Kamis, 1 September 2022

Diky Ramdani, Serbuk Teh Hijau untuk Performa Domba

Diky Ramdani, Serbuk Teh Hijau untuk Performa Domba

Foto: 


Berpotensi menjadi suplemen pakan alami sebagai sumber protein, serat, mineral, dan polifenol serta dapat dijadikan sebagai alternatif pengganti AGP 
 
Para nutrisionis ternak ruminansia ditantang untuk membuat formulasi pakan yang tidak hanya meningkatkan produksi ternaknya secara kompetitif tetapi juga menghasilkan produk ternak yang sehat untuk konsumen dan bersahabat dengan lingkungan. Suplementasi serbuk teh hijau dalam ransum ruminansia berpotensi membantu menjawab tantangan tersebut. 
 
Teh hijau mengandung bahan kering (93,7 %), abu (6.18 %), protein (24,0 %), lemak (2,08 %), energi metabolis (7,08 MJ/kg), NDF (25,4 %), ADF (21,1 %), Ca (0,64%), P (0,24 %), total fenol (23,1 %), dan total tannin (20,4 %) (Ramdani, dkk., 2022). Hasil analisa menggunakan High Performance Liquid Chromatography (HPLC) pada teh hijau, terdapat sedikitnya 15 jenis senyawa aktif dalam teh hijau (Ilustrasi 1).
 
Ilustrasi 1 menggambarkan kandungan senyawa aktif pada teh hijau meliputi theobromine (0,26 %); gallocatechin (0,49 %); epigallocatechin (2,24 %); catechin (0,13 %); caffeine (2,89 %); epicatechin (0,21 %); epigallocatechin gallate (9,46 %); dan gallocatechin gallate (0,12 %). Juga mengandung epicatechin gallate (2,55 %); catechin gallate (0,31 %); rutin (0,21 %); theaflavin (0,03 %); theaflavin-3-gallate (0,02 %); theaflavin-3’-gallate (0,03 %); dan theaflavin-3,3’-digallate (0,04 %). 
 
Teh hijau berpotensi menjadi suplemen pakan alami sebagai sumber protein, serat, mineral, dan senyawa aktif tanaman terutama polifenol. Secara umum, polifenol dapat memodifikasi fermentasi rumen seperti menurunkan produksi amonia (NH3) tetapi meningkatkan by-pass protein, menurunkan produksi gas metana (CH4), meningkatkan kesehatan dan vitalitas ternak, dan meningkatkan kualitas daging. Polifenol dapat mengurangi endoparasit cacing pada domba dengan cara mengikat protein bebas di dalam inang yang dapat digunakan oleh larva endoparasit sebagai sumber nutrisi sehingga berkurangnya ketersediaan nutrisi ini dapat mengakibatkan larva mengalami kelaparan bahkan kematian (Julaeha dkk., 2021).
 
Studi In Vivo 
Teh hijau merupakan produk utama dari pabrik pengolahan daun teh yang harganya relatif mahal untuk ternak. Sedangkan serbuk teh hijau atau green tea dust merupakan hasil ikutan pembuatan teh hijau yang harganya lebih murah karena dikategorikan sebagai non-grade. 
 
Serbuk teh hijau mengandung bahan kering (98,1 %), abu (16,7 %), protein (20,1 %), serat kasar (17,2 %), lemak kasar (2,53 %), TDN (63,0 %), Ca (0,56 %), P (0,55 %), total fenol (25,6 %), dan total tannin (23,0 %) (Ramdani dkk., 2020). Sama dengan teh hijau orisinal, serbuk teh hijau berpotensi menjadi suplemen pakan alami sebagai sumber protein, serat, mineral, dan polifenol. 
 
Tabel 1 menunjukan hasil penelitian mengenai pengaruh berbagai dosis suplementasi serbuk teh hijau terhadap performa dan kecernaan nutrisi pada penggemukan domba yang diberikan konsentrat (70 %) dan jerami padi kering (30 %). Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi serbuk teh hijau 1,5 % (STH 1,5 %) dalam konsentrat dapat memicu produksi domba yang ditandai oleh kenaikan pertambahan bobot badan harian yang signifikan dibandingkan dengan domba yang tidak diberikan serbuk teh hijau (STH 0 %, kontrol) tanpa mengganggu konsumsi bahak kering dan kecernaan nutrisi. Adapun, pengaruh suplementasi serbuk teh hijau terhadap penurunan produksi gas metana dalam rumen, penurunan infestasi endoparasit cacing, dan peningkatan kualitas karkas ternak ruminansia diperlukan penelitian lebih lanjut. 
 
Dapat disimpulkan bahwa serbuk teh hijau merupakan pakan suplemen alami yang kaya akan protein, serat, mineral, dan polifenol yang dapat memicu produksi domba. Rekomendasi dosis suplementasi serbuk teh hijau adalah 1,5 % di dalam konsentrat. Serbuk teh hijau dapat dijadikan alternatif pakan suplemen untuk menggantikan antibiotic growth promoters (AGP) yang telah dilarang di Uni Eropa sejak 2003 (Peraturan EC No. 1831/2003) dan di Indonesia sejak 2017 sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian RI, No. 14 Tahun 2017. TROBOS
 
*Dosen dan Peneliti Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain