menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya mengonsumsi telur minimal 2 kali dalam sehari. Di lain sisi, pemerintah yang memiliki keinginan untuk menurunkan angka stunting di Indonesia salah satunya dengan intervensi nutrisi melalui kampanye untuk mengonsumsi protein hewani berupa telur. 
 
Bahkan bagi ibu yang sedang hamil dan menyusui sangat dianjurkan mengonsumsi telur untuk perkembangan otak bagi janin dan bayinya. Sekaligus mendukung ibunya agar tetap sehat dengan meningkatkan imunitas pada tubuh. Di lapangan beberapa ibu-ibu mengalami kekurangan asupan gizi pada saat menyusui bayinya. Tentu ini yang tidak diharapkan sehingga sebaiknya kesadaran untuk mengonsumsi protein hewani di mulai sejak kecil sehingga ketika dewasa menjadi pribadi yang berkualitas. 
 
Itu artinya, dengan bisnis ayam petelur yang semakin meningkat produksinya, tentu perlu sokongan dalam hal penyerapan yang harus berbanding lurus dengan keuntungan peternak untuk sama-sama bertumbuh. Bisa dlihat di lapangan, komoditas telur tidak pernah mengalami kekurangan pasokan karena peternak terus menjamin ketersediaan kapsul ajaib ini. Selama ini belum pernah mendengar ada banyak orang yang mengantri hanya untuk mendapatkan 1 kg telur atau bahkan 1 ton telur sehingga ini menjadi wujud ketangguhan dan komitmen sebagai peternak rakyat dalam menyediakan protein hewani yang termurah berupa telur. 
 
Kolaborasi Bersama 
Harga telur yang membaik saat ini mendorong peternak untuk ramai-ramai melakukan chick in. Yang sebelumnya kandang kosong kini mulai diisi kembali. Akibatnya, peternak berebut DOC dari perusahaan breeding (pembibitan). Namun kenyataan di lapangan, peternak juga masih sulit untuk mengakses dan mendapatkan DOC. Alhasil harga DOC merangkak naik yang kemudian dimanfaatkan oleh broker atau tengkulak bahkan pernah menyentuh di angka Rp 18.000 per ekor. Parahnya lagi, meskipun harga segitu dibeli juga oleh peternak. Keterbatasan adanya DOC ini menjadi tanda tanya besar, apakah memang ketersediaan DOC terbatas ?. 
 
Peternak menginginkan supaya pemerintah mengatur HPP DOC sehingga apabila tidak sesuai dengan HPP yang telah ditetapkan akan dilakukan intervensi guna menstabilkan HPP DOC. Adapun bagi perusahaan breeding secara kontinuitas pasokan DOC perlu membantu peternak rakyat. Sayangnya terkait hal itu belum terjadi keharmonisan yang muaranya menyebabkan harga telur berfluktuatif bahkan meningkat disebabkan harga DOC dan pakan yang meroket naik. 
 
Perlu kolaborasi dan sinergitas bersama antar stakeholder di bisnis ayam petelur ini agar sama-sama tumbuh dan untung. Khususnya peternak rakyat, harus sama-sama berjuang dan memiliki jiwa yang tangguh untuk tetap memproduksi telur guna membantu pemerintah dalam menyediakan protein hewani yang murah dan bergizi. Peternak pun jangan mudah putus asa, tetap kompak dan gotong royong untuk tumbuh bersama. 
 
Sementara untuk pemerintah harus terus mengkampanyekan kepada masyarakat agar gemar makan telur. Pemerintah pun harus menjadikan telur dari para peternak rakyat sebagai komoditas untuk bansos (bantuan sosial) agar produksinya bisa terserap. Setelah peternak rakyat bisa berproduksi secara modern dan bisa memenuhi persyaratan dan prosedur yang dijembatani oleh pemerintah diharapkan ke depan produksi telur tidak hanya untuk pasar domestik tetapi juga untuk pasar ekspor. TROBOS
 
dituliskan kembali oleh zulendra erin aryaza
 
 
Ketua Dewan Presidium PPN (Pinsar Petelur Nasional) 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain