Kamis, 1 September 2022

Harga Ayam Lesu, Telur Meroket

Harga Ayam Lesu, Telur Meroket

Foto: 


Memasuki September 2022, harga ayam hidup (live bird/LB) ayam pedaging (broiler) di tingkat peternak terpantau masih berada di bawah harga pokok produski (HPP). Seperti yang dialami oleh peternak broiler di Bogor, Jawa Barat, Setya Winarno yang mengatakan bahwa harga LB pada Minggu (21/8) sebesar Rp 20.500 per kilogram (kg). 
 
Adapun rata-rata harga LB sepanjang Agustus berada di angka Rp 19.500 per kg dengan HPP LB sendiri sebesar 21.000 per kg. “Jika dibandingkan dengan Juli lalu, harga LB saat ini tidak lebih baik. Harga LB pada Juli lalu yaitu rata-rata sebesar Rp 20.800 per kg,” keluh pria yang karib disapa Winarno ini pada Redaksi TROBOS Livestock.
 
Ia pun tidak menampik bahwa memang pada Agustus ini harga LB mengalami gejolak. Menurutnya, gejolak harga LB tersebut disebabkan masalah supply dan demand. Sementara itu, harga DOC/day old chick (ayam umur sehari) per (21/8) yakni seharga Rp 5.600 per ekor.
 
“Harga pakan jadi (pabrikan) saat ini adalah sebesar Rp 8.200 – 8.800 per kg. Untuk prediksi harga LB pada September mendatang, sepertinya akan mengarah ke harga pada Juli kemarin. Harapan saya untuk harga LB ke depannya ialah harus lebih baik, minimal mencapai Rp 22.000 per kg,” harap dia.
 
Winarno pun tak lupa mengimbau kepada para perusahaan raksasa pembudidaya broiler, terutama perusahaan terintegrasi, untuk mengendalikan chick in-nya. Hal ini lantaran supaya peternak mandiri dapat bernapas.
 
Berbeda dengan peternak broiler di Banda Aceh, Rikky Handoko yang melaporkan bahwa harga LB pada Minggu (21/8) sebesar Rp 19.500 per kg. Sedangkan HPP di tingkat peternak adalah Rp 19.000 per kg. “Harga LB bulan ini (Agustus) relatif tidak jauh berbeda, jika dibandingkan dengan harga LB pada bulan lalu (Juli),” katanya.
 
Rikky mengaku tidak memiliki data yang lengkap terkait harga DOC dan pakan komersil, sebab beternak dengan sistem kemitraan. Lebih lanjut ia menerangkan bahwa peningkatan harga LB di Aceh memang terjadi di pertengahan pekan kedua Agustus. Hal tersebut disinyalir karena mulai kondusifnya stok ayam besar di wilayah Aceh dan sekitarnya.
 
“Dengan habisnya stok ayam besar, perlahan harga LB di wilayah Aceh bisa merangkak naik. Sementara untuk harga LB pada September, kelihatannya belum banyak berbeda dari harga saat ini. Harga LB akan sangat tergantung dari banyak atau tidaknya stok ayam besar di wilayah Aceh dan sekitarnya,” jelas dia.
Pun permintaan pasar, Rikky menyambung, diprediksi belum akan menguat di September. Pasalnya perayaan Maulid Nabi yang biasanya menjadi pemicu meningkatnya permintaan pasar akan daging ayam, baru akan berlangsung di awal Oktober mendatang.
 
“Harapan saya semoga harga jual LB broiler ke depannya bisa lebih stabil di angka yang tidak menjadikan peternak merugi. Namun juga tidak terlalu tinggi untuk masyarakat, sehingga permintaan pasar juga bisa lebih stabil,” pinta Rikky. 
 
Hal yang sama dengan Winarno pun dirasakan oleh peternak broiler sekaligus layer (ayam petelur) di Malang, Jawa Timur, Kholiq yang menyatakan bahwa harga LB per (21/8) mencapai Rp 20.000 per kg. Sedangkan HPP-nya berada di posisi Rp 20.500 per kg. 
Bertolak belakang dengan Agustus, harga LB pada Juli di Malang dilaporkan bertengger di angka Rp 22.700 per kg. “Rata-rata harga LB sepanjang Agustus hanya Rp 17.000 per kg. Harga LB ini turun sangat drastis,” sesalnya.
 
Menurut Kholiq, harga LB pada Agustus turun drastis disebabkan karena tidak adanya momen keagamaan, dan justru populasi broiler naik sebesar 5 %. Harga DOC dan pakan jadi sendiri secara berturut-turut sebesar Rp 7.300 per ekor dan Rp 8.700 per kg.
 
“Prediksi harga LB pada September mendatang rata-rata bisa di posisi Rp 19.000 per kg, selama perusahaan terintegrasi mau menjaga populasinya. Peternak berharap harga LB minimal bisa Rp 21.000 per kg dan harga DOC menjadi Rp 6.000 per ekor,” sebut dia. 
 
 
 

 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain