Jumat, 5 Agustus 2022

Usir Stunting dengan Telur Sehari Sebutir

Usir Stunting dengan Telur Sehari Sebutir

Foto: dok.istimewa


Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi di bawah lima tahun) akibat kurangnya asupan gizi yang diberikan. Adapun pemberian makanan bayi dan anak, terutama di 1.000 hari pertama kehidupannya sangatlah vital. Pasalnya, di 1.000 hari pertama kehidupan anak akan sangat berpengaruh dengan kualitas hidupnya saat dewasa.

 

Berbicara terkait maslaah stunting, Nutrition Specialist Unicef Indonesia, Sri Sukotjo pun angkat bicara. Pada usia 0-23 bulan yaitu pada saat anak lahir hingga usia 2 tahun, merupakan periode dimana tumbuh kembang anak melaju sangat pesat. Kapasitas otaknya biasanya 75 % ukuran otak dewasa, sehingga pada saat usia balita memang otak akan mencapai ukuran yang maksimum.

 

“Kemudian lebih dari 1 juta koneksi saraf dibentuk setiap detik dan ini sangat terkait dengan bagaimana gizi yang diberikan pada anak-anak kita. Berat badannya pun bisa meningkat 4 kali lipat pada usia 0-23 bulan, dan tinggi badan anak meningkat hingga 75 %,” terang wanita yang karib disapa Nining ini secara gamblang.

 

Kurangnya gizi pada awal kehidupan anak tidak hanya mengakibatkan stunting, tetapi yang juga  sangat penting adalah menghambat kecerdasan, memicu penyakit dan menurunkan produktivitas saat dia dewasa. Indonesia di tahun-tahun mendatang akan dihadapkan dengan persaingan global dari berbagai negara, dan bagaimana SDM (sumber daya manusia) menjadi suatu hal yang penting sebagai aset bangsa.

 

Rekomendasi PMBA

Rekomendasi global dan juga Indonesia yaitu dari Kemenkes (Kementerian Kesehatan), guna memenuhi strandar emas PMBA (pemberian makan bayi dan anak) ialah di usia 0-24 bulan ada IMD (inisiasi menyusu dini). Anak-anak harus dipastikan mendapat haknya untuk mendapatkan ASI pertama atau kolostrum untuk tumbuh kembang yang terbaik di masa mendatang. Pun menyusu dini dapat menurunkan risiko kematian sebesar 22 %.

 

Lebih lanjut, pasca IMD kemudian diteruskan dengan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama. Setelah itu dilanjutkan dengan pemberian MPASI berkualitas, terutama pada bayi usia 6 bulan.

 

“Kita harus pastikan anak-anak kita bisa terus mendapatkan ASI. Ibu terus menyusui anaknya sampai berusia 2 tahun atau lebih, dengan MPASI yang tepat dan berkualitas,” imbuh dia.

 

Rekomendasi berikutnya ialah dengan memberikan anak protein hewani di usia 6-23 bulan, dan diimbangi dengan buah dan sayur sesuai dengan usia anak tersebut. Kemudian perlu dipastikan juga protein hewani itu memiliki densitas tinggi seperti telur dan daging.

 

Mengutip hasil riset di luar negeri, dengan 1 hari 1 telur itu bisa mencegah stunting. Terpenting lagi adalah anak mendapatkan keanekaragaman pangan dan minimal bisa mendapatkan 5 dari 8 kelompok pangan.

 

“Berdasarkan survey-survey mengenai rekomendasi PMBA baik nasional maupun global, yakni asi, kemudian biji-bijian, akar dan umbi-umbian, kacang-kacangan, turunan susu seperti yogurt dan keju, protein hewani seperti ikan, ayam, hati, telur, susu, buah dan sayur yang mengandung vitamin A, serta buah dan sayur-mayur,” sebut Nining secara berurutan.

 

Ia pun mengimbau untuk meberikan vitamin dan suplemen pada anak yang mengalami kekurangan gizi. Hal ini guna meningkatkan kandungan gizi di dalam makanan yang didhidangkan. Nining juga menegaskan untuk menghindari pemberian makanan dengan nilai gizi rendah.

 

Terakhir adalah menghindari penambahan gula, garam dan lemak (ultra processed food) dalam makanan atau minum-minuman berpemanis.ed/bella

 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain