Senin, 26 September 2022

Enzim BS4 dari Kapang Bungkil Kelapa Tingkatkan Kecernaan Pakan Unggas

Enzim BS4 dari Kapang Bungkil Kelapa Tingkatkan Kecernaan Pakan Unggas

Foto: dok.istimewa


Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Enzim BS4 merupakan enzim yang dihasilkan dengan pembiakan Eupenicilium javanicum, sejenis kapang pada substrat bungkil kelapa. Dapat diisolasi pula pada biji sawit sejak 1994 silam.

 

Peneliti Utama di Balai Penelitian Ternak (Balitnak) - Arnold Parlindungan Sinurat menyatakan Eupenicilium javanicum awalnya dimaksudkan untuk meningkatkan kecenaan gizi produk ikutan industri sawit, tetapi penerapannya bukan hanya untuk ikutan produksi sawit.

 

“Enzim BS4 ini utamanya adalah mengandung beta mananase, di mana ini dominan berada di dalam enzim BS4. Tapi ada juga selulase, beta manosidase dan alfa galaktosidase. Aktivitas sakarifikasi dari enzim, sakarifikasi sendiri artinya pemecah serat pembentuk gula sederhana atau glukosa, yaitu 15 unit (U) per gram dalam bentuk tepung, tapi dalam bentuk cair bisa 2 kali lipatnya,” sebut dia.

 

Lebih lanjut, Arnold memaparkan terkait teknologi produksi dari enzim BS4 ini. Teknologi produksi BS4 pada prinsipnya sama dengan melakukan prinsip fermentasi di dalam tabung bioreaktor. Lingkungan di dalam reaktor atau di dalam ruang fermentasi itu dapat diatur untuk mencapai kondisi optimum.

 

“Misalnya suhu, kelembaban, oksigen, karbondioksida dan sebagainya guna menunjang pertumbuhan mikroorganisme. Jika kita melakukan fermentasi cair atau submerge, tentu pH juga sangat menentukan pertumbuhan mikroorganisme dan hasil enzim yang akan kita peroleh,” terang Arnold.

 

Adapun alur produksi dan peralatan yang dibutuhkan untuk memproduksi enzim BS4 dengan sistem solid state fermentation di Balai Penelitian Ternak terdiri dari 8 tahapan. Mulai dari produksi sampai ke kontrol kualitas (quality control).

 

Larutan hasil fermentasi dalam bioreaktor dipekatkan guna mendapatkan enzim. Caranya dengan menambahkan amonium sulfat pada perbandingan tertentu. Selanjutnya disentrifugasi, baru setelah itu didapatkan enzim cair. Enzim cair ini sudah siap untuk digunakan ternak. 

 

Jika ingin membuat enzim dalam bentuk tepung, tentu akan ada pembuatan berikutnya yaitu dibutuhkan mixer, oven dan bahan pengikat. “Enzim dengan jumlah yang sangat sedikit perlu ditambahkan bahan pengikat. Tentunya kita akan mendapatkan enzim dalam bentuk padat yang siap untuk digunakan,” bebernya.

 

Tahapan berikutnya tentu quality control di laboratorium, yaitu berfungsi untuk mengukur bagaimana aktivitas enzim tersebut apakah sudah sesuai dengan yang diharapkan. Proses ini nanti harus stabil, jika misalnya ada yang tidak sesuai mungkin ada proses dilusi dan lain sebaginya. Lalu tahapan yang kedelapan adalah proses packaging dan pelabelan. Tenat bahannya sudah siap untuk dibungkus dan diperlukan juga timbangan.

 

“Saya sengaja mengemukakan ini karena saya harap juga sebenarnya ada perusahaan-perusahaan yang tertarik untuk mengembangkan dan memproduksi enzim ini. Sebab saya lihat sejauh ini sudah beredar enzim yang digunakan oleh pabrik-pabrik pakan ternak maupaun peternak, yang hampir semua adalah enzim yang diimpor dari luar negeri, sehingga kita gunakan devisa kita untuk impor enzim,” ungkap Arnold menyayangkan.

 

Peningkatan Kecernaan

Bagaimana khasiat enzim BS4 untuk meningkatkan kecernaan gizi bahan pakan atau pakan? Arnold mengaku bahwa telah menguji beberapa kali, salah satu contohnya ialah dengan menambahkan BS4 pada solid sawit.

 

Jika diukur ME (metabolisme energi) dari solid sawit ini hanya 2.400 kilo kalori (kkal) per kilogram (kg). Namun jika ditambahkan enzim ini di awal sebanyak 10 mililiter (ml) maupun 20 ml, optimum kurang dari 20 ml, ME-nya meningkat menjadi 2.740 kkal per kg.

 

Ia pun kemudian membandingkan dengan enzim komersial mananase. “Kenapa dibandingkan dengan mananase? Karena kita tahu di solid sawit atau hasil ikutan sawit ini kandungan yang paling dominan adalah manan, sehingga teorinya mananase harus efektif guna memecah manan guna membentuk gula sedehrana dan meningkatkan ME dari bahan pakan. Kendati demikian, jika dilihat dengan menggunakan mananase itu hasilnya sama dengan enzim BS4, yaitu jika kita gunakan 20 ml itu peningkatan ME-nya sama dengan menggunakan enzim komersil,” papar dia.

 

Pun Arnold mengungkapkan, teknologi enzim pemecah serat telah dikembangkan di Balitbangtan (Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian) oleh Balitnak. Namun demikian, masih perlu kerja sama untuk bagaimana supaya ini bisa dikomersilkan dan diproduksi secara industri. Selain itu, enzim produksi Balitnak memiliki khasiat yang dapat meningkatkan kercernaan gizi, bahan pakan dan haislnya tidak berbeda dengan enzim komersial yang biasanya diimpor.

 

“Enzim produksi Balitnak memiliki khasiat yang sama, bahkan lebih baik dalam memperbaiki performa unggas terutama FCR-nya (feed convertion ratio) bila dibandingkan dengan hasil enzim pada umumnya. Adapun pengujian di peternakan broiler (ayam pedaging) maupun layer (ayam petelur) menunjukkan bahwa khasiat enzim BS4 tidak berbeda dengan khasiat enzim komersil yang beredar,” tutup Arnold.ed/bella

 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain