Selasa, 16 Agustus 2022

Model Budidaya Sapi Potong

Model Budidaya Sapi Potong

Foto: dok.istimewa


Tanah Laut (TROBOSLIVESTOCK.COM). Potensi pengembangan sapi potong di Indonesia masih cukup besar. Pasalnya masih banyak lahan marjinal yang belum banyak dimanfaatkan. Terlebih kini peternak didominasi oleh peternak tua, oleh sebab itu sudah saatnya peternak muda bergerak di budidaya sapi potong.

 

Hal tersebut diungkapkan Senior Technical Advisor PT CAP, Esnawan Budisantoso yang menceritakan pengalamannya selama berkecimpung di bidang ini. “Kita tahu potensi pembiakan sapi di Indonesia masih sangat terbuka luas. Makin tinggi tingkat ekonomi atau pendapatan masyarakat, makin tinggi pula konsumsi protein dagingnya terutama dari ikan, ayam dan daging sapi,” tutur dia.

 

Namun demikian, kebutuhan daging sapi di Indonesia sebagaian besar masih diimpor dari Australia yaitu ada sekitar 500 ribu – 650 ribu ekor sapi per tahun. Menurut Esnawan, lahan marjinal di Indonesia seperti di Kalimantan Timur masih cukup luas mencapai 320 ribu Ha. Kemudian di Kalimantan Selatan juga masih banyak lahan-lahan eks tambang yang dapat dimanfaatkan, serta NTT (Nusa Tenggara Timur), NTB (Nusa Tenggara Barat) dan Sulawesi.

 

Sektor pertanian memberikan kesempatan kerja yang masih menjanjikan, dimana saat ini tersedia 40 juta kesempatan kerja. BPSDM (Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia)  menargetkan ada 2,5 juta petani milenial yang akan bergerak di sektor pertanian ini.

 

“Kita juga lihat bahwa di masa pandemi Covid-19 (coronavirus disease 2019), sektor pertanian menunjukkan ada potensi pertumbuhan dibandingkan sektor-sektor lainnya. Itu menunjukkan bahwa sektor pertanian masih memberikan potensi yang besar untuk kesempatan kerja di sana,” terang Esnawan.

 

Model Budidaya

Berdasarkan penjabaran dari Esnawan, model budidaya sapi potong di Indonesia terbagi menajdi tiga, yaitu cut and carry, integrasi sapi sawit, dan penggembalaan di lahan terbuka atau pastura (open grazing). Model cut and carry yaitu dikandangkan sepanjang waktu, kemudian pakannya diambil dengan dipotong kemudian dibawa ke kandang.

 

“Model kedua adalah intregrasi sapi sawit atau model Siska (sistem integrasi sapi dan kelapa sawit), dimana sapi dilepas dan digembalakan di bawah perkebunan kelapa sawit. Berikutnya adalah penggembalaan di lahan terbuka, yang fokus dibicarakan saat ini,” imbuhnya.

 

Sisem produksi penggembalaan di lahan terbuka, Esnawan melanjutkan, itu komponennya adalah satu lahan grazing, berapa luas lahan grazing yang tersedia untuk usaha ini. Ia mengimbau supaya peternak harus menghitung kapasitas tampung dari lahan ini, jangan sampai sapinya terlalu banyak sehingga dapat mengakibatkan overgrazing. Kemudian jangan sampai pakannya tidak tersedia, sehingga biaya membengkak karena harus mendatangkan hijauan atau pakan dari luar.

 

Ia menuturkan bahwa umumnya lahan grazing tersebut yang tersedia saat ini di masyarakat adalah pastura alam, dimana produktivitasnya masih rendah dan ini merupakan suatu tantangan bagaimana cara mengembangkannya ke depan.

 

“Caranya yaitu dengan introduksi jenis hijauan-hijauan yang lebih produktif. Kemudian infrastruktur, kita tahu bahwa kita masih memerlukan infrastruktur kandang dimana cattle yard ketika sapinya rotasi grazing kemudian 3 bulan kemudian sapi masuk kandang guna diperiksa kebuntingan, kesehatan dan lain-lain,” bubuh Esnawan.ue/bella

 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain