Kamis, 1 September 2022

Geliat Pembibitan Ayam Persilangan di Lampung

Geliat Pembibitan Ayam Persilangan di Lampung

Foto: Dok. Syafnijal Datuk/Lampung


Sedang mengembangkan magot sebagai sumber protein guna menggantikan protein dari pakan pabrikan
 
Jika selama ini, untuk memenuhi kebutuhan peternak ayam lokal di Lampung, DOC (ayam umur sehari) dipasok dari Jawa Barat dan Jawa Tengah, kini mulai muncul peternak di Lampung yang melakukan breeding. Adalah Heru Febriyantono di Kelurahan Pringsewu Barat, Kecamatan Pringsewu, Kabupaten Pringsewu, Lampung yang membuka breeding DOC ayam persilangan. Awalnya sarjana peternakan dari Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Unila tahun 2019 ini bekerja di perusahan terintegrasi unggas di Palembang, namun tidak bertahan lama.
 
Selanjutnya di akhir 2020, ia mulai membuka usaha pembesaran ayam KUB pedaging hingga tiga periode yang dibarengi juga dengan breeding-nya. Namun, baik penjualan DOC maupun ayam pedaging tidak begitu lancar mengingat saat itu sedang pandemi Covid-19 di mana rumah makan/restoran/warung tenda tutup, perkantoran bekerja online, demikian pula sekolah-sekolah.
 
Lalu Heru memutar otak guna mencari peluang usaha lainnya, namun masih terkait dengan ayam yang disenanginya. Apalagi, ia sudah terlanjur keluar bekerja dari perusahaan, sementara usaha yang baru dibuka tidak begitu lancar akibat pandemi Covid-19. Setelah melakukan searching di mesin pencari Google dan mencari tahu ke sana sini, akhirnya ia menemukan peluang yakni breeding ayam persilangan yang mulai berkembang di Jawa Tengah. “Mudah-mudahan peternak petelur ayam lokal di Lampung yang selama ini memesan DOC ke Jawa Barat dan Jawa Tengah masih banyak yang bertahan mengingat telur ayam lokal banyak dibutuhkan untuk mencegah seseorang terkena Covid,” pikir Heru saat itu.
 
Dijelaskannya, ayam persilangan yang saat ini dipelihara mempunyai beberapa keunggulan, antara lain: usia 4,5 - 5 bulan sudah mulai belajar bertelur, tidak mengerami telurnya, mampu bertelur hingga 300 butir per tahun selama 2 tahun dan persentase produksi mencapai 85 persen. Ukuran telur pun lebih besar dari telur ayam biasa.
 
Kebutuhan pakannya juga sedikit hanya 70 gram per ekor per hari sehingga sangat hemat secara ekonomi. Sedangkan ayam buras atau arab masing-masing 80-90 gram biaya pakan setiap hari per ekor. Bahkan tingkat stres ayam persilangan ini lebih rendah dibandingkan dengan jenis ayam lokal lainnya, meski tidak bisa jinak. Dan daya tahan tubuhnya terhadap penyakit juga lebih baik.
 
Ayam persilangan ini mempunyai ciri tersendiri, yaitu rata-rata berat badan dewasa hanya 1,1 kg untuk betina dan 1,3 kg pejantan. Bentuk badan tidak bulat atau mbotol dalam istilah Jawa yakni ramping. 
 
Ciri khas lainnya ialah keberagaman bulu dengan warna coklat muda, putih, coklat tua dan kuning keemasan. Hampir semua ayam ini memiliki cakar dan paruh berwarna kuning layaknya ras lokal asli dan ditandai dengan cakar yang tidak berbulu atau simbar.
 
Pada Agustus 2021, ia membeli 40 ekor pullet (calon indukan) ayam persilangan dari Jawa Tengah. Misinya, selain ingin melanjutkan peternakan ayam dan memang sudah dilakoninya sejak SMP, juga ingin membantu peternak ayam lokal petelur di sekitar tempat tinggalnya dalam mendapatkan DOC sesuai kebutuhan. Sebab jika order ke perusahaan DOC ayam lokaldi Bogor, Sukabumi, Jawa Barat atau Jateng jumlahnya minimal satu boks, sementara kebutuhan tidak seberapa dan modal juga terbatas. Lalu, dengan memelihara ayam persilangan ini, peternak kecil bisa lebih berhemat karena biaya pakannya lebih sedikit, sementara produksi telurnya lebih banyak. 
 
 
Selengkapnya baca di Majalah TROBOS Livestock Edisi 276/Seprtember 2022

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain